Tak Pernah Dianggap Baik

3.4K 200 5
                                        

‼️TW // DEAD THREAT, DIED, DIE, ANCAMAN PEMBUNUHAN ‼️

°°°

Juan sendiri. Tak ada siapa pun yang mau berteman dengannya. Cowok itu melangkah pelan menuju gerbang sekolah setelah Brian dan teman-temannya pergi meninggalkannya. Mengabaikan banyak pasang mata yang sejak tadi melihat perdebatan mereka tadi.

"Mas Juan Nathanael, ya?"

Juan mengangguk saat seorang driver ojol datang. Cowok itu memang memesan layanan ojek online beberapa menit lalu setelah ia keluar gerbang sekolah. Sebenarnya Liana menyuruhnya menunggu supir yang akan mulai mengantarkannya ke mana pun. Namun cowok itu tak peduli. Hanya hari ini ia ingin sendiri untuk menenangkan diri.

"Iya, Pak. Ke Kafe Sweet Candy ya."

Sang driver mengangguk patuh. Pria paruh baya itu menyodorkan helm pada Juan yang langsung cowok itu pakai. Mungkin dengan me time di kafe membuat mood-nya membaik.

***

Juan mendudukkan tubuhnya di pojok kafe. Matanya menelisik daftar menu yang tersedia di atas mejanya. Hingga satu menu ia pilih untuk menemaninya sore ini.

"Mas!"

Cowok itu memanggil salah satu waiters seraya melambaikan tangannya. Bibirnya terukir manis saat pegawai kafe itu kini tiba di depan mejanya.

"Saya pesan Beef Toast, minumnya Hazelnut Latte."

Waiters itu mengangguk sopan dan segera melangkah pergi untuk mempersiapkan pesanan. Juan memainkan ponselnya sembari menunggu makanannya datang. Matanya memandang nanar notif sosial medianya yang penuh dengan kata-kata memuakkan dan menyakitkan.

Juan kira selama ini mereka tulus mengenal dan berteman dengannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Juan kira selama ini mereka tulus mengenal dan berteman dengannya. Namun nyatanya salah. Topeng itu begitu tebal hingga mengelabui hatinya. Kalimat-kalimat jahat yang ia baca baru pertama kali ia baca. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekannya.

"Mas? Mas nggak apa-apa?"

Sebuah panggilan disertai lambaian tangan di depan wajahnya msmbuyarkan lamunan Juan. Makanan dan minuman yang ia pesan telah tersaji di hadapannya. Cowok itu tak tahu berapa lama ia melamun. Namun sepertinya lumayan lama.

"Maaf, Mas. N-Nggak apa-apa, kok."

Juan menyunggingkan senyum ramahnya. Sang waiters pun mengangguk paham sebelum akhirnya ia meninggalkan cowok itu.

"Tuhan, apa aku bakal kuat?"

Juan kembali mengingat malam-malam sebelumnya di mana keanehan mulai nenyerang tubuhnya. Hampir setiap malam ia harus berjuang melawan sakit yang datang mengganggu tidurnya.  Perlahan, tangannya menyeka air mata yang telah meluruh.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang