Dendam Yang Makin Membara

2.6K 157 19
                                        

Comment lah my dear 😻

♡♡♡

Sudah 3 hari sosok itu betah memejamkan mata. Harapan untuk Ujian Nasional bersama teman-temannya yang lain pun sepertinya akan pupus. Keadaan Juan sudah stabil, hanya saja kesadaran sulit untuk diraih. Cowok itu sepertinya masih enggan bangun.

"Kak, ini Mama. Kamu enggak kangen sama Mama, ya?"

Liana setia mendampingi Juan. Bahkan ketika letih itu datang, wanita itu tak mau beristirahat. Dan berakhir ia ketiduran di sofa ruang rawat Juan. Tak ada yang lebih menakutkan baginya selain kehilangan anak. Bahkan ucapan Arlan yang menyuruhnya untuk istirahat sejenak di rumah pun tak digubris.

"Bentar lagi Ujian Nasional. Kata kamu, kamu pengin ujian? Kenapa nggak mau bangun?"

Liana mengusap rambut Juan yang agak memanjang. Melihat dada sang putra yang naik turun secara normal membuatnya lega. Itu artinya Juan masih mau berjuang walau harus merangkak. Wanita itu selalu was-was ketika malam datang. Liana selalu melihat pergerakan dada Juan.

"Kamu tahu, nggak? Molly bahkan nggak napsu makan. Dia kayaknya kangen banget sama kamu deh."

Wanita itu tersenyum sendu begitu mengingat cerita Jevan ketika sang putra pulang ke rumah untuk istirahat dan memberi makan Molly. Nyatanya yang merindukan sosok pangeran tidur itu tak hanya keluarganya, namun juga anjing pintar Molly. Anjing itu selalu bergelung sendirian di kamar Juan dengan raut wajah muramnya. Bahkan ketika Jevan memberi makan, Molly hanya memakannya sedikit saja.

"Andai bisa, Mama pengin ambil semua rasa sakit kamu. Mama rela. Asal anak Mama ini bisa--"

Liana sontak terdiam saat jemari dalam genggamannya bergerak. Senyum mulai terlukis dari bibir wanita itu saat perlahan ia melihat mata itu mulai terbuka.

"Mama tahu kamu dengerin ucapan kita, Nak."

Liana melangkah cepat keluar ruang rawat Juan untuk memanggil dokter tanpa mengingat bahwa ia seharusnya hanya perlu menekan nurse call yang ada di atas ranjang Juan. Wanita itu terlalu bahagia karena penantiannya selama 3 hari ini terbayar.

***

Sang dokter beserta dua perawat keluar dari ruang rawat Juan. Kali ini senyum mereka memberi isyarat sebuah kabar bahagia. Membuat Liana merasakan kelegaan. Begitupun Arlan yang setia merangkul bahu sang istri.

"Berkat doa keluarga, Mas Juan telah sadar dari komanya. Namun mengingat 3 hari dia koma, dia mungkin akan susah merespon bahkan sampai ngomong random. Jadi maklumi saja ya, Bu, Pak. Tapi nggak akan lama. Palingan cuman beberapa jam ke depan," jelas sang dokter.

Baik Liana maupun Arlan mengangguk paham. Rasa lega menyelimuti hati keduanya. Begitupun satu putranya yang lain. Xabiru diam-diam mengucap syukur pada Tuhan atas kembalinya Juan pada mereka. Bahkan Jevan langsung melesat ke rumah sakit ketika kabar sang kakak bangun dari koma, padahal ia tengah tidur di rumah.

"Dan untuk kemoterapi yang seharusnya sudah dilakukan, saya sudah bicara dengan Dokter Aldo. Mas Juan bisa menjalani kemo pas udah fit, seenggaknya sampai bisa rawat jalan."

Mendengar kata kemoterapi, membuat keluarganya merinding. Apalagi Liana yang menjadi saksi seberapa tersiksanya Juan kala efek pengobatan itu ia rasakan.

"Makasih, Dok."

Lantas setelah para petugas medis pergi, mereka mulai masuk ke ruangan tempat Juan berbaring. Dapat dilihat sang pangeran tidur telah membuka mata walau tatapannya masih kosong.

"Nak, apa yang kamu rasain sekarang?"

Seperti yang sudah dokter katakan, Juan memang belum mampu merespon setiap orang yang mengajaknya bicara. Cowok itu tetap diam, bahkan saat tangannya yang terbebas dari jarum infus digenggam lembut tangan Liana.

