Kekalahan Pertama

3.8K 209 4
                                        

Juan meluruhkan tubuhnya di pinggir jalan sesaat setelah kekalahan datang menyambutnya. Selama 2 tahun akrab berkiprah di dunia balap, ini kali pertama ia mendapatkan kegagalan. Beberapa pendukungnya datang memberi semangat, namun cowok itu seakan tak mendengar. Juan sibuk merutuk dalam hati.

"Juan, nggak biasanya lo kayak gini. Kenapa?"

Brian menyodorkan air mineral pada sang sahabat saat telah mendaratkan bokongnya di samping Juan yang terduduk lemas. Juan menerima namun tak berniat meminumnya.

"Kurang enak badan kayaknya. Tadi tiba-tiba kepala gue pusing."

Juan tak bohong. Sejak tadi pagi tubuhnya memang kurang sehat. Bisa mengikuti pelajaran di sekolah sampai selesai pun sudah menjadi suatu kebanggaan bagi cowok itu. Pemuda itu jarang sakit, bahkan dalam setahun pun demam bisa dihitung dengan hitungan jari.

"Gue anter pulang ya? Biar motor lo dianter sama yang lain. Kebetulan gue bawa mobil."

"Bener tuh, Ju. Daripada lo kenapa-napa di jalan?" sahut teman lainnya.

Sebenarnya Juan ingin menolak. Namun begitu kepalanya lagi-lagi kembali pusing, cowok itu mau tak mau menerima tawaran Brian. Ketika Juan berdiri pun, cowok itu hampir limbung jika saja tak ada Brian yang menahan tubuhnya agar tak jatuh tersungkur.

Juan melangkah dengan pelan, dan Brian pun memaklumi. Saat akan memasuki mobil, salah satu lawannya saat balapan tadi menghampiri keduanya.

"Sorry, Bro. Gue menang." Namanya Arashi, cowok yang membuat Juan kalah untuk pertama kali.

Juan berdecih. Dari nada bicara Arashi, Juan sudah bisa menebak bahwa cowok itu tengah meremehkannya. Kalau saja Juan tak sedang sakit, mungkin saja Arashi sudah ia buat menginap di rumah sakit.

"Kalau gue nggak lagi sakit, lo bukan tandingan gue."

Arashi mendengkus kesal melihat kesombongan yang ditunjukkan oleh Juan. Namun kekesalannya segera berakhir saat panitia memberikan hadiah yang menjadi idamannya sejak kemarin. Sebuah motor baru keluaran terbaru dengan harga fantastik.

"Udah, Ju. Kita pulang. Lo perlu istirahat."

Brian semakin dibuat khawatir saat melihat wajah Juan yang semakin pucat. Ia memapah temannya hingga berhasil sampai ke mobil. Cowok itu membiarkan Juan untuk berbaring di belakang mobil sementara ia mulai melajukan kendaraan roda empatnya.

***

Begitu Brian menginjakkan kaki di rumah Juan, kehadirannya hanya disambut oleh seorang wanita yang ia tahu adalah mamanya Juan. Juan terlelap damai hingga membuat Brian tak tega untuk membangunkan cowok itu. Ia terpaksa menggendong Juan.

"Ya Tuhan, Juan. Ini kenapa?"

Liana menghampiri Brian dan mengusap punggung sang putra yang terpejam damai. Hatinya mencelos saat melihat wajah Juan yang terlihat sangat pucat tanpa rona. Meski Liana sering mendapati Juan pulang larut malam, namun sebagai seorang ibu, wanita itu memiliki ikatan batin yang kuat. Pantas saja sejak tadi sore perasaannya tak enak. Ternyata sang putra tengah sakit.

"Meriang anaknya, Tan. Ini kamar Juan di mana ya?"

Embusan napas pelan keluar dari bibir Liana. Ia menginterupsi Brian untuk mengikuti langkahnya menuju lantai dua di mana kamar Juan berada. Begitu sampai, Brian membaringkan tubuh Juan ke ranjang dengan hati-hati.

"Badannya anget, Tan. Mending kompres air anget," Brian menyentuh kening Juan yang memang terasa hangat, "apa perlu dibawa ke rumah sakit?"

Liana menggeleng. Sepertinya memang hanya demam biasa. Jadi Liana akan merawat sang putra sendiri.

"Nanti aja kalau ternyata panasnya masih belum turun, Yan."

Liana memgulas senyum ramah pada teman Juan. Ia mengantar Brian sampai ke depan pintu rumah begitu cowok itu berpamitan untuk pulang.

"Makasih udah anter Juan ya, Yan."

"Sama-sama, Tan. Juan kan temen saya. Kalau gitu saya pulang dulu, Tan."

Liana melangkahkan kakinya lagi ke arah kamar sang putra setelah mengantar Brian sampai ke depan pintu. Matanya memandang Juan dengan tatapan prihatin. Sejak kecil, setiap kali Juan sakit seperti ini, hanya ia yang merawatnya. Suaminya lebih memilih pekerjaan dibanding melihat keadaan Juan.

"Ju, bangun dulu ya?"

Mata yang terpejam itu kini terbuka. Namun tubuhnya seperti tak bertulang. Untuk mengangkat tangannya pun Juan tak mampu.

Melihat sang putra yang terlihat kepayahan dalam menghadapi demamnya, Liana jadi makin khawatir. Wanita itu mengusap air mata yang mengalir di pipi Juan.

"Sakit banget ya?" Liana membenarkan selimut yang membungkus tubuh Juan, "biar Mama siapin kompres hangat dulu."

Wanita itu melangkah ke dapur dengan terburu-buru untuk mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Juan. Rumah sedang hening karena memang malam sudah larut membuatnya harus menyiapkan segalanya sendiri. Para ART akan pulang saat sudah jam 7 malam.

"Cepet sembuh anak ganteng Mama," Liana mengecup kening Juan berkali-kali, "jangan sakit lagi."

Senyum teduh terukir di bibir Liana saat ia meletakkan handuk kecil yang sudah tercelupkan air hangat pada kening Juan. Sang putra terlihat damai dalam pejamnya. Sesaat Liana seolah dibawa pada kenangan masa lalu saat Juan masih kecil. Juan akan berubah jadi anak manja saat sedang sakit seperti ini. Namun seiring waktu berjalan, Juan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup.

"Semoga mata papa kamu kebuka ya, Nak."

Inilah alasan ia selalu memanjakan si tengah. Sang suami selalu bertindak tak adil hanya karena kemampuan otak Juan berbeda dengan dua saudaranya yang lain.

Tbc

Maaf kalau cerita ini agak kaku. Aku akan semedi biar lebih dapet feel. Soalnya pertama kali pakai visual Jake. Jadi harus lebih ningkatin feel. Aku akan nyari lagu yang cocok buat nemenin nulis 😿

 Aku akan nyari lagu yang cocok buat nemenin nulis 😿

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang