♥ Happy reading ♥
Siapapun, tolong jelaskan pada Zy sekarang juga apa yang sedang terjadi saat ini. Atau, beritahu saja kalau hari ini ia akan mendapatkan kejutan lagi nanti. Kejutan yang akan membuatnya mendapatkan serangan jantung secara tiba-tiba, lalu pingsan.
Mulai dari si penguntit, Bang Japar, lalu sekarang? Fakta bahwa Darren adalah Kakak Alan benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata. Kenapa dulu dia tidak mendapatkan data ini? Darren benar-benar pintar menyembunyikan identitas.
Setelah sadar dari pingsan, Zy hanya diam melamun. Sesekali memandangi wajah Alan dan Darren bergantian, memastikan kalau dia sedang tidak salah lihat orang. Terserah kalau pun sekarang menjadi pusat perhatian kelima lelaki di depannya.
"Masih hidup?" gumam Razi yang memang minus akhlak.
Alan memantau penasaran sebab dia masih belum bisa bergerak dari ranjangnya. Untuk ke sekian kalinya Zy menghembuskan napas, kemudian melirik tajam Darren. Sementara sang empu membalas tatapan itu dengan lurus saja. Sama sekali tidak merasa bersalah.
Cukup lama mereka bertatapan, sampai pertanyaan Bian membuat keduanya menoleh.
"Siapa, Zy? Dan ..." Bian menatap Zy curiga. "Lo manggil Bang Arga, Darren?"
"Ho o, kalian berdua saling kenal?" tanya Razi ikut penasaran.
"Nggak! Maksudnya, nggak mungkin gue nggak kenal sama calon Kakak ipar gue sendiri." Zy berdiri dengan perasaan dongkol, masih tidak terima kalau dirinya ditipu begini. Awas saja, dia akan mengadu pada Za.
Setelah memberikan tatapan penuh dendam, Zy menghampiri ranjang Alan. "Dan elo, jangan nyusahin gue lagi!"
Kemudian ia pergi meninggalkan tanda tanya bagi Alan dkk.
Jefan yang merasakan sebuah berita besar segera pindah tempat duduk mendekati Darren. Sedikit mencondongkan tubuhnya agar terlihat lebih serius dalam memulai percakapan.
"Bang, lo kenal sama dia?"
"Nggak."
"Kok dia manggil lo Darren?" tanya Alan ikut mengintrogasi.
Darren sedang tidak mood untuk menjelaskan semuanya. Ia ke sini untuk melihat kondisi Alan, bukan untuk diinterogasi. Lagipula, kenapa juga dia datang diwaktu yang salah?
"Siapa yang bikin lo kayak gini?"
Tanpa menggubris pertanyaan Alan, Darren memilih menanyakan sesuatu yang menurutnya penting. Alan yang sudah tau sifat Kakaknya itu menghembuskan napas pelan.
"Nggak tau. Tapi pernah liat dia ngikutin gue sama si cupu."
"Punya musuh?"
"Nggak tau. Iya kayaknya."
Darren mendesah pelan. "Alan."
"Nggak tau, Bang. Gue rasa mereka bukan musuh gue, karena gue apal siapa aja musuh-musuh gue."
"Lo punya musuh?" todong Darren tajam. Ada banyak hal yang sepertinya adiknya itu sembunyikan darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
Teen FictionKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
