Topeng Mereka Terbuka

3.8K 190 16
                                        

Jevan menatap kakaknya yang tengah terpejam dengan pandangan nanar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jevan menatap kakaknya yang tengah terpejam dengan pandangan nanar. Sosok yang sejak dulu selalu ia benci kehadirannya kini mungkin saja sedang di ambang kematian. Seharusnya Jevan bahagia mendengarnya karena tak akan ada lagi yang membuat keributan di keluarganya. Namun yang terjadi, cowok itu terluka. Jevan merasa hatinya tak ikhlas.

"Lo nggak boleh mati, Kak."

Kedua tangannya bersidekap. Ia telah menunggu Juan sejak kemarin. Dan kata dokter, Juan diizinkan pulang setelah cairan infusnya habis. Sebenarnya ia tak sepenuhnya berada di rumah sakit. Ketika Juan terbangun, ia lebih memilih bersembunyi karena belum siap bersitatap dengan sang kakak.

Matanya mengarah pada lengan yang terlihat lebam. Berdasarkan sumber yang ia cari di internet, lebam keunguan ini biasa muncul pada penderita Leukemia Mieloblastik Akut. Saat membaca ciri-ciri penyakit itu, Jevan tak sanggup lagi. Cowok itu tak kuat membayangkan sesakit apa yang akan dirasakan Juan ke depannya.

"Ma ...,"

Jevan terkesiap. Ia ingin bersembunyi, tapi tak ada sang mama di sini. Liana tengah pergi untuk mengurus administrasi karena sebentar lagi Juan akan pulang.

Mau tak mau Jevan harus tetap berada di sisi Juan. Cowok itu mengusap pergelangan tangan sang kakak hingga si empunya menoleh.

"Van?"

"Iya, ini gue. Gue disuruh mama nungguin lo."

Bohong. Bahkan Jevan sendiri yang menawarkan diri untuk menunggu Juan sampai pulang nanti. Namun hati Jevan masih bimbang. Baginya ini terlalu mendadak karena bertahun-tahun sikapnya pada sang kakak tak begitu baik. Sejak dulu sikapnya terkesan dingin dan jarang mengobrol dengan si tengah. Berbeda dengan Xabiru dan papanya yang terlihat terang-terangan mengibarkan kebencian pada Juan.

"Nggak usah ditungguin nggak apa-apa."

"Nggak. Gue nggak mau mama marah kalau gue ninggalin lo."

Juan tak lagi membalas perkataan sang adik. Cowok itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentang kematian, tentang masa depannya yang memang sudah hancur, dan tentang penyakitnya. Semua itu membuatnya merasakan sesak hingga tanpa sadar menangis dalam diam.

"Ya Tuhan, apa ini hukuman atas kenakalanku?"

Dan segala pergerakan sang kakak saat ini tertangkap oleh indera penglihatan Jevan. Ingin rasanya ia menghibur Juan, namun otaknya berusaha menolak. Pada akhirnya ia hanya memperhatikan dalam diam.

Padahal Juan berniat fokus dengan kelulusannya. Cowok itu hanya berusaha membuktikan pada Arlan kalau ia bisa lulus meski nantinya mendapat nilai pas-pasan. Namun monster itu datang mengacaukan semua rencana Juan.

"Seneng kan lo, Van?"

Alia Jevan menukik mendengar ucapan lirih sang kakak. Meski terdengar pelan, telinganya cukup tajam untuk nendengat suara Juan.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang