♥ Happy reading ♥
Satu tahun belakangan ini, hidup Crisa benar-benar hancur. Dia yang semula suka membully siswi-siswi karena ingin melampiaskan emosi atas apa yang terjadi di rumahnya, sikapnya semakin memburuk karena ada hal besar lain yang menimpa dirinya.
Cara Crisa melampiaskan amarah semakin ekstrem, gadis itu bahkan tak segan main tangan dengan korban bully nya. Di pertengahan kelas sebelas, gadis itu tanpa sengaja bertemu laki-laki baik yang usianya terpaut cukup jauh dengannya. Laki-laki itu memperlakukan dirinya layaknya princess.
Tidak mungkin Crisa tidak jatuh cinta. Gadis itu terlalu jatuh sampai rela memberikan apa pun, termasuk kehormatannya. Tapi, setelah malam itu, laki-laki itu berubah. Dia semakin menginginkan lebih, memaksa, bersikap kasar.
Crisa bodoh, iya. Dia akui itu.
Tapi dia hanyalah remaja biasa yang tak tahu jalan, orang tua yang seharusnya menjadi penunjuk arah, malah tidak berguna sama sekali. Setiap malam gadis itu ketakutan, menangis seorang diri.
Selain orang tuanya, laki-laki brengsek itu juga menjadi salah satu penyebab sakitnya. Sakit yang sulit diobati sampai dia mengemis cinta pada Alan agar mendapat perlindungan.
Dan kini, takdir seolah ingin melihatnya hancur lagi. Hancur sampai tak tersisa sedikitpun. Di depan matanya, laki-laki brengsek itu berdiri utuh. Menatapnya dengan tatapan terkejut sama seperti dirinya.
Tangan Crisa gemetar, tubuhnya kaku seolah ada aliran listrik yang membuatnya tak bisa bergerak. Lidahnya mendadak kelu.
Brengsek!
Air mata berkumpul di kelopak, siap mengalir deras.
"L-lo ...."
Keberanian Crisa hilang dalam sekejap mata, kakinya mundur dua langkah.
"Oh, God. Lihat, kebetulan macam apa ini?"
Sekilas, Crisa bisa melihat senyum smirk pada laki-laki itu. Laki-laki sialan yang sudah mengambil harga dirinya. Genggaman pada gagang teflon kian menguat. Rasa takut dan marah berhasil memunculkan kembali keberaniannya.
Terlebih, saat laki-laki itu memindai tubuhnya dari atas sampai bawah.
"Hari ini kita nggak main dulu, karena gue udah dapetin apa yang selama ini gue incer," kata Arkan, menyeringai. Pandangannya menoleh pada seorang perempuan yang tak sadarkan diri di atas ranjang.
Gigi Crisa bergemelatuk, setetes demi setetes air matanya luruh membasahi pipi. Ia melirik Aira yang terbaring mengenaskan di atas ranjang. Kesalahan fatal karena pemandangan itu berhasil membuat dadanya semakin sesak.
"BRENGSEEEEEKK!" raung Crisa dengan suara melengking.
Kakinya kembali dipacu ke depan, tangannya mengayunkan senjata dengan berani, menerjang Arkan dengan pukulan bertubi-tubi.
Crisa marah, sangat marah, dia tidak peduli apa pun. Yang ada di otaknya saat ini adalah melampiaskan semua beban yang dipikul dengan menghabisi laki-laki bajingan itu. Kemarahan membuat tenaganya bertambah jadi dua kali lipat. Hingga laki-laki setengah telanjang itu tak sempat menghindar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
Teen FictionKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