"Kita seneng loh kamy bangun. Jangan tidur lama lagi, ya."

Liana kembali mengusap helaian rambut sang putra seraya mengulas senyum leganya. Meski sang putra tetap diam, setidaknya ia kembali bisa melihat mata itu lagi.

"Lihat, ada Bang Biru sama papa kamu."

Mendengar namanya disebut, baik Xabiru maupun Arlan jadi semakin merasa canggung. Keduanya bahkan kompak membuang muka saat Liana menatap mereka.

"Mana Jennie Blackpink?"

"Hah?"

"Tadi aku ajak dia nikah, dan dia mau."

Ucapan random Juan membuat keluarganya terkesiap. Bahkan suasana haru dan menyesakkan tadi berubah jadi lucu. Ucapan dokter memang benar. Orang yang baru bangun dari koma memang suka bicara melantur, termasuk Juan yang kini masih menatap satu per satu keluarganya dengan pandangan tanya.

***

Sosok itu duduk sendiri di pojok ruangan. Kedua tangannya saling mengepal. Mata setajam elang itu menatap nyalang ke depan. Ada pancaran dendam di sana. Brian tak bisa melupakan bagaimana ia terpaksa harus mendekam di tempat mengerikan ini karena Jevan dan keluarganya.

"Gara-gara lo, Juan. Lo pikir lo udah menang?"

Brian meringis saat sudut bibirnya yang memar terasa ngilu. Beberapa bagian wajahnya memang banyak memar kebiruan. Remaja itu kemarin berteriak penuh amarah hingga membuat narapidana lain emosi. Jadi mereka memberi hadiah selamat datang pada Brian berupa pukulan-pukulan yang sakitnya bukan main.

"Orang penyakitan kayak lo harusnya mati. Nyusahin gue aja lo."

Brian terus bergumam lirih, meluapkan segala amarahnya pada sosok yang dulu menyandang status sebagai sahabatnya. Tanpa mengingat dulu Juan pernah berjasa merengkuh Brian kala cowok itu merasa down, rasa dendam dan iri telah membutakan segalanya.

"Nggak ada yang mau temenan sama gue."

"Kata siapa? Gue mau kok jadi temen lo."

Brian mendongak. Melihat sosok yang ia tahu sebagai cassanova di sekolahnya berdiri dengan senyum teduh yang menenangkan. Juan mengulurkan tangannya pada Brian. Menawarkan pertemanan tulus untuk Brian.

"Tapi gue orang miskin. Mereka pada nggak mau temenan sama gue. Lihat penampilan gue."

Tampilan Brian memang terlihat biasa saja. Cowok itu berasal dari keluarga yang sederhana, bisa dibilang ia tak terlalu kaya, tapi juga tak muskin. Juan terkekeh lucu. Baginya, pertemanan tak perlu memandang kasta. Semua manusia di dunia ini memiliki derajat yang sama. Liana tak pernah mengajarkan dirinya untuk memilih teman berdasarkan kekayaan.

"Emang gue peduli? Gue temenan sama siapa pun asal mereka baik. Lo orang baik, kan?"

Tentu saja Brian mengangguk mantap. Ia tak pernah merasa berbuat jahat pada siapa pun walau banyak orang yang meremehkannya. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menawarkan pertemanan.

"Jadi lo mau temenan sama gue ... Juan?"

Mendapat pertanyaan bernada keraguan seperti itu, Juan langsung mengangguk mantap. Tangannya terulur pada si sahabat barunya. Dan dengan gerakan kaku, Brian membalas uluran tangan itu.

"Lo akan menerima balasan dari gue, Juan. Tunggu aja."

Cowok itu menyeringai tipis. Tak peduli pada beberapa narapidana lain yang menatapnya heran. Dalam otaknya sudah terancang sebuah rencana jahat. Tak peduli jika nanti ia akan semakin lama berada di balik jeruji besi.

Tbc

Mode ngebut, biar cepet ending. 😼

Oh iya, orang abis koma emang suka ngomong ngelantur, dan itu fakta. Jadi cerita fiksi emang sesuai imajinasi, halu kita. Tapi aku nggak mau memperbanyak plot hole. Orang bangun dari koma nggak mungkin langsung bisa ngomong normal, apalagi jalan-jalan. 😉

(Susah sinyal, nggak bisa sertain bonus foto)

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang