Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terima kasih ya," Aran tersenyum manis pada perawat yang memberi sarapan untuk Chika.
Perawat itu pun memberi respon yang ramah pula pada Aran, setelah itu berlalu dari kamar Chika.
Aran menoleh ke arah wanita yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang di telponnya. Chika merebahkan dirinya di sofa dimana Aran tidur semalam.
"Iya Miss, mohon tambahannya satu hari lagi," ucap Chika.
------
"Okay siap, thank you Miss," Chika menutup telponnya dan bernapas panjang.
Akhirnya, ia mendapat izin satu hari lagi untuk tidak masuk kerja. Lumayan, tambahan untuknya beristirahat setelah kembali ke Jakarta.
"Ini sarapannya di makan dulu," ujar Aran.
"Nggak ah, masih kenyang," tolak Chika tanpa melirik makanan yang masih terbungkus rapi di atas nampan.
"Gimana gak kenyang, lo udah ngejarah kantin rumah sakit semalem,"
Chika hanya tersenyum tengil seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
Hari semakin siang, dengan matahari yang terik menyorot setiap kulit manusia yang berada di bawahnya, membuat mereka kelimpungan mengenakan tabir surya.
Laki-laki itu melepas kacamata hitamnya saat ia berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran Royal Hotel berbintang di Jakarta. Ia mulai mengamati sekelilingnya.
"Tunggu saya di lobby, pertemuan ini harus melibatkan saya," ucapnya.
Laki-laki itu melepaskan earphone yang sedari tadi tersambung dengan anak buahnya di hotel tersebut. Ia kemudian turun dari mobilnya, menuju lobby hotel dimana ia dan seseorang telah mengatur janji.
"Selamat siang pak Samuel," sambut pria yang terlihat lebih dewasa.
"Selamat siang," jawab laki-laki yang dipanggil Samuel menjabat tangan pria itu.
Mereka kemudian duduk di sana.
"Sudah aman semua?" tanyanya dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa didengar oleh pria di hadapannya itu.
"Sudah mas, target akan datang 5menit lagi," jawabnya tak kalah pelan.
"Baik pak, mari ikut saya ke ruangan pimpinan kami," lanjutnya dengan suara lantang agar dapat didengar semua orang, khususnya para staff hotel yang lain.
Mereka memasuki lift hanya berdua.
"Keren ya nama samaran gue," ucap Oniel menyombongkan diri.
"Yah dikit lah, itupun karena gue yang pilih buat lo," jawab pria itu.
Oniel terkekeh. Ia sengaja memalsukan namanya karena ini demi rencananya dapat berjalan dengan lancar tanpa merusak nama baiknya.
Oniel pun mengikuti pria tersebut yang tak lain adalah asisten dari manager Royal Hotel. Dia adalah Gabriel, orang kepercayaan Oniel yang berhasil menjadi asisten orang bejat yang selama ini membuatnya dan Aran gila. Usianya memang lebih dewasa dari Oniel dan Aran, tapi dia lah yang setia bekerja untuk Gracio sejak lulus SMA dan kehilangan seluruh anggota keluarga karena kecelakaan maut, hingga kini menjadi donatur tetap di salah satu sekolah menengah swasta di Jakarta. Oleh karena itu, apapun yang dapat ia lakukan demi Gracio dan keluarga, akan ia usahakan meski taruhannya nyawa.