T3 (33) : Ketulusan teman

1.1K 67 9
                                        

♥ Happy reading ♥


Di antara banyaknya kaki-kaki yang berlalu lalang, maka langkah kaki Laura dan Vika lah yang berayun paling cepat. Tidak peduli kalau harus menabrak bahu murid-murid LNS, yang terpenting adalah mereka segera sampai di kelas Alan.

"Mata lo di mana?! Minggir!"

Setelah membentak seorang siswi yang ia tabrak hingga terjatuh, Laura segera menghampiri meja Jefan dan Razi tanpa perlu repot-repot menolong siswi itu.

Sebuah gebrakan disusul deru napas yang tak teratur menjadikan dua gadis cantik itu pusat perhatian. Dahi Razi mengerut bingung.

"Urgent, kita berdua perlu ngomong sama Alan. Dia di mana?"

"Santai, girl. Ada apa ini? Kenapa?"

"Nggak usah banyak tanya Zi, Alan mana?"

"Dia lagi sakit." Jefan yang menyahuti pertanyaan Laura. "Emangnya kenapa, sih?"

Dua gadis itu sedikit kaget, mereka bertukar pandang sebentar.

"Kalo gitu, ntar pulang sekolah kita ke apartemen Alan. Mau ngomong sekalian jengukin," ujar Vika yang dihadiahi anggukan oleh Laura.

Kemudian, keduanya pergi begitu saja setelah menciptakan kehebohan serta tanda tanya yang besar di kepala Jefan maupun Razi.

⭐★★⭐

Sesuai perkataan Vika tadi pagi di sekolah, kini keduanya benar-benar ke apartemen Alan untuk menjenguk lelaki itu. Mereka tidak sendiri, ada Jafan, Razi, dan Bian yang turut berjalan bersama mereka.

"Wait, wait. Kok, kayak ada yang kurang, ya?"

Razi mengelus dagu seraya berpikir apa yang menyebabkan keganjalan ini. Ia merasa seperti ada yang beda.

"Crisa nggak masuk hari ini, dia sakit juga," balas Vika seadanya.

Jefan dan Razi kompak bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk paham.

"Ee, tapi nggak parah, kok, cuma flu biasa," kata Laura menambahkan. Ia tidak mau kalau Jefan cs menjenguk Crisa yang masih dalam kondisi tidak stabil. Apalagi mereka ini laki-laki. Tidak bisa ia bayangkan akan semuak apa dirinya melihat Crisa yang berpura-pura terlihat baik-baik saja.

Tanpa perlu menekan bel agar dibukakan pintu, mereka semua masuk ketika Bian selesai memasukkan pin.

"Kalian langsung ke atas aja, Kita di sini," ujar Bian.

Perkataan Bian dituruti oleh Vika dan Laura. Lagipula, keduanya memang harus mengobrolkan hal penting.

Jefan melemparkan tas sekolah ke sofa, merenggangkan otot-ototnya yang merasa kaku. Hari yang melelahkan. Kakinya berjalan ke dapur untuk menikmati jus jeruk kemasan. Pasti segar sekali.

"Alamak jang!" teriak Jefan kaget.

Matanya melotot memperhatikan sosok yang kini berdiri di depannya sambil memegang nampan. Tunggu, kenapa si culun ini ada di sini? Sejak kapan?

"Lo kok bisa masuk ini? Emang tau pin-nya?"

Zy mengangguk. "Tau. Kan dikasih tau sama yang punya tempat."

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang