Nyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia.
Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Juan memasuki ruangan yang akan menjadi tempatnya menjalani kemoterapi hari ini. Kata Dokter Aldo, pengobatan berlangsung selama 3 jam. Waktu yang cukup lama seandainya efek sampingnya mulai datang. Jantung Juan berdetak dua kali lebih cepat.
"Santai aja, Mas. Selama proses kemo nggak semenyakitkan yang ada di film-film kok."
Cowok itu diminta berbaring, sementara Dokter Aldo yang dibantu dua orang ners mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan. Juan akan menjalani kemoterapi dengan pemberian obat lewat infus.
"Mama ada di sini, Nak."
Juan mengembuskan napas pelan, menghalau rasa takut yang membelenggunya sejak tadi. Liana duduk di sofa selama para tenaga medis melakukan tugasnya demi memberi ruang lebih pada mereka. Saat lengannya ditusuk oleh jarum infus, cowok itu refleks meringis, merasakan kulit putihnya ngilu.
"Semangat!"
Liana menggumamkan kata penyemangat dengan lirih saat Juan kembali menatapnya saat jarum infus telah terpasang.
Meski hatinya meraung gelisah saat melihat sang putra sempat merintih kesakitan, namun ia mencoba untuk menyembunyikan kegundahannya. Liana hadir untuk menyalurkan semangat untuk Juan, bukan untuk mematahkan semangat cowok itu.
"Nah, sudah, Mas. Kemo berlangsung kurang lebih 3 jam dari sekarang. Mungkin nanti akan ada efeknya," Dokter Aldo mengalihkan pandangannya pada Liana, "Ibu, di sebelah ranjang ada emesis basin, nanti mungkin Mas Juan akan mengalami mual-mual. Dan untuk semua efek yang dirasakan Mas Juan ini nggak ada obatnya. Efeknya bisa berlangsung beberapa jam, bahkan beberapa hari."
Liana mengangguk pasrah. Setelah mempersilakan para petugas medis untuk keluar dari ruang rawat, wanita itu melangkah mendekat ke arah sang putra yang kini menatapnya sayu. Liana menggenggam lembut punggung tangan Juan yang terbebaa dari jarum infus.
"Nggak perlu takut ya. Mama bakal selalu nemenin kamu sampai sembuh."
Liana mengusap kening sang putra. Beberapa waktu terlewati tanpa ada yang membuat Juan mengeluh sakit. Hanya saja rasa bosan membuatnya sedikit mengantuk. Apalagi kemoterapi masih berlangsung satu jam lagi. Namun agaknya rasa kantuknya mulai sirna, tergantikan oleh rasa tak nyaman di beberapa bagian tubuhnya.
"M-Ma, udahan. Please ...,"
Juan memejamkan mata erat saat gelombang rasa sakit menghantam tubuhnya. Tulang-tulangnya seolah dipaksa untuk terlepas. Cowok itu bahkan tak mampu mendeskripsikan rasa sakit yang kini semakin menyiksanya. Seluruh tubuhnya terasa sangat ngilu.
"Sabar ya, Kak. Bentar lagi sakitnya ilang."
Liana rasanya ingin menggantikan posisi dang putra. Hatinya seolah tergores saat melihat Juan merintih kesakitan dengan kerutan samar tercetak di keningnya. Remasan kuat tangan Juan padanya yang menimbulkan nyeri pun rasanya tak sebanding dengan rasa sakit yang kini memborbardir tubuh sang putra.