Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chika dengan telaten menyuapi Aya makanan yang diberi perawat beberapa menit yang lalu. Aya selalu menolak kerap kali Chika menyuapkan makanannya. Mungkin karena tidak nafsu karena bawaan sakit? Tapi, beberapa hari lalu Aya masih lahap memakan apapun yang Chika siapkan. Chika mulai menggerutu dengan raut wajah sedihnya.
"Mami lagi gak mau makan apa-apa Chika," jawabnya.
"Kalo mami sembuh, Chika janji bakal beliin apapun buat mami. Makanan apapun, atau barang apapun. Chika turutin, Chika kasih apapun kemauan mami,"
Haha terdengar konyol, nyatanya jika Aya mau pasti dengan mudah ia mendapatkannya sendiri. Chika agak tak yakin mengucapkannya, tapi apa boleh buat.
Aya tersenyum menggelengkan kepalanya pelan.
"Mami cuma mau liat anak mami gak sendirian lagi, mau ada yang jagain," ujarnya lalu mendapat tatapan aneh dari Chika.
"Mami serius nak," lanjut Aya.
"Kan ada mami yang jagain," jawab Chika. Jujur saja ia sangat paham dengan maksud Aya. Maminya sering sekali menyinggung soal ini bahkan sebelum adanya tragedi yang membuatnya tak bisa apa-apa seperti sekarang.
Menikah? Yang benar saja.
Tok Tok...
Pintu kamar Aya terketuk dari luar, sepertinya ada tamu yang menjenguknya lagi. Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan menampakkan Aran yang datang dengan aneka buah-buahan di tangannya.
Senyum Aya tergambar sumringah karena kedatangan Aran, Chika memperhatikan setiap laku Aran di ruangan itu. Senyum ramahnya selalu menghangatkan, dulu Chika begitu menyukainya.
"Aku ke luar sebentar ya, haus," ujar Chika lalu pergi dari sana.
"Cepet pulih ya mih, Chika pasti seneng banget kalo mami membaik dan cepat sembuh, mami juga pasti kangen sibuk kerja kan?"
Aya tertawa kecil, benar juga. Aya termasuk orang yang lumayan sibuk sehari-harinya, lalu tiba-tiba kondisi seperti ini membuatnya berbaring setiap hari.
"Ran,"
"Kapan mau nikahi anak mami?"
Aran mematung, apa yang harus ia jawab sekarang? Jangankan menikahi, mendekatinya saja kadang mental Aran masih goyah. Chika yang sekarang begitu dingin dan perfeksionis, Aran selalu merasa tertantang untuk berkomunikasi dengan Chika.
Selama ini Aya tak pernah tahu tentang hubungan Chika dan Aran yang merenggang. Sebab Chika tak pernah menceritakan perihal itu terhadapnya, Chika hanya bilang bahwa hubungannya dengan Aran selalu baik.