T3 (34) : Zy pusiiiing

1.3K 74 31
                                        

♥ Happy reading ♥

"WHAT?"

"TUH, 'KAN!"

Suara Aira hampir keluar semua ketika mendengar berita hot yang si kembar siarkan. Apa dia bilang, penjualan organ ilegal itu benar-benar menyeramkan. Dan yang lebih parahnya lagi, kasus itu ada di sekitarnya.

Lana sendiri memang dasarnya suka berteriak histeris, apalagi kalau ada kabar mengejutkan seperti ini. Maka ketika suara emasnya keluar, banyak dari mereka yang menutup telinga.

Bukan markas, rumah sakit tempat Gara dirawat lah yang menjadi titik diskusi mereka. Semua berkumpul karena Zy yang meminta. Keadaan Gara juga sudah agak mendingan, jadi ia bisa mengikuti diskusi ini.

"Apa Aira bilang, Kak. Penjualan organ ilegal itu ada, serem lagi." Mata Aira melotot seperti sedang memarahi seseorang. Salah Lanka sendiri karena tidak mau mendengarkan gosipnya waktu itu.

Lanka tak banyak bereaksi, ia hanya menarik tangan Aira agar kembali duduk seperti semula. Bukan ikut-ikutan Lana yang berdiri sambil berteriak kencang.

"Gue udah muak sama semua ini," cetus Zy. Greget sendiri dengan semua yang terjadi. Misi balas dendam ini harus segera diselesaikan. Kalau tidak, hidupnya akan terus ada dalam guyuran masalah.

"Ra," panggilnya.

"Oh." Seolah mengerti arti panggilan itu, Aira segera meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa kertas. Karyanya sudah selesai.

Dijejerkan lima kertas yang masing-masing terlukiskan gambar wajah. Ada satu gambar yang berhasil menarik atensi Za.

"Lima? Bukannya masih enam, ya, pelakunya?" tanya Lana heran.

"Iya, yang pake masker itu mana? Kok nggak ada, belum selesai digambar, ya, Ra?" sambung Johan.

Kompak saja semua mata tertuju pada Aira. Ia jadi merasa seperti tersangka yang sedang diinterogasi sekarang. Hawanya hening, mencengkam. Apalagi tatapan Darren yang seperti pedang kematian. Benar-benar membuatnya ciut.

"Emm." Aira menggigit bibir bawahnya, sedikit menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan itu. Tatapannya diedarkan sampai matanya bertemu pandang dengan mata Farez. "Belum! Belum selesai."

Merasa ada yang beda dengan tatapan Aira tadi, kedua alis Farez mengerut bingung. Ada apa? Apa ini hanya perasaanya saja?

Setelah semua orang mengangguk mengerti, Aira baru bisa bernapas lega. Namun hanya sebentar karena Za tiba-tiba berdiri. Temannya itu mondar-mandir sambil mengamati salah satu gambarnya.

"Mirip sama ..." Za berpikir sebentar. Ayolah, ia pernah melihat wajah ini. Sangat familiar, tapi siapa? Harus ia paksa otaknya agar bekerja lebih keras. "... cowok itu!"

Za melotot memandangi Zy, dadanya berdetak kencang. Harusnya dugaannya kali ini tidak meleset. "Zy! Cowok KTP itu!"

Zy melebarkan matanya. "Maksud lo Bang Japar?"

Anggukan Za seperti hantaman besar bagi Zy. Bibirnya sampai pucat memikirkan dugaan itu. Seakan tak percaya, Zy rebut kertas di tangan Za dan mengamatinya lebih teliti.

"Mustahil! Bang Japar itu orang yang baik." Zy menolak mentah-mentah dugaan Za. Ini sangat tidak bisa dipercaya.

"Orang baik bukan berarti nggak pernah ngelakuin kejahatan, Zy." Suara berat itu menyadarkan Zy dari kepayahannya dalam menilai orang. Darren jelas tau betul apa yang ia katakan. Karena ia sendiri sudah banyak bertemu orang-orang seperti Japar. Bahkan beberapa dari temannya adalah penjahat yang sudah bertobat.

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang