T3 (31) : Out

1K 57 1
                                        

♥ Happy reading ♥

Lana merasa selama hampir tiga tahun sekolah di LNS, bahkan menjabat sebagai bendahara OSIS, tak sekalipun ia temukan jalan sempit ini. Jalan yang, bahkan tak tertangkap kamera pengawas.

"Lo nemu jalan ini dari mana anjir?"

Tapi herannya, Johan si anak baru ini justru bisa menemukan jalan tikus yang tak pernah ia jangkau. Wah! Hebat! Harus ia adukan pada ketua OSIS laki-laki ini nanti.

Dengan bangga Johan menjawab. "Pakarnya anak-anak bolos gue tuh."

Lana mendelik. "Terserah lo deh. Buruan!"

Tak pernah Lana sangka kalau pertama kali dalam hidupnya ia berani membolos sekolah. Benar, ia ratu gosip dengan pakaian yang sedikit urakan, tapi ia juga termasuk orang yang mematuhi peraturan. Apalagi ia bersekolah di sekolahan ternama dan menjadi bagian dari anggota OSIS. Mana mungkin ia berani membolos sekolah.

Setelah drama melewati jalan tikus, dan kebut-kebutan di jalan raya, akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang sebelumnya sudah Za beritahu.

"Lo yakin ini bukan rekayasa?" tanya Za lagi. Farez hanya bisa menggeleng, hal itu semakin membuat Za marah.

Kecelakaannya sangat parah, Gara kini sedang ditangani oleh dokter di ruang ICU. Tidak ada yang tahu persis bagaimana kejadiannya selain dari rekaman CCTV.

"Yang gue tau, Gara lagi boncengin anak kecil." Farez bingung bagaimana harus menjelaskan di saat-saat panik seperti ini. "Trus, ada truk yang remnya blong, dan ...." Farez tak sampai hati untuk meneruskan. Lidahnya mendadak kelu.

Napas Za semakin tak karuan, ia mondar-mandir sambil sesekali mengacak rambutnya. Anak yang dibonceng Gara dinyatakan tewas ketika sampai di rumah sakit. Polisi juga sedang menyelidiki kasus ini.

Langkah beruntun datang mengalihkan atensi Za dan yang lain.

"Gimana keadaan Kak Gara?" Lana langsung mendatangi Za. Raut panik tak hilang sejak mendapat kabar tadi.

Za menggeleng pelan. "Berdoa yang terbaik, Na."

"Kronologinya gimana, Bang? Kok bisa gini?"

Tak perlu menjawab pertanyaan Johan, Farez langsung menunjukkan rekaman yang ia dapatkan tanpa sensor. Lana ikut mendekat, menonton kejadian malang tersebut. Shock, Lana tak bisa berkata-kata. Air mata nyaris jatuh melihat kejadian mengerikan itu.

Inti Zergios kompak menoleh ketika pintu ICU terbuka. Seorang dokter laki-laki keluar dengan wajah sedikit kelelahan. Za langsung menghadang.

"Gimana kondisi temen saya, Dok?"

Si dokter menghela napas pelan. "Kondisi pasien sudah berangsur stabil, walaupun tadi sempat mengalami pendarahan."

"Berikan yang terbaik." Darren berdiri di samping Za. Pakaian murahnya tak lantas menurunkan kepercayaan diri. "Masalah biaya biar saya yang tangani."

Farez mengangguk setuju.

"Baik, pihak rumah sakit pasti akan melakukan yang terbaik," jawab si Dokter dengan senyum profesional.

⭐★★⭐

"Kita nggak ke rumah sakit dulu aja, nih, Fi?"

Aira bingung sejak Zy membawanya jauh dari alamat rumah sakit yang Za berikan. Taksi yang mereka naiki berhenti di pinggir jalan, berjarak lima meter dari kerumunan ibu-ibu.

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang