T3 (40) : Kalah cepat

464 37 37
                                        

♥ Happy reading ♥



Benar saja apa kata Razi. Tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah bangunan terbengkalai yang dijaga oleh beberapa orang. Mata Lana menyorot ke arah sebuah batu besar yang ada ukiran bertuliskan 'The Forest hotel'.

Jefan meringis kala luka di lengannya kembali mengeluarkan darah, hal itu berhasil mengusik kegiatan Zy yang sedang mengamati sekeliling. Dengan kepekaannya, gadis itu mendekat, kemudian kembali mengikat luka itu dengan kain yang tersisa.

Hutan ini ternyata penuh jebakan, Jefan tadi nyaris mati karena kecerobohannya. Beruntung, mereka tetap kompak sehingga masih bisa selamat. Ya, meskipun ada beberapa luka-luka yang mereka dapatkan.

"Gue takut banget buset," celetuk Jefan. Matanya berpendar, lalu menelan ludah. Sejak tadi yang dilakukan oleh jantungnya adalah berdetak lebih cepat dari biasanya. Semakin malam hutan ini semakin tampak seram.

"Pulang sana," kata Zy, menanggapi. Ia memutar bola mata malasnya. Tadi siang saja sok-sokan, sekarang malah ciut.

Mendengar jawaban dari Zy, sontak saja Jefan terdiam. Dia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya ribut. "Sorry, sorry. Nggak jadi takut gue."

Lana berdecih, kelompok Alan memang tidak ada yang waras kecuali Bian. Tak menghiraukan Jefan yang terlihat kicep, Lana mengecek HP-nya. Dia mendesah karena tidak ada signal di sini. Ini benar-benar akan merepotkan.

"Susah sinyal, ini kita harus gimana, Zy?" tanya Lana. Dia semakin tidak betah karena banyak nyamuk yang mulai mengisap darahnya.

Zy tidak merespon pertanyaan Lana, sampai tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya. Gadis itu berbalik spontan, radar waspada miliknya langsung mencuat tanpa diminta.

Melihat sosok ber-slayer di hadapannya, Zy sedikit menghembuskan napas lega. Perempuan itu tahu kalau seseorang yang ada di hadapannya ini adalah bagian dari Zergios. Senyum smirk terukir tipis.

"Bawa alat yang gue minta?" tanya Zy, yang langsung mendapat anggukan dari orang itu.

Kemudian laki-laki tadi memberikan walkie talkie pada Zy sesuai perintah. "Mereka di sini, jagain lo dari jauh."

Mendengar itu, Zy mengedarkan pandangannya pada hutan yang gelap ini. Mereka yang di maksud adalah anggota Zergios yang kini bersembunyi. Merasa cukup puas, Zy mengangguk.

"Za, gimana? Yang lain?"

Laki-laki yang ditanya diam selama beberapa saat, hal itu berhasil memancing kerutan di dahi Zy. Ada apa? Apa yang terjadi?

Sebuah gelengan menjadi jawaban pertama yang Zy dapatkan. "Belum ada kabar. Farez pun nggak ada kabar."

Tidak ada kabar? Kenapa bisa? Apa yang terjadi di sana? Tangan Zy terkepal, perasaanya mulai gelisah. Gadis itu menelan ludahnya sendiri. Tiba-tiba saja hatinya sesak, firasatnya tidak enak. Zy harap tidak terjadi apa-apa dengan saudarinya di sana.

⭐★★⭐

Angin berhembus sedang, mengantarkan hawa dingin yang menusuk kulit. Tapi alih-alih kedinginan, laki-laki yang kini terbaring di brankar malah semakin mengeluarkan banyak keringat. Matanya dipaksa terpejam, meskipun susah tapi deru napasnya dibuat se-teratur mungkin. Dia tidak ingin membuat orang-orang itu curiga.

"Sayang sekali, anak muda setampan kamu harus berakhir dengan sangat mengenaskan."

Suara lembut itu terdengar jelas di telinga Alan. Menyebabkan detak jantung yang kian bertalu-talu. Hal itu membuat Alan harus semakin pintar berpura-pura.

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang