BAB 33: Everything Goes Bad

392 43 38
                                        

Thomas sudah menyelesaikan urusannya dengan Teresa. Mereka kini bersiap-siap. Hanya soal waktu kapan mereka akan pergi menyerbu markas WICKED. Semua orang sudah ditentukan bagiannya masing-masing. Rencananya adalah Thomas, Newt, Gally, Asteria, dan Pandora akan memakai seragam tentara WICKED dan menggunakan Teresa sebagai akses masuk. Dalam hal ini, Teresa dilarang memberi kode kepada orang lain yang bisa menimbulkan kecurigaan. Tujuannya hanya untuk membebaskan Minho dan anak-anak malang lainnya yang ditahan.

Di sinilah peran Brenda, Jane, dan Andrienne dibutuhkan. Mereka akan menunggu di luar, menggunakan bis yang Brenda curi untuk membawa seluruh anak-anak kebal itu jauh dari sana. Serta, Jane akan mencari serum untuk Newt. Asteria sedang memakai pakaian tentara WICKED yang telah disiapkan. Dia menggulung rambutnya tinggi-tinggi. Teresa tiba-tiba berdiri di sampingnya. Asteria menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada dirinya. Teresa menyeletuk sambil memandangi Brenda. "Dia tampak sehat. Tidak sakit."

Asteria menengadah, menatap Teresa. Dia mengernyit bingung akan konteks ucapan perempuan itu. "Apa maksudmu?"

Teresa menghentikan pekerjaannya, ikut menatap Asteria. "Brenda. Dari mana kalian mendapat serum untuknya?"

Asteria mendengus. "Kami tidak mendapat serum dari mana-mana. Dia hanya mendapat suntikan sekali saat berada di markas Right Arm. Last time we saw you." Asteria menambahkan, sedikit menyindir Teresa. Sebenarnya dia tidak mau memulai permusuhan dengan gadis itu. Asteria tidak ingin cari perkara. Dia ingin mengingat Teresa dengan seluruh perbuatan baik gadis itu padanya. Tapi agaknya, hal itu sulit dilakukan dalam masa-masa begini.

Namun, bukannya tersinggung, Teresa malah salah fokus dengan pernyataan Asteria. Dia menatap Asteria syok. "Apa? Itu tidak mungkin. Itu sudah lebih dari batas waktu ketentuan serum itu. Seharusnya dia sudah berubah sekarang." Teresa berucap, tampak terguncang. Asteria hanya mengedikkan bahu, lalu pergi begitu saja. Dia kelewat malas meladeni Teresa saat ini. Sementara, Teresa terdiam dengan kesadaran menyerbu jiwa dan raganya.

***

Andrienne sedang menyiapkan bagian senjata ketika Thomas datang. Andrienne menoleh, pandangannya langsung berbalas. Cewek itu tersenyum kecil. Sambil membersihkan sebuah pistol, dia berkata, "Kau jatuh cinta padanya, kan?" Telak. Thomas terdiam. Dia hanya menunduk. Tidak mendapat jawaban, Andrienne mendongak. Lagi-lagi, hanya senyuman yang bisa Andrienne berikan atas reaksi Thomas ketika dia membahas Teresa. Dia melanjutkan, "Berhati-hatilah. Kau selalu dapat masalah saat tidak bisa menjauhinya. You can't save everyone, Thomas."

Andrienne menyodorkan pistol yang telah selesai ia bersihkan. Dapat dipastikan amunisinya terisi penuh dan tidak akan macet. Thomas menerimanya, menatap Andrienne tepat di mata. "I can try." Thomas berkata singkat. Perempuan itu tidao menjawab. Hanya dengan seulas senyum yang selalu terpampang di wajahnya, dia pergi meninggalkan Thomas.

***

Teresa berjalan memasuki gedung itu dikawal satu orang tentara. Mereka masuk dengan mudah. Thomas menuntunnya dan berbisik rendah, "Jangan berhenti," ketika dua orang penjaga yang lewat melirik mereka berdua curiga. Tiba-tiba saja, seseorang dengan seragam serupa berhenti di depan mereka. Thomas melirik dari atas hingga bawah, lantas ikut bersama orang bertopeng kedua. Mereka berjalan menjauhi orang-orang, menuju sebuah ruangan yang berada di bawah gedung. Satu orang lagi bergabung dengan mereka selagi berjalan.

Mereka masuk ke dalam ruangan penuh tangga berkat akses yang dimiliki Teresa. Ada dua orang yang menjaga di sana. Ada sebuah benda canggih yang bisa mereka retas. Gally berkata sambil melepas topengnya, "Sebentar. Aku bisa masuk dari sini."

Thomas mengangguk. "Baik. Berikan walkie-nya," kata Thomas. Maka, Gally melemparkannya sebuah alat komunikasi sebelum dia mengutak-atik benda itu. Newt melepas topengnya, terbatuk-batuk. Asteria juga ikut melepas topeng miliknya, mendekati Newt dengan khawatir. Teresa menyaksikan semua itu. Diam-diam, dia berpikir tentang sesuatu.

TMR: HOLD ME TIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang