Nyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia.
Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
"Kalau udah ngerasa nggak enak badan, izin ke UKS atau minta anter pulang."
"Jangan telat minum obat."
"Jangan nekat ikut pelajaran olahraga."
Juan menghela napas kasar. Sang mama belum juga selesai menyebutkan berbagai wejangan untuknya selama ia berada di lingkungan sekolah. Sejujurnya Juan merasa lelah diperlakukan seperti kaca yang mudah retak. Namun di sisi lain Juan juga tak mau melihat kesedihan terlukis di wajah sang mama saat mendapati dirinya jatuh sakit.
"Iya, Mama. Apa perlu Juan catat?"
Liana menyentil kening Juan pelan, lantas membawa sang putra ke dalam pelukannya. Rasanya terlampau menyesakkan ketika melihat si tengah yang kini selalu terlihat pucat.
"Jangan sakit, Sayang."
Juan mengangguk dalam pelukan sang mama. Ucapan Liana adalah harapan terbesarnya saat ini. Namun sepertinya Tuhan ingin ia lebih banyak berjuang.
"Biru, tolong entar sampai di sekolah adek kamu, tetep ingetin adek kamu buat minum obat."
Mata Liana menatap si sulung yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan malas. Mau tak mau cowok bertabur freckles di wajahnya itu pun mengangguk. Tak mau membuat Liana menceramahinya.
"Udah jam setengah 7, buruan. Keburu telat."
Pelukan itu terurai. Liana sekali lagi mengecup kening si tengah. Rasanya tak rela baginya melepas Juan walau hanya untuk pergi ke sekolah. Perasaan seorang ibu memang sensitif jika menyangkut putranya. Dan Liana pun merasakan hal yang sama.
"Inget--"
"Iya, Mama. Aku bakal turutin semua yang Mama bilang."
Juan meraih tangan Liana, lantas mencium punggung tangan sang mama sebelum akhirnya mengikuti si sulung menuju mobil.
***
Suasana hening menemani sepasang kakak beradik itu. Xabiru sendiri memang tak mau berbicara dengan adiknya jika tak ada hal penting, sedangkan sang adik lebih memilih melanjutkan lamunannya sembari menatap jalanan di pagi hari.
Hingga mobil Xabiru sampai di depan gerbang SMA Bina Bhakti. Xabiru menghentikan mobilnya, lalu melirik sang adik yang sepertinya masih tenggelam dalam lamunan. Berdecak kesal, Xabiru menepuk agak keras tangan Juan.
"Turun lo. Gue mau buru-buru ke rumah temen."
Juan terkesiap. Ternyata cukup lama ia melamun. Cowok itu mengangguk tanpa berniat membuka mata. Namun begitu ia ingin keluar dari mobil, suara Xabiru membuatnya tercenung sesaat.
"Jangan lupa minum obatnya, turutin semua ucapan Mama. Gue nggak mau kalau lo kambuh, ngerepotin semua orang."
"Iya, Bang. Sabarin aja ya. Adek lo ini bentar lagi juga mati."
Juan menatap sang kakak dengan binar penuh luka. Tak tahu di mana letak kesalahannya, sejak kecil Xabiru memang selalu ketus padanya.
"Next kalau disuruh Mama anter gue, lo boleh nolak."
Juan keluar dari mobil tanpa melihat wajah kakaknya lagi. Baginya, berhadapan dengan Xabiru selalu berhasil menumbuhkan luka baru di hatinya.
Ketika sampai di dalam kelas, beberapa pasang mata kembali menatapnya, termasuk Brian. Namun Juan sudah memutuskan untuk mengabaikan semua. Kini ia harus terbiasa selalu sendiri tanpa teman.
Semua teman sekelasnya sedang bersiap menuju lapangan. Juan harus berpuas diri tak ikut pelajaran *PJOK. Padahal Juan paling suka pelajaran ini. Sang mama sudah menemui semua gurunya mengenai sakit yang bersarang di tubuhnya.
"Mending lo kagak sekolah, Ju. Entar kalau lo pingsan, yang repot semua orang."
Juan berusaha mengabaikan ucapan Brian yang terkesan mengejeknya. Bahkan cowok itu menangkap smirk yang terukir di bibir mantan sahabatnya.
"Udah jadi siswa abadi, eh sekarang penyakitan."
Juan menatap tajam Brian. Amarahnya kian meluap. Namun begitu wajah sang mama yang tersenyum padanya, cowok itu kembali berhasil meredam emosinya. Daripada meladeni ucapan Brian, cowok itu lebih memilih menelungkupkan kepalanya di atas meja. Mungkin tidur sejenak mampu menjernihkan pikirannya sembari menunggu tugas pengganti dari Pak Januar, guru PJOK-nya.
***
Keringat dingin membasahi sekujur wajahnya. Mata itu masih terpejam erat. Bibirnya tak berhenti bergumam lirih membisikkan satu nama. Kepalanya bergerak gelisah. Mimpi itu datang seolah bagai teror.
"Kak Juan!"
Jevan sontak membuka matanya saat sosok dalam mimpinya sirna tertelan oleh cahaya putih. Napas cowok itu memburu dengan mata yang telah berkaca-kaca. Semenjak obrolannya dengan Yohan, pikiran Jevan tak tenang. Bayang-bayang si tengah yang berpamitan dengannya seolah menjadi ketakutan baginya.
Mata Jevan melirik jam dinding di kamarnya. Ternyata sudah cukup sore. Ia ketiduran setelah pulang sekolah tanpa mengganti seragam.
"Waktu itu adek pergi sendiri, Van. Waktu itu nggak ada firasat apa pun. Gue malah sibuk ngurus OSIS."
Jevan menggeleng frustrasi. Bertahun-tahun hidup dengan kebencian tanpa sebab pada Juan membuat cowok itu merasa ragu untuk sekadar meminta maaf. Cowok itu mengusak kasar helaian rambutnya.
"Nggak, nggak ...,"
Jevan melangkah cepat keluar kamar. Ini sudah jam pulang sekolah, seharusnya Juan sudah pulang. Apalagi mengingat keadaan cowok itu yang tak memungkinkan untuk nongkrong terlalu lama di luar. Namun begitu ia membuka pintu kamar si tengah, alisnya menukik tajam. Tak ada Juan di dalam. Hal itu membuat hati Jevan tam tenang.
"Halo, Pak Asep. Kak Juan udah Bapak jemput?"
"Udah kok, Den. Saya udah anter sampai rumah."
Jevan kalut. Cowok itu takut sang kakak sakit tanpa ada siapa pun yang menolongnya. Bahkan ia tanpa sengaja memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Ya Tuhan, Kak. Lo di mana?"
Tbc
((Sorry bonus foto dikit, sinyal jelek parah)
Aku sering typo, kalau mau komen benerin nggak apa apa ^^
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.