T3 (38) : Layaknya cicak

558 46 19
                                        

♥ Happy reading


Begitu sorot cahaya merambat melalui jendela, kelopak mata Aira bergerak tidak nyaman. Pelan-pelan, ia mulai membuka mata. Hal pertama yang Aira rasakan ketika membuka mata adalah kepalanya yang pusing. Pandangannya sedikit buram.

Ia memejam, lalu menggelengkan kepala sebentar guna mengusir pening. Setelah dirasa kesadarannya kembali, Aira mulai melihat ke sekeliling. Dua detik dari kesadarannya, jantung Aira berdegup kencang seolah ujung pisau siap membelah nadinya.

Jari-jari Aira bergetar, ia turun dari ranjang bersamaan dengan air mata ketakutan yang mengalir deras. Kini, Aira sedang berada di sebuah kamar. Kamar yang terasa seperti mimpi buruk baginya.

Kepala Aira menoleh ke kanan. Masih sama, ada begitu banyak foto dengan wajah yang sama tertempel di dinding. Kemudian, tanpa diminta, pandangannya menyapu ruangan itu lagi.

Napas Aira semakin memburu ketakutan. Ruangan ini di penuhi oleh foto laki-laki itu. Penuh. Benar-benar penuh. Bahkan tidak ada cela bagi cat dinding untuk terlihat barang sedikitpun.

Ini gila. Aira merasa di teror.

"Tolooong!" teriaknya nyaring.

Kakinya berjalan menuju pintu. Telapak tangannya menggedor sekuat tenaga. "Toloooong! Tolongin Airaa!"

Naas, pintu kayu itu terpasang kokoh. Aira bahkan tidak yakin kalau suaranya tembus sampai ke luar. Tidak ingin menyerah, gadis itu pergi menuju jendela. Membuka gorden lebar-lebar sampai ruangannya setengah terang. Kalau jendelanya kaca, Aira bisa memecahkannya untuk keluar dari sini. Ya, masih ada harapan.

Tapi harapannya pupus begitu melihat jendela itu dilapisi besi yang memiliki sedikit ukiran. Aira mengumpat dalam hati. Kesal. Dihapusnya air mata dengan kasar. Lalu terpikirkan sebuah cara lain. Gadis itu mengacak-acak kasur ber-sprei full putih, membuka laci untuk mencari HP nya.

Kosong.

Tidak ada.

Sial!

Napas Aira memburu, ia semakin ketakutan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Gadis itu luruh bersamaan dengan air matanya. Ia memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di sana. Menangis sesenggukan.

"Z-zaa, tolongin Airaa," gumamnya pilu. "Papii Aira takuut."

Di tengah meratapi nasibnya. Tiba-tiba pintu terbuka, empat orang pelayan langsung masuk begitu saja. Salah satunya mengunci pintu.

"Nona, ini ada hadiah dari Tuan Arkan." Seorang pelayan dengan senyum simpul memberikan sebuah kotak kepada Aira.

Kepala Aira mendongak. Masih dengan sisa-sisa air mata, ia melirik kotak itu. Tapi dia tidak tertarik.

"Saya pengen keluar,"celetuk Aira. Ia menatap para pelayan itu penuh harap. Matanya yang sembab dan merah benar-benar membuatnya terlihat kasihan.

Pelayan yang berada tepat di depan Aira mengangguk. "Iya, Nona. Tapi, Nona harus pakai hadiah dari Tuan dulu. Baru boleh keluar."

Mendengar itu, ada setitik cahaya yang membuat Aira merasa sedikit lebih tenang. Ia segera menghapus air matanya, kemudian tersenyum kecil. Meraih kotak itu tanpa basa-basi dan membukanya perlahan.

"I-ini ...." Aira sontak melempar kotak itu setelah mengetahui apa isinya. Belum genap semenit rasa tenangnya, kini perasaan takut kembali menguasai. Dada Aira naik turun, deru napasnya memburu. Benar-benar takut.

"Aira nggak mau pake!" serunya lantang. Ia menggelengkan kepalanya ribut.

Sebuah lingerie berwarna merah menjadi satu-satunya isi dari kotak tersebut. Apa maksud dari pakaian tidak sopan itu? Kenapa Aira harus mengenakannya?

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang