BAB 5: Only Hope

892 75 15
                                        

Setelah bertemu Asteria, Newt pergi lagi. Pemuda itu harus melakukan sesuatu setelah insiden yang menimpa mereka semalam. Newt melepas kepergian Minho dan Alby ke dalam labirin tepat saat pintu tersebut dibuka. Lalu setelahnya, Newt menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Newt bekerja seperti biasa: mengayunkan golok tajamnya dan mulai menebang batang pohon. Di sebelahnya ada seorang lagi yang membantunya. Sementara itu, di depannya duduk Thomas dan Chuck.

"Tapi kenapa Alby pergi ke labirin? Dia bukan Pelari." Thomas kebingungan.

Newt menghentikan sebentar pekerjaannya, menjawab Thomas. "Kini keadaan berbeda. Alby melacak jejak Ben sebelum matahari tenggelam. Oh, are you gonna help?" Newt menambahkan, mengedikkan pisaunya ke arah batang pohon besar yang bergeming sama sekali.

Thomas mengabaikan kalimat terakhir Newt, lanjut berdebat. "Dia akan kembali ke tempat Ben disengat—"

"Alby tau apa yang dikerjakannya. Aku tau kau sangat ingin menjadi Pelari, oke? Tapi ini berbeda, paham? Dia lebih tau daripada kita semua." Newt menyela, kini sepenuhnya mengehentikan pekerjaannya dan menatap Newt serius. Nadanya datar dan agak sedikit jengkel karena Thomas terus mendebat.

Thomas menunduk sebentar. "Apa artinya?"

Newt menggaruk telinganya, setengah kesal setengah lelah. Dia menjawab sambil mengacungkan goloknya ke arah Thomas.

"Seperti yang kau dengar. Setiap bulan box mengirim pendatang baru. Pasti ada yang pertama, kan?" Thomas diam. Newt melanjutkan. "Ada yang satu bulan sendirian di Glade. That was Alby. And it can't be easy," Newt lalu kembali mengayunkan pisaunya ke batang pohon tadi. "Tapi saat yang lain datang satu-persatu, dia melihat kebenaran. He learned that the most important thing is we'll have each other. Cause we're all in this, together." Newt mengakhiri ceritanya, menatap Thomas yang membisu.

Thomas saling tatap sejenak dengan Chuck, sebelum akhirnya bangun dan membantu Newt. "Yeah. Bagus, Greenie." Newt nyengir.

***

Hujan deras mengguyur Glade pada siang harinya. Para Gladers terpaksa berteduh agar tidak basah kuyup. Asteria dan Jane duduk bersebelahan di dekat Newt dan Thomas. "Mereka seharusnya sudah kembali. Apa yang terjadi jika mereka tidak berhasil?" Thomas berkata kepada Newt, menatap cemas ke arah pintu labirin.

"Mereka akan berhasil." Newt menjawab pendek. Meski begitu, nadanya terdengar tak meyakinkan. Asteria menggigit bibirnya, mengerling Jane. Temannya itu juga menggerakan kakinya tak tenang.

"Bagaimana jika tidak?" Thomas mendekati Newt yang kembali menjawab, "Mereka akan berhasil." Hujan terus mengguyur Glade hingga sore hari. Saat reda, Para Gladers langsung berkumpul tepat di depan pintu labirin. Asteria berada di sebelah Newt, sementara Jane pergi ke sebelah Gally.

Thomas berseru gusar, tak ada tanda-tanda Alby dan Minho. "Bisakah kita kirim orang untuk mencari mereka?"

Kali ini Gally yang menjawab. "Itu melanggar peraturan. Mereka akan kembali atau tidak sama sekali."

"Kita tak bisa ambil resiko kehilangan orang lain." Newt menambahkan, berbicara pada Thomas tanpa menatapnya. Asteria meremat kausnya. Gadis itu gelisah. Dia mendongak, menyadari sebentar lagi pasti pintu labirin akan ditutup. Oh, Tuhan, di mana mereka? Beberapa saat kemudian, pintu mulai menutup, membuat panik Asteria dan yang lain. Jane sudah mondar-mandir gusar, penantiannya belum terbayar.

Mendadak, Thomas berseru, "Di sana!" Dia menunjuk ke arah labirin, membuat atensi seluruhnya mengarah ke sana.

"Wait, there's something wrong." Newt menyadari sesuatu.

TMR: HOLD ME TIGHTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang