Thomas dan Gally pergi. Mereka telah merundingkan sematang-matangnya rencana mereka. Pun Thomas setuju. Maka dari itu, tanpa membuang banyak waktu lagi mereka langsung berangkat menyelinap ke markas WICKED. Mereka sudah memantau dan menunggu saat yang tepat. Ketika Teresa hendak menyebrang jalan, Thomas muncul di hadapan gadis itu dan pergi begitu saja ketika sebuah truk melintas. Teresa yang yakin akan penglihatannya memutuskan untuk mengejar Thomas. Saat itulah rencana mereka berjalan. Rencana terbaik mereka untuk menerobos masuk menyelamatkan Minho.
Lain dengan situasi Thomas dan Gally, semuanya tetap berkumpul di markas Lawrence. Semuanya sibuk. Newt banyak menghabiskan waktu bersama gadisnya. Jane yang bosan ditinggal Gally memutuskan untuk tidur, istirahat. Pandora juga menyibukkan diri dengan mengutak-atik barang-barang unik milik Jorge. Hanya satu orang yang diam di pojokkan, tenggelam akan pikirannya sendiri. Andrienne. Beberapa kali, dilepasnya napas berat oleh gadis itu. Sesuatu nampaknya tengah mengganggunya hingga berulang kali Andrienne mengusap wajahnya. Tidak ada yang menyadari bahwa kalutnya itu disebabkan oleh insan bernama Thomas.
Andrienne akan meluruskan ini semua. Dia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya sendirian. Terlebih sikap yang Thomas tunjukkan ketika mereka membicarakan Teresa. Setelah Thomas kembali, ia akan mengajak cowok itu bicara. Andrienne akan mengakui semuanya, biarpun resiko besar harus ia tanggung. Apa pun untuk membuatnya bisa lepas dari jeratan perasaan ini.
***
Ava Paige duduk sendirian di kantor miliknya, menghadap lautan cahaya yang berasal dari gedung-gedung di sekitarnya. Janson masuk, mendekati Ava. Wanita itu sadar. Maka, ia bicara. "Mengesankan, bukan? Temboknya. Sungguh mengagumkan melihat apa yang bisa dilakukan manusia saat nyawa mereka dipertaruhkan. Peras mereka, dan tidak ada yang tak bisa mereka lakukan. Tak ada batas yang tidak bisa mereka dobrak." Dia beralih menatap Janson yang tersenyum miring.
"Sifatnya sedikit mengendur. Kita sudah terbiasa mengalami ini," ucap Janson sedikit mencemooh.
Ava menghela napas panjang. Dia menjeda sebentar sebelum menjawab ucapan Janson. "Tidak kali ini. Virus itu menyebar lewat udara. Virus itu sudah ada di dalam tembok ini. Serum itu adalah kesempatan terakhir kita. Setiap orang yang belum terinfeksi, akan terkena dalam waktu sebulan." Ava berucap kalem, terus menatap pemandangan di depannya. Janson mengepalkan tangannya, berusaha menjaga nada bicaranya.
"Baiklah. Kita bisa mengatasinya. Kita evakuasi anggota inti, bawa mereka jauh ke Utara. Kita masih punya dua puluh delapan anak kebal lainnya di sini. Kita bisa menemukan lainnya," kata Janson rendah. Dia menatap Ava dengan selintas kebengisan di matanya. Ava tersenyum, menatap pria itu.
"Sudah kau lakukan. Kau memburu semuanya sampai tidak ada yang tersisa. Meski semua yang telah kita lakukan, semua siksaan yang kita berikan, setidaknya kita memberi mereka semua kemampuan bertahan hidup. Mungkin mereka akan berhasil saat kita gagal," kata Ava sembari bangkit dari duduknya. Dia hendak berjalan ke pintu, namun langkahnya terhenti kala Janson berdiri di hadapannya.
"Kau bilang bahwa kau menyerah? Setelah ini semua?" Janson menatap Ava tidak percaya.
Ava menatap Janson tanpa ekspresi. "Ini bukan soal menyerah, Janson. Ini soal menyadari bahwa kau sudah kalah." Lalu, Ava pergi dari sana begitu saja, meninggalkan Janson yang geram sendirian. Lelaki itu mengepalkan tangannya kuat hingga urat-uratnya timbul, menatap nyalang bekas pintu yang barusan Ava lewati.
***
Beberapa jam kemudian, Thomas dan Gally kembali membawa Teresa yang disandera. Sejak tadi kepalanya ditutupi sesuatu oleh Gally agar Teresa tidak bisa menghafal rute tujuan mereka. Tangannya diikat di belakang punggungnya dan terus dijaga oleh Gally supaya tidak kabur-kaburan. Newt mendekat, melepas tudung yang menutupi kepala Teresa seluruhnya. Gadis itu terkejut, menatap sekeliling. Lalu, pandangannya terkunci pada satu lelaki di hadapannya. Thomas. Newt lalu duduk di sebelah Thomas.
Beberapa saat kemudian, laki-laki berambut blonde itu merasakan kehadiran seseorang. Dia menoleh, melihat Asteria berada di sampingnya dan ikut menyaksikan hal ini. Ketiga lainnya, Jane, Andrienne, dan Pandora, enggan. Mereka menonton dari jauh. Mereka tidak mau berada di dekat seorang pengkhianat. Spontan, tangan Newt merangkul pinggang Asteria yang melekat karet celana pendek sepaha yang ia kenakan. Teresa tiba-tiba berucap heran, "Gally?"
"Kami akan menayaimu, dan kau jawab sesuai kenyataan. Kita mulai dari yang mudah. Di mana Minho?" Gally bergerak menarik sebuah kursi kasar.
Teresa mengalihkan pandangannya ke Thomas. "Kalian tak serius ingin—"
Gally membanting kursi di depannya, memotong ucapan Teresa. Dia menatap Teresa separuh jengkel separuh marah. "Don't look at him. Why you looking at him? Look at me. He's not gonna help you." Teresa mengerling Thomas sejenak, menyadari laki-laki itu tidak berbuat apa-apa selain diam saja. Dia mengehela napas sambil menunduk. Gally melanjutkan tanpa peduli, "Di mana kau menahannya?"
"Dia bersama tahanan lainnya. Lantai basemen tiga." Teresa akhirnya mengangkat wajah, menjawab pertanyaan Gally pelan. "Dengar, kalian tidak akan bisa masuk ke sana. Gedung itu dijaga ketat semua lantai. Kalian harus memiliki sidik jari tanda pengenal. Lagi pula, kalian tetap tidak akan bisa masuk ke sana—"
"Itu sebabnya kau bersama kami." Gally memotong lagi. Dia bangkit kasar dari kursinya, mendorongnya menjauh, lalu mengambil sebuah pisau. Thomas berdecak, mencegah Gally yang hendak mendekati Teresa.
"Back off, Gally. It's not our plan." Thomas berucap datar. Gally terpaksa menurut. Thomas mengambil alih pisau Gally, lalu mendekat dan berjongkok di sebelah Teresa. Andrienne membuang mukanya dari jauh. Dia mencoba tidak terdistraksi oleh pemandangan ini. Tidak ada yang menyadari gundah yang disembunyikan Andrienne. Atau, kecuali satu orang. Dapat dilihat, Asteria menatap Newt khawatir. Gadis itu mampu menebak apa yang terjadi selanjutnya.
Maka, selagi Teresa akan mengeluarkan penanda yang tertanam di dalam tubuh Thomas, Asteria mengajak Newt bicara. Dia menarik Newt ke sebuah ruangan kecil yang hanya ada mereka berdua. "Newt ...," Asteria memulai. Dia resah dan khawatir akan kondisi Newt. Meskipun belum mengucapkan satu patah kata apa pun, Newt tersenyum. Ternyata dia menyadari apa yang akan gadisnya coba katakan. Dia menangkup pipi Asteria lembut. Perempuan itu sudah berkaca-kaca.
"Ash ... I'm okay. Everything will be fine. Don't worry, okay?" Newt berucap teramat lembut, tidak mau membuat Asteria menangis. Perempuan itu jadi cemberut.
"Aku tidak ingin kau kenapa-napa, Newt ... tetaplah di sini, biarkan yang lain melakukannya," kata Asteria pelan. Nyatanya, Newt hanya tersenyum. Dia membawa Asteria ke dalam pelukan hangatnya. Asteria mendekap erat pemuda itu dan menikmati setiap detik yang mereka habiskan. Newt semakin mengeratkan rengkuhan mereka. Beberapa saat kemudian, pemuda itu melepaskan diri dengan lembut.
Asteria tidak lelah mencoba. "Newt ... stay with me, please. Just stay with me and don't go anywhere. That's more than enough."
Newt menggeleng pelan. "I can't, Ash. You know I can't do it. Trust me, I'll be fine. After we take Minho back, I promise I'll be back for you. Ya, Ash? I love you." Newt menggenggam jemari gadisnya. Asteria menahan diri untuk tidak menangis. Dia mengangguk pelan, lalu memeluk kekasihnya erat sekali lagi. Keputusannya sudah bulat. Dia tidak akan membiarkan Newt maju sendiri. Dia akan ikut terjun ke medan pertempuran. Meski ... dia tau skenario terburuk yang mungkin akan terjadi di sana. Asteria akan melakukan apa pun, apa pun, untuk tetap bersama Newt.
pendek dulu juseyo ... lagi mumet sama uprak dan ujian sekolah 😭😭
KAMU SEDANG MEMBACA
TMR: HOLD ME TIGHT
Fanfiction"Newt, you know I can't fashion a life without you in it. Please, please stay with me." Asteria Seraphine namanya. Seorang gadis kedua yang berakhir di Glade tanpa tahu apa-apa. Sisa hidupnya terpaksa dihabiskan untuk menghindari kejaran para ilmuwa...
