⚠️ WARNING ⚠️
Cerita mengandung adegan kekerasan! Harap bijak dalam memahami situasi!
♥ Happy reading ♥
Suara derap langkah terdengar nyaring dan cepat, seorang gadis berlari tanpa arah mencari jalan keluar. Peluh membasahi pelipis, napasnya terengah-engah. Dia berdecak, lalu kembali berlari di tengah-tengah ruangan gelap tanpa ujung yang ia pijaki. Hanya ada setitik cahaya, hening, dan dirinya seorang.
"Zy? Zy, tolongin gue!" teriaknya ketakutan. Kakinya kembali berayun, kini lebih cepat.
Air mata Za luruh, semakin mempercepat laju lari kala sebuah suara memanggil namanya dengan halus.
"Sesil! Sesil!"
Brugh!
Lelah berlari, Za jatuh bersimpuh di lantai dingin itu. Tatapan matanya mengedar, meski yang ia temui hanya kegelapan tanpa ujung.
"Zy! Zy, tolongin gue! Ini di mana?!" pekiknya frustasi. Za menangis ketakutan dengan tubuh bergetar. Tempat apa ini? Gelap! Di mana, Zy? Siapapun tolong selamat Za.
Di tengah isak tangis Za, sesuatu terasa mencekik lehernya. Gadis itu mendongak, memegangi leher untuk mencoba mengambil pasokan oksigen sebisanya. Dia berdiri, seolah ada yang menarik lehernya ke atas.
"L-lepas, s-sakit ... akhh." Napas Za semakin tercekat, air matanya kian luruh dengan deras.
"Sesil?" Panggilan dengan nada mengerikan itu kembali terdengar. Membuat tubuh Za semakin bergetar ketakutan.
Susah payah Za mengangguk. "Y-ya?"
Setelah menjawab panggilan itu, sesuatu yang mencekik lehernya terlepas. Seolah tak pernah bernapas, Za meraup oksigen sebanyak-banyaknya seraya terbatuk.
Kemudian, sebuah bayangan tembus pandang hadir tepat di depan Za nyaris membuatnya terjengkang karena kaget. Perlahan, bayangan itu terlihat lebih jelas. Wajah rupawan yang sama persis seperti dirinya lah yang ia dapati.
"Z-zayna?" ujar Za tergagap.
Bayangan itu mengangguk pelan dengan sorot kosong. Belum sempat Za menghela napas lega, bayangan itu terisak pelan. Isak tangis itu terdengar semakin keras seiring sang bayangan berjongkok di depannya.
"Tolongin Bang Zevan. Dia diinjak-injak, dia ditendang ... dia dipukul ... kakinya kena tembak ... tolongin ... tolongin Bang Zevan ... darahnya banyak ... tolongin Bang Zevan ... tolongin ...."
Kepala Za menggeleng kuat, suara itu terngiang, menghantui isi kepalanya. Dia tutup kedua telinga dengan kedua tangannya seraya terus menggeleng kuat. Menolak suara rintihan permohonan yang terdengar memprihatinkan itu.
"Berenti! Gue mohon berenti! I-iya! Iyaaaa! Gue mohon berenti!"
"Za? Za!" Tubuh Za diguncang pelan.
"Berenti! Cukup!"
"ZAYNA!"
Darren terpaku tepat saat Za terbangun dan langsung memeluk dirinya. Dapat ia rasakan bahwa gadis ini tengah ketakutan yang mungkin disebabkan oleh mimpi buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
Teen FictionKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
