Tak Ada Harapan

2.5K 144 6
                                        

"Gue harus segera kabur dari kota ini, Yan."

Sepasang kakak beradik itu duduk berhadapan. Suasana menjadi lebih tegang ketika salah satunya dilanda panik.

"Bang, tapi besok pengumuman kelulusan gue."

Bara mengumpat dalam hati. Cowok itu hampir lupa. Sekalipun Brian mendekam di penjara, adiknya tetap mendapat haknya mengikuti ujian akhir. Dan memang besok adalah pengumuman kelulusan Brian.

"Nggak bisa."

Bara melirik hati-hati ke sekeliling ruangan tempatnya menjenguk Bara. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia baru tahu siapa sebenarnya yang sedang ia lawan. Dan kini Bara harus menghadapi ketakutannya sendiri.

"Orang tua Juan udah hampir nemuin gue. Gue harus kabur."

Brian memejamkan matanya. Rasa bersalah sedikit menggores hati. Tak hanya menghancurkan masa depannya, kini ia juga telah menyeret kakak kandungnya ke dalam lingkaran hitam masalah yang ia ciptakan sendiri.

"Bang, gue minta maaf," bisik Brian.

Si kakak hanya mendengkus kesal. Pada kenyataannya, semua tak akan terjadi jika ia mampu mengontrol emosi dan menggunakan logika.

"Nggak usah minta maaf. Gue juga salah," Bara mengusap helaian rambut adiknya. "gue pergi dulu. Lo ... lo jaga diri baik-baik."

Brian mengangguk pelan. Matanya mengikuti pergerakan Bara sebelum akhirnya ia digiring polisi untuk masuk kembali ke dalam sel tahanan. Dalam diamnya, cowok itu tak berhenti mengucapkan maaf pada kakak dan juga mendiang kedua orang tuanya. Sejujurnya rasa sesal itu sudah mulai memegang kendali hati dan pikirannya.

Seandainya ia tak memiliki rasa iri.

Seandainya ia tak menghancurkan hidup Juan.

Seandainya ia hidup dengan rasa syukur.

Banyak kata seandainya yang ia lirihkan. Kata maaf pun tak akan mampu mengembalikan keadaan. Di mana ia masih berteman akrab dengan Juan.

***

"Bangsat! Brian! Nggak adek, nggak kakaknya sama aja. Pa, tangkap bajingan ini."

Tatapan Jevan tajam bak elang saat amarah kembali menguasai hati. Setelah melakukan penyelidikan bersama para polisi, akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Plat nomor yang tertangkap dalam CCTV milik Bara, kakak kandung Brian. Dengan kata lain, bisa saja Brian dijatuhi pasal berlapis karena menjadi dalang pembunuhan berencana yang menimpa Arlan dan Liana.

Tak jauh beda dengan Jevan, papa dan kakak sulungnya pun juga tengah diselimuti emosi. Tak menyangka, sosok yang telah terkurung di balik jeruji besi bisa membuat rencana sejahat ini hingga membuat wanita tersayang mereka harus berada di ambang batas kematian.

Sang kakak meminta Jevan kembali duduk. Biar bagaimana pun, mereka tengah berada di kantor polisi. Para penegak hukum sengaja mengundang mereka untuk mengetahui hasil penyelidikan mereka.

"Pak, saya meminta agar Brian dan kakaknya dihukum berat. Saya rasa bisa karena usia mereka sudah legal."

Brian memang telah memasuki usia legalnya. Tahun ini saja ia sudah menginjak usia 18 tahun.

"Kita jalani aja proses persidangan, Pak. Apalagi kita sudah mengantongi banyak bukti. Tinggal kita melakukan penangkapan pada  Saudara Bara di rumahnya."

Arlan dan kedua putranya yang menemani mengangguk puas. Hukuman yang dijatuhi mungkin tak sebanding dengan penderitaan yang dirasakan Juan dan Liana, namun mereka setidaknya mampu bernapas lega karena hukum berbicara.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang