♥ Happy reading ♥
Kerlap-kerlip lampu yang mencolok tak menyurutkan usaha Lana untuk memperhatikan sosok berjas yang duduk di sofa bersama rekan-rekannya. Ia mengintip, sesekali berbalik kala merasa orang itu memperhatikan tempatnya.
Pria tadi berdiri, berpamitan pada rekannya. Lalu pergi meninggalkan club itu. Tak ingin kehilangan jejak, Lana mengikuti orang itu diam-diam sampai ke parkiran. Begitu sampai di parkiran, pria berjas hitam tadi memasuki mobilnya, hal itu berhasil membuat Lana panik.
"Gue harus ngapain? Gue harus ngapaiiiin?" Tangan kanan Lana menjinjing sepasang sepatu heels hitam yang tadi ia copot. Otaknya dipaksa bekerja lebih keras.
Mobil berjalan pergi, sebelum hilang dari pandangan, otak Lana terkonek. Gadis itu secepat kilat menghafalkan nomor plat yang masih terlihat.
"Oke, tenang ... tenang, lo hafal, Na. Iya, tadi lo udah hafal," gumamnya menyugesti diri sendiri bahwa dia sudah menghafalkan plat mobil tersebut.
Lana bernapas lega, karena dia sudah keluar dari area club. Sekarang dia hanya perlu mencari taksi untuk pulang.
Tapi sepertinya, ketenangan Lana dirampas saat seseorang tiba-tiba saja mencekal tangan kirinya. Gadis itu tersentak, semakin kaget kala mendapati pria yang tadi menarik-narik dirinya.
"Mau lari kemana kamu?!" tandas pria tadi. Wajahnya memerah tanda marah.
"Lepasin!"
Lana memberontak, memukul-mukul lengan pria tadi. Namun naas, cengkraman pada tangannya semakin kuat, membuatnya meringis kesakitan.
"Gue bilang lepasin!" Lana hilang kontrol, sepatu heels yang berada di tangan kanannya ia pukulkan hingga ujung haknya mengenai mata pria di depannya. Pria itu mengerang kesakitan sembari memegang matanya.
Kesempatan itu tidak Lana sia-siakan, gadis itu berlari pontang-panting dengan kaki tanpa alas. Ketakutannya lebih besar ketimbang rasa sakit yang ia rasakan karena kakinya menginjak kerikil-kerikil kecil. Sekarang dia harus berlari, lari yang jauh dari tempat sialan itu.
Karena ceroboh, Lana sampai menabrak seseorang dengan keras. Dirinya terjengkang ke belakang hingga sepatu heels terlempar ke jalanan. Pantatnya menghantam aspal, sakit sekali.
Lana menangis tanpa suara, dia tidak menangisi perih di sekujur tubuhnya, tapi dia menangisi nasib sial yang menimpanya hari ini. Kenapa? Apa salahnya, sampai Mamanya sendiri tega menjualnya?
"Lana?"
Sebuah suara yang menyapa rungunya membuat ia mendongak, dia terkejut sampai tangisnya terjeda selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya dia malah semakin mengencangkan tangisnya.
Johan panik! Kenapa gadis di depannya ini malah menangis kencang? Dia amati pakaian Lana yang sejenak membuatnya berpikiran negatif. Johan segera menggeleng, ini bukan waktunya menyimpulkan sesuatu secara sepihak.
Maka, ia lepas jaketnya, memakaikannya untuk menutupi bahu Lana yang terekspos. Mengusap punggung Lana yang bergetar sembari membisikkan kata-kata penenang.
⭐★★⭐
Bulan mulai tak menampakkan diri kala sinar matahari mulai bermunculan. Silau garis-garis oren melintang bersamaan suara ayam yang berkokok. Pagi menyambut, membangunkan seorang manusia yang sudah sejak semalam bergelung di selimutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
Fiksi RemajaKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
