♥ Happy reading ♥
"Mau kemana lo?"
Pertanyaan itu terdengar tepat ketika langkah Za hendak mencapai pintu. Ia berbalik sebentar meski tangannya belum sempat mencapai gagang pintu.
Kedua bahunya diangkat acuh tak acuh. "Beli jajan bentar."
Mendengar kata jajan, mata Zy langsung berbinar cerah. "Wih, ikuut."
"Nggak usah."
"Dih, kenapa?" Zy mengerut tak suka. Tumben sekali kembarannya itu.
Za menggaruk tengkuk, mencari alasan. Sebenarnya ia ingin pergi ke suatu tempat. "Gue lama, banyak yang mau dibeli. Lo besok ada ulangan, kan? Belajar sono!"
Bukannya kesal, Zy malah menepuk jidatnya. Membuat ekspresi terkejut yang ketara. "O iya, lupa! Untung lo ingetin. Ya udah sana, ntar gue WA aja titipannya."
Tanpa menunggu jawaban dari Za, kaki Zy lebih dulu berayun menaiki tangga menuju lantai dua. Terburu-buru, seolah memang ada hal yang harus ia lakukan.
Sementara, Za sendiri bergegas keluar rumah. Mengendarai salah satu motor koleksi Zy — yang kuncinya ia ambil secara diam-diam — ke sebuah tempat yang sudah lama ingin ia kunjungi.
Dari balik tirai lantai dua, hembusan napas sedang teralun. "Mau main petak umpet?"
⭐★★⭐
"Kok sepi gini, sih?"
Za tak pernah membayangkan kalau pekarangan rumah Aira sesepi ini, ia kira, pribadi Aira yang ceria bisa berdampak pada lingkungan. Seperti, membawa hawa hangat meskipun cuaca sedang dingin misalnya?
Kepalanya ia gelengkan. "Mikir apa, sih? Aneh banget," gumamnya.
Setelah melompati pagar tinggi dan melewati beberapa kamera CCTV, yang Za sendiri bingung kenapa ada banyak sekali, kini gadis itu tengah berdiri dibalik pohon. Sembari garuk-garuk pipi karena gigitan nyamuk, Za mengamati lantai dua yang ia kira adalah kamar Aira.
Pertama, dua alis Za bertaut karena kamar Aira begitu gelap. Ia melirik jam tangannya, masih pukul delapan malam. Kedua, Za tau ini hal gila, tapi ia buru-buru tolah-toleh mencari tangga untuk memanjat kamar temannya itu karena ia yakin Aira belum tidur.
Plak!
Sekali lagi, pipi Za memerah karena nyamuk-nyamuk sialan itu masih mengganggunya. Za menggerutu, "duuuuh."
Tangannya menggaruk leher. "Gini amat cosplay jadi penyusup."
Sepertinya Za akan sibuk garuk-garuk badan kalau suara lengkingan dari atas sana tidak terdengar. Ia terkesiap, menoleh segera ke kamar Aira. Ketika hendak melangkah, menerobos kamera-kamera pengawas, Za justru mengurungkan niat kala melihat sesuatu yang membuat bola matanya membulat sempurna. "Ya, anj!" umpatnya tertahan.
⭐★★⭐
Rasanya seperti kaget, bingung, sadar tidak sadar bercampur menjadi satu. Menghasilkan reaksi tubuh menjadi kaku, dan bengong hang hong hang hong layaknya orang tolol.
Tapi jujur, rasanya tubuh Aira sulit bergerak. Otaknya jadi mencerna dengan sangat-sangat lambat. Orang ini, kenapa bisa ada di sini? Kenapa bisaaa?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twin Transmigration
TeenfikceKetika dua gadis kembar somplak harus bertransmigrasi ke tubuh kembar dingin. Sesil florasta dan Sisil florista namanya. Dua gadis kembar berusia 17 tahun yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku SMA. Dua gadis dengan julukan duo bima ( dua bi...
