T3 (42) : Tertinggal

805 50 43
                                        

♥ Happy reading ♥



Masuk, tidak. Masuk, tidak. Kalau bisa dihitung, dua pilihan tadi sudah Lana ucapkan dalam hati sebanyak hutang ketua kelasnya yang absen saat kas kelas. Banyak sekali.

Akhirnya, Lana memilih untuk mundur. Membelokkan arah ke tempat yang cukup sepi. Hanya ada pohon kelapa dan batu karang setinggi dada yang nangkring di sana.

Apa rencananya sekarang? Masuk lalu menghabisi nyawa nahkoda itu? Atau, menggoda nahkoda itu agar mengundur waktu keberangkatan dan berakhir dicurigai?

Sial. Pilihan buruk.

"Zy, Zy, Zy, Zy." Lana berdecak. "Lama amat, sih. Gue, 'kan udah ninggalin jejak."

Satu-satunya harapan Lana adalah Zy dan Zergios. Sepanjang perjalanan tadi, Zy sudah menjatuhkan banyak masker sebagai penanda. Berharap, mereka tidak kebingungan mencari lokasi ini.

"Lo komplotan mereka?"

Lana berjengit kaget dengan reaksi mundur beberapa langkah. Matanya melotot sementara jantungnya terasa mau loncat dari tempatnya.

"KURANG AS—"

Makian Lana tertahan begitu tangan seorang laki-laki membekap mulutnya. Ia meronta karena bau tangan itu asem bercampur amis.

"Lepasin! Bau, anjing!" hina Lana setelah tangan itu terlepas. Buru-buru dia menarik banyak oksigen untuk menggantikan bau asam dari tangan sialan itu.

Sibuk menarik oksigen sambil mendongak, kedua bola mata Lana spontan melirik ke samping. Ia membuka mulutnya setengah ternganga.

"Jefan?" Lana kira orang tadi siapa. Ternyata teman Alan. Hampir saja dia mengucuri orang yang membekap nya tadi dengan suara maut.

"Jangan berisik, bego. Ketauan ntar," cetus Jefan setengah kesal.

Lana memutar bola matanya. "Ya maaf. Lo, sih, ngagetin."

Jefan tak merespon lebih. Dia menghembuskan napas melalui mulut. "Kok lo bisa di sini? Pake jas Dokter lagi. Lo komplotan mereka?"

Melirik jas yang dipakainya sebentar, Lana mengerutkan alis. "Komplotan mbahmu!"

"Terus?"

"Ini namanya nyamar, goblok!"

Lana sungguh tak mengerti jalan pikiran Jefan. Sudah tau dia masih SMA, mana mungkin menjadi komplotan para penjual organ ilegal itu. Apalagi berprofesi sebagai Dokter. Sungguh tidak masuk akal.

Jefan hanya ber-oh ria sebagai tanggapan. Pintar juga.

Mata Lana memindai penampilan Jefan dari atas hingga bawah. Tiba-tiba saja tercetus ide brilian di otaknya yang pas-pasan. Gadis itu pergi tanpa basa-basi, lalu kembali sambil membawa baju pasien.

Kening Jefan mengerut penuh tanda tanya.

"Lo pake. Kita berdua nyamar. Lo harus ikut mereka jadi korban. Apa pun itu, kita harus berbaur sama mereka," kata Lana.

Telinga Jefan seperti berdengung. Dia bingung dengan jalan pikiran Lana. Ia jadi sedikit kesal. "Maksud lo gue harus nyerahin diri gitu? Mati dieksekusi?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 23, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang