♥ Happy reading ♥
Hidung Lana membersit, lalu matanya mendelik julid begitu membaca ID card buatan Zy. Apa-apaan. Namanya berubah jadi Sariyanti, usianya 25 tahun. Hey! Yang benar saja, apa wajahnya setua itu?
Lana memajukan wajahnya agar lebih dekat pada cermin di toilet. Masih mulus, hanya ada satu jerawat kecil di dagu, dan tompel palsu di pipi kanan. Kemudian, dia kembali membaca ID card lagi. Profesinya sebagai dokter ....
"Dokter kandungan?!" teriaknya dengan suara melengking.
Lana refleks menutup mulutnya, ia menoleh ke samping kanan-kiri yang ternyata kosong, beruntung toilet ini sepi. Kalau tidak, dia akan benar-benar merasa malu.
Mengatur napas supaya lebih tenang, Lana kemudian mulai menjalankan tugas walaupun hatinya sambil memaki. Pertama-tama, dia harus ke ruangan resepsionis. Yang ada di otaknya sekarang adalah rencana untuk mengakrabkan diri dengan beberapa suster yang berjaga agar mendapatkan informasi yang lebih valid.
Dengan langkah anggun nan berwibawa, Lana berjalan menghampiri dua orang yang sedang berjaga.
"Permisi, Sus."
Kedua suster itu menoleh.
"Iya, Dok. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu suster di sana.
"Saya mau tanya–"
Lana baru akan melontarkan pertanyaan, tapi terjeda oleh teriakan dari arah pintu.
"Suster! Dokter! Tolong!"
Tak lama dari teriakan itu, seorang ibu-ibu berperut buncit datang bersama laki-laki yang menuntunnya. Dari raut wajah ibu itu, jelas sekali kalau sedang kesakitan.
"Tolong istri saya, Dok. Dia kayaknya mau lahiran."
Lana panik! Dia segera membantu ibu itu untuk dibaringkan ke bankar yang sudah disiapkan beberapa suster dengan sigap. Kemudian, mereka bawa ke ruang persalinan.
Di dalam ruang persalinan, jiwa Lana serasa ingin melayang. Kondisi macam apa yang sedang ia hadapi sekarang? Ya Tuhan, Lana tertekan!
"Dok, kenapa diam?"
Salah satu suster membuatnya kembali sadar, mendengar ibu itu berteriak kesakitan membuat Lana semakin dilanda bingung. Ia harus apa ini? Harus melakukan apa?
"Tolong Dok, sakiiiit."
Siapapun tolong selamatkan Lana. Rasanya dia ingin menangis, dia ingin menangis!
"T-tarik napas, buang."
Tangan Lana gemetar, yang ada dipikirannya sekarang adalah kabur. Dia harus kabur. Menangani sesuatu yang bukan bidangnya akan berakibat fatal. Apalagi ini berurusan dengan nyawa seseorang.
"Sus, kamu ambil alih sebentar. Saya, saya ..." Otak Lana benar-benar didobrak agar mengeluarkan ide untuk kabur. "Saya harus ke toilet!"
Tidak perlu menunggu ditahan suster, tidak perlu menjalani kefrustasian lebih lama, Lana benar-benar kabur meninggalkan ruang persalinan. Berlari terbirit-birit seperti sedang dikejar beruang putih, tanpa memedulikan orang-orang yang menatapnya heran.
Apakah dia jahat? Tidak. Karena setelah berhasil lolos dari ruangan keramat itu, Lana langsung mencari dokter asli untuk menangani pasien tadi.
Sekarang, hanya ada satu hal di kepalanya yang sudah mengeluarkan asap tak kasat mata. Yaitu, mengumpat. Dasar Zyana kuampret! Pret! Pret! Pret!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
Novela JuvenilKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
