T3 (36): Diculik

1.3K 67 22
                                        

♥ Happy reading ♥

"Kesabaran Papa sudah habis."

Jemari Za terus menggulir layar Handphone sewaktu Papa dan Zy berbicara. Di cari ... barang siapa ... imbalan, dan sederet kata lainnya membuat Za melemparkan ponsel ke meja.

Gadis itu mengusap wajahnya frustasi. Mau marah, tapi tertahan oleh hal yang tak kasat mata. "Tapi apa yang Papa lakuin itu memperburuk keadaan," semburnya.

"Berita Papa, menggemparkan seisi kota," sahut Zy.

"Kenapa? Bukannya kita bakal lebih cepat nemuin orang-orang itu?" Reymond bingung dengan maksud putrinya. Bahkan semakin bingung kala ini bukan yang pertama kalinya ia dilarang. Dulu, selepas kejadian tragis yang menimpa putranya, si kembar kecil juga melarang dirinya melakukan ini.

Zy menatap mata Reymond untuk menjelaskan, "mereka, para pelaku itu, akan kabur lebih jauh kalau tau sedang diincar oleh masyarakat."

"Dan hal paling buruknya adalah jati diri kita bisa ke ekspos, Pa," sambung Za. "Mungkin aja sekarang para pelaku itu lagi cari tau lebih dalam tentang keluarga Papa. Siapa Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, atau saudara dari orang yang udah mereka bikin mati. Mereka bisa aja antisipasi, siapa yang memungkinkan untuk balas dendam."

"Yang lebih parahnya lagi, sekali mereka tau siapa kita, mereka bakal bikin kita nyusul Bang Zevan ke alam baka," lanjut Zy semakin frustasi. Sampai-sampai tak memikirkan kalau perkataanya barusan berhasil menusuk kalbu.

Hati Reymond menclos seketika, rasanya sesak bercampur bingung. Apa yang putri-putrinya bilang barusan benar-benar menyadarkannya. Kenapa dia tidak memikirkan kemungkinan ini? Kenapa dia begitu gegabah?

"Ada yang mengintai rumah kita, aku yakin Papa tau itu," ujar Za semakin menambah rasa bersalah Reymond. "Kita nggak tau mereka siapa, Pa."

Zy jelas terkejut mendengar perkataan Za barusan, dia sama sekali tidak tau tentang hal ini. "Hah? Kok lo nggak bilang sama gue? Kapan, Za?"

"Gue nggak yakin, kayaknya udah lama, cuman baru ketauan sekarang."

"Kurang lebih seminggu setelah kamu membawa Aira ke rumah, Za," jawab Reymond memberitahu.

Jawaban Papa membuat jantung Zy berdebar kencang. Ada sesuatu yang tersambung di sini. Penguntit itu ....

Zy melebarkan bola matanya. "Jangan bilang, mereka orang yang sama."

Alis Za merespon tanda tak mengerti.

"Orang yang sama yang selalu ngikutin gue sejak lama."

Damn.

Za berdiri. "Lo diikutin?"

Tangan Zy gemetar, dingin merayapi telapak tangan. Napasnya memburu tak teratur, bibir menjadi pucat seketika. Perasaan ini aneh, sangat aneh sampai membuat Zy, secara tiba-tiba menjadi takut.

Di sela-sela air mata yang mengumpul di pelupuk mata, Zy mengangguk.

⭐★★⭐

Aira terpaksa harus pulang sendiri kali ini. Johan dan Lana sedang ada urusan, sementara Za pergi bersama Zy sejak pagi tadi. Pilihannya kali ini adalah bus, karena transportasi itulah yang paling ramah dikantong.

The Twin Transmigration Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang