T3 (30) : Reuni Jefarez

1.3K 68 15
                                        

Happy reading


"Apanya?"

Aturan bermain peran masih berlaku, selagi keadaan belum pasti, masih sah-sah saja untuk melanjutkan peran. Diam bukan solusi, tapi sayangnya Zy malah melakukan itu. Payah.

Daripada menunggu dijebak berbagai pertanyaan, Za lebih memilih datang langsung menantang. Sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan, mata elang Za menghunus lelaki di depannya.

"Mendadak bisu?" todong Za lagi.

Alan menarik salah satu sudut bibir. "Kenapa? Takut ketauan?"

"Nguping?"

Sebuah kebodohan. Bukannya menjawab pertanyaan Za, Alan justru menantang gadis itu. Lantas tanpa aba, tubuh Alan tersungkur begitu mendapat bogeman dari Za. Sudut bibir Alan sedikit mengeluarkan darah.

"Nguping?" tanya Za sekali lagi. Kali ini dengan intonasi yang berbeda, lebih tegas.

Alan tak sempat menjawab ketika Za mengambil sebuah batu seukuran tiga kepalan tangan di dekat kaki. Dengan tangan kanan yang memegang batu, Za menatap lurus pada sosok di bawahnya. Bersiap menghantamkan batu itu hingga wajah tampan ini rusak.

"Gue bikin lo beneran bisu!"

"IYAA!!" Alan berteriak ketika tangan Za siap mengayun. Jantungnya bertalu, sedikit tak habis pikir dengan gadis gila ini.

Za membuang batu ke sembarang arah, membuat Zy menghembuskan napas lega sekaligus merinding. Za seperti orang yang sedang tidak berpura-pura.

Perlahan, Alan bangkit. Meringis kala perih menjalari sudut bibir.

"Apa yang lo denger?"

Alan meneguk ludah, melirik Zy yang menatap penasaran kemudian kembali menatap Za. "Nggak ada. Gue cuman tau kalo lo berdua keliatan akrab. Dan ini ... aneh." Seorang Zayna, berteman akrab dengan si culun LNS? Siapa yang tidak kaget mendengar berita itu?

"Maksud lo ... babu gue itu?" jelas Za dengan penekan pada dua suku kata sembari melirik Zy yang kini menundukkan kepala.

Alan tersentak. "Babu?"

"Diam adalah emas, jangan suka ikut campur urusan orang." Za memperingatkan sebelum kakinya diayun pergi.

Kali ini, dia dan Zy selamat. Tapi tidak tau sampai kapan.

⭐★★⭐

Monoton. Begitu kata Lana ketika mendapati orang-orang di markas hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Cerita-cerita tentang Aira, dia sendiri sudah mendengarnya. Reaksi pertama yang ia tunjukkan adalah mangap saking shock-nya. Kemudian dilanjutkan oleh rentetan kalimat keramat dan sumpah serapah.

Dava bermain bersama Johan, Aira sedang melukis dengan tenang seolah tak pernah mengalami kejadian buruk, sementara sisanya hanya memainkan benda kotak gepeng milik sejuta umat.

Za dan Zy? Mereka sibuk memijat pangkal hidung karena sudah mumet mencari pelaku selanjutnya.

Lana mendesah pelan. Apa yang harus ia lakukan untuk membantu si kembar?

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang