T3 (2) : Kecelakaan

5K 252 2
                                        


Happy reading ♥


Masih sibuk berlarian kesana-kemari, si kembar mendadak berhenti saat sebuah bisikan terdengar oleh indera pendengaran mereka. Keduanya kompak menengok ke kanan-kiri, mencari asal suara.

"Anjir! Siapa, sih?! Jangan gangguin kita kabur napa!" sentak Sisil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Dia menoleh kepada Sesil yang mengendikan bahunya tak tau.

"Kembar!" Bisikan itu terdengar lagi. Membuat si kembar langsung merapalkan ayat kursi keras-keras.

"Kembar goblok! Lo pikir gue setan!" sentak Johan dari atas pohon mangga. Tak habis pikir dia, mana ada setan siang-siang begini. Punya temen kembar, menguras kesabaran.

Si kembar kompak mendongak, dan benar saja, diatas pohon ada si Johan yang tengah bertengger layaknya monyet. Sesil berkacak pinggang. "Woy, monyet! Ngapain lo di sana?!"

"Bacot! Buruan ngumpet sini, bisa manjat nggak? Apa perlu gue transfer ilmu lutung gue ke lu pada?" tanya Johan menunduk.

Sisil menyingsing lengan seragamnya. Enak saja disangka tidak bisa memanjat pohon. Jangankan manjat pohon mangga, pohon kecambah saja dia panjat. Apa nggak keren, tuh? Oke, itu hiperbola. Si kembar kalau disuruh manjat pohon, jiwa-jiwa monyetnya langsung keluar.

Sisil mulai memanjat pohon dengan lancar, disusul Sesil yang sedikit kesusahan. Maklum, dia ini calon Dokter, bukan calon pejabat tikus berdasi alias maling. Eh?

Menghela napas lega, si kembar menoleh pada Johan yang duduk di dahan sebelah. Mereka berdua tersenyum manis. "Makasih, Jo." Keduanya berujar kompak.

"Yoi, nih. Mumpung ada mangga mateng, sisa satu ini. Buat lo berdua aja," balas Johan sembari menyodorkan satu buah mangga kepada si kembar.

Sesil menerimanya dengan senang hati. "Wuiiih, thanks. Tau aja lo kita habis perang bandar!"

Johan terkekeh. "Sans," katanya, lalu memandang lurus ke depan. Dari pohon mangga ini, dia bisa melihat beberapa genteng rumah-rumah di sekitaran sekolah.

Ketiganya ditelan keheningan, sampai si kembar sudah benar-benar menghabiskan mangga mereka. Beruntung Sesil selalu membawa tisu, jadi mereka tak perlu kesusahan turun hanya untuk mencuci tangan.

"Emm ... makasih, Jo. Lo udah nolongin kita berdua," celetuk Sisil memecah keheningan. Senyum lebar ia tampilkan.

"Yoi, kita 'kan prend!" balas Johan bersemangat.

Sebenarnya, Johan ini adalah satu-satunya teman si kembar yang tahan dengan sikap absurd mereka. Lainnya ke mana? Tentu saja kabur, si kembar ini kalau jahil bikin cepat tua. Ada saja kelakuannya yang bikin emosi campur ngakak.

Kalau ada penghargaan untuk orang yang tahan dengan sikap nakal si kembar, sepertinya Johan layak mendapatkan penghargaan itu.

"Eh, Sil. Lo ngapain ngumpetin sepatu anak Bahasa?" celetuk Johan bertanya.

"Gabut, gue tuh. Sebel juga sama tu orang, masak dia makan gorengan lima di kantin ngomongnya makan tiga. Kan, serasa pengen nabok!" jawab Sisil geram. Ingat betul dia perangai lelaki yang membohongi Ibu kantin.

"Trus, lo umpetin di mana sepatunya?" tanya Sesil.

Mendengar itu, Sisil terdiam sejenak sebelum akhirnya cengengesan, hal itu membuat Sesil mengerutkan keningnya. Kepala Sisil ditolehkan ke arah samping, seketika netranya bertubrukan dengan mata Johan yang masih bingung. Tanpa melunturkan bulan sabit di bibirnya, Sisil mengacungkan jari perdamaian.

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang