Extra Chapter

3.6K 235 10
                                        

Chika menyapa kedua anaknya yang tengah berenang di kolam belakang rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Chika menyapa kedua anaknya yang tengah berenang di kolam belakang rumah. Ia
membawakan jus wortel untuk keduanya yang kini berenang ke tepian. Chika menatap aneh ke arah Kal yang berjalan mendekatinya dengan tangan seperti hendak memeluk.

"Amim cantik banget," katanya.

"Kamu basah ih jauh-jauh," tolak Chika.

"Yaelah,"

"Ini jusnya, kalian mau Amim masakin apa?"

"Apa aja deh asal kita makan siangnya bareng ya, bilangin Apip," ujar Keil.

"Pasti suami Amim itu gak pulang lagi kan?" lanjut Keil yang kemudian ditatap tajam oleh Kal.

Chika duduk di kursi panjang yang menghadap ke arah kolam sembari memperhatikan Keil mengayunkan tangannya berenang. Perasaannya kalut mengingat kejadian semalam dengan suaminya.

"Ya mau gimana lagi?"

"Nggak. Kamu yang yang harus kasih keputusan," ujar Chika malam itu.

"Yaudah, keputusan aku tetap kayak di awal. Kalo kamu gak mau, biar aku sendiri yang tinggal di sana,"

"Kamu mikirin anak-anak gak, sih? Seumuran mereka papanya malah gak tinggal di rumah, mereka butuh kamu. Aku butuh kamu, Aran. Kamu tega banget,"

Aran membuang muka tak menatap Chika. Perusahaan Ayahnya yang bangkrut setahun lalu membuat Aran melakukan segala hal demi membantu Gracio bangkit. Kali ini, ia harus berangkat ke Belanda untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan di sana demi usaha Gracio bisa berjalan lagi.

Sedangkan Chika menolak pindah karena anak-anaknya masih baru saja memasuki sekolah tingkat pertama di Sekolah Internasional di Jakarta. Lagipula, jika ia meninggalkan Jakarta dalam waktu yang lama, apa yang akan terjadi dengan bakery dan perusahaan Aran? Keadaan akan makin runyam. Di sisi lain, ia juga memohon pada Aran untuk tidak pergi terlalu lama. Estimasi kepergian Aran selama satu tahun itu membuat Chika berpikir kacau.

"Kamu tau kan aku lakuin ini demi apa dan siapa? Ayah udah berjasa banyak buat aku, Chik. Ini yang bisa aku lakuin untuk membalas sedikit," ujar Aran.

"Tapi kamu gak mikirin kita, Ran. Anak dan istri kamu juga butuh kamu. Berapa makan siang dan dinner bareng kita yang udah kamu lewatkan? Kapan terakhir kali kamu ngobrol sama Kal dan Keil? Hah? Ka-"

"Stop Chika!"

Chika menatap jalang ke arah Aran dengan kaki yang gemetar. Teriakan Aran membuatnya takut.

"Anak-anak masih punya mama kayak kamu, mereka masih dapet kasih sayang kamu. Cukup kan? Urus aja anak-anak kamu,"

Aran meninggalkan kamar dengan membanting pintu hingga tertutup. Sedangkan Chika sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi karena menghadapi Aran yang kini menjadi tempramen.

Urus aja anak-anak kamu...

Kata-kata apa lagi itu?

Keil menempelkan jus dingin itu di pipi Chika dan membuatnya tersentak, "melamun terus mim."

SUPER TEACHER (CHIKARA) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang