Menjenguk Teman Baru

1.8K 113 3
                                        

Jevan mengusak rambutnya kasar. Tubuhnya bersandar lemas pada sofa ruang keluarga. Hal itu tak lepas dari perhatian Xabiru. Bahkan sulung tampan itu melihat ada jejak air mata di sekitar bola kembar itu.

"Van? Kenapa?"

Sang adik masih bungkam. Bahkan kini rungu Xabiru mendengar isakan lirih dari Jevan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jevan menangis di depannya. Seumur hidupnya, Jevan tak pernah menunjukkan sisi rapuhnya. Bahkan di saat Liana berpulang, cowok yang memiliki dua lekukan manis di pipinya itu tetap terlihat tegar.

"Kak Juan, Bang. Kita nyaris kehilangan dia."

Jevan mendongak. Terlihat di mata Xabiru wajah sembab sang adik. Alis Xabiru menukik. Cukup terkesiap mendengar ucapan Jevan yang terdengar frustrasi.

"Maksud lo?"

"Kak Juan tadi hampir bunuh diri. Untung ada yang nolong."

Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding melihat kehancuran Juan. Sosok tangguh yang bodohnya pernah mereka sia-siakan. Kehilangan Liana pasti telah membawa separuh jiwa Juan.

"Bang, gue nggak mau kehilangan lagi."

Isakan kecil kembali lolos dari bibir Jevan. Beruntung Juan telah istirahat di kamarnya. Jevan tak perlu takut si tengah melihatnya dalam keadaan rapuh.

Xabiru diam. Masih belum mampu menjawab setiap kata yang keluar dari bibir adik bungsunya. Dada cowok itu sesak. Tak menyangka kepergian Liana membuat Juan berniat untuk menyerah.

"Van, gue pun juga nggak mau kehilangan Juan. Gue masih belum bisa nebus kesalahan gue," tutur Xabiru, "kita harus hibur Juan."

Xabiru meraih tubuh Jevan, memberi usapan lembut yang ia harapkan mampu menenangkan hati sang adik. Di sinilah perannya sebagai sulung semakin harus ditunjukkan. Bahunya harus semakin kokoh demi menguatkan Jevan dan Juan.

Jevan terdiam. Cowok itu juga ingin menghibur Juan. Namun si tengah belakangan ini hanya diam saja setiap kali diajak mengobrol. Bahkan Juan lebih banyak melamun.

"Bang, gue makin ngerasa nggak berguna. Kenapa sumsum tulang belakang gue nggak cocok buat Kak Juan?"

Jevan teringat dengan hasil pemeriksaannya kemarin yang menunjukkan sumsum tulang belakangnya tak cocok. Begitu pun milik Xabiru dan Arlan.

"Perasaan lo valid. Gue pun juga ngerasain hal yang sama. Tapi kata dokter, sumsum tulang belakang juga bisa didapat dari orang yang nggak punya hubungan darah. Inget?"

Xabiru masih memiliki keyakinan penuh atas kesembuhan Juan. Demi apa pun, cowok bertabur freckles di wajahnya itu tak akan rela kehilangan Juan. Ada sejuta kata maaf yang tak akan cukup untuk membayar semua penderitaan yang dialami Juan karena keegoisannya selama bertahun-tahun.

***

Kaca yang telah retak memang mustahil untuk disatukan dengan sempurna. Begitu pun kesalahan yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Juan pernah menjadi sosok yang terlupakan. Mereka seolah lebih mencintai kehidupannya di luar sana dibanding dengan keluarga, terlebih dirinya.

"Kakak, mau ke mana? Biar gue anter ya?"

Senyum miring terukir di bibir Juan. Pemuda itu menatap atensi Jevan yang kini berdiri di hadapannya. Perasaan muak itu masih bersemayam di hatinya.

"Mau ke rumah temen. Gue bisa sendiri."

Juan baru akan kembali melangkah, namun sebuah suara membuatnya meradang. Ia membalikkan tubuhnya, dan ditatapnya sosok di hadapannya dengan tatapan tajam.

"Jangan kekanak-kanakan, Juan. Kalau kamu pingsan di jalan gimana? Jangan ngerepotin orang."

Hatinya seolah tergores. Ucapan itu terlontar dengan lancar dari bibir papanya. Kedua tangan Juan terkepal erat. Bibir pucatnya bergetar. Jevan yang sadar akan kesalahan papanya pun ingin menegurnya, namun Juan sudah terlanjur sakit hati.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang