"Saya menduga gejala yang dialami Mas Juan sudah berlangsung lama, tapi dia menganggap gejala itu sebagai angin lalu aja, Bu."
Liana mengusap helaian rambut sang putra yang masih betah mengarungi mimpi. Kata dokter, Juan butuh istirahat penuh. Kondisinya sudah stabil dan tak perlu ada yang dikhawatirkan. Bahkan kini Juan telah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Namun sebagai seorang ibu, tak ada kelegaan yang ada di hati. Liana tetap merasa takut menghadapi hari esok di mana ia harus melihat putra yang ia kandung selama hampir 9 bulan kesakitan.
"Ada beberapa metode pengobatan yang bisa Mas Juan jalani seperti kemoterapi, terapi imun, radioterapi, dan terakhir operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Dan semua tergantung dengan semangat dan persetujuan Mas Juan sendiri."
Tangan yang terkulai lemas itu ia raih dan ia kecup dengan lembut. Hati ibu mana pun pasti akan terluka saat mendapati buah hatinya diserang oleh monster. Apalagi tadi ia sempat membaca tentang penyakit yang kini bersarang di tubuh Juan.
Dada wanita itu luar biasa sesak saat membaca kemungkinan paling parah adalah kematian. Liana tak akan rela kehilangan Juan. Bahkan ia lebih memilih berpulang lebih dulu dibanding sang putra.
"Ssh ... Ya Tuhan ...,"
Rintihan pelan itu mengalihkan perhatian Liana. Mata wanita itu membola saat melihat netra itu berbuka walau hanya segaris. Ia merunduk ke arah wajah Juan yang terbingkai oleh masker oksigen. Tangan itu memijit pelan kening Juan yang mengerut.
"Kak, ini Mama," bisik Liana tepat di telinga sang buah hati.
Mendengar suara lembut sang mama, Juan menoleh perlahan. Tak tahu bagaimana ia mendeskripsikan rasa sakit apa yang menghujam tubuhnya, air mata Juan meluruh.
"M-Ma," Juan memejamkan matanya erat untuk sesaat, "sakit, p-pusing."
Liana memalingkan wajahnya sesaat demi menghapus air mata yang tak mampu ia tahan. Erangan kesakitan Juan membuat wanita itu tak tega.
"Sabar ya, Kak. Bentar, Mama panggil dokter dulu."
Liana menggenggam sebelah tangan Juan, sementara salah satu tangannya menekan nurse call yang ada di atas ranjang. Dan tak berselang lama, seorang dokter dan ners datang dengan membawa beberapa alat medisnya. Sontak, wanita itu melepas genggaman tangan itu dan memilih menyingkir untuk memberi space untuk mereka memeriksa Juan.
"Mas Juan udah nggak apa-apa, Bu. Sakit yang dia rasain sekarang akan hilang. Wajar Mas Juan baru bangun soalnya. Kalau keadaannya semakin membaik, Mas Juan bisa segera pulang."
Liana hanya mengangguk kaku. Matanya hanya fokus pada Juan yang kini telah membuka mata dengan pandangan kosong.
"Kalau gitu kami permisi. Kalau ada apa-apa, panggil saja kami."
Liana mempersilakan mereka untuk meninggalkan ruang rawat Juan, sebelum akhirnya ia kembali mendekat ke arah sang putra. Tangan yang terbebas dari infus itu ia tempelkan di pipi.
"Ma," panggil Juan lirih.
"Iya, Kak. Ada yang sakit?"
'Semua, Ma.'
"Juan sakit apa?"
Pertanyaan singkat itu membuat Liana bungkam. Fakta yang ia dengar dari dokter tadi bahkan hampir membuatnya pingsan, apalagi jika sampai Juan mengetahui. Namun begitu nasehat sang dokter kembali singgah di benaknya, Liana kembali bersiap memantapkan hati untuk memberitahu buah hatinya.
"Bu, saya banyak menangani pasien seperti Mas Juan. Dan saran saya, lebih baik Mas Juan diberitahu. Dia berhak tahu atas kondisi tubuhnya sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)