Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kabar tentang penculikan Jazel dan Juan pun juga telah sampai ke telinganya. Kekhawatiran pun juga menyelimuti hati pemuda itu. Saat ia akan meminta kejelasan tentang kabar itu, Bian mengetahui bahwa malam ini Arya akan datang ke tempat penculikan untuk menebus Jazel dengan sejumlah uang.
"Itu ... itu bukannya Juan?" Bian refleks memelankan laju mobilnya, "bareng Jazel?"
Mata Bian membeliak. Ia keluar mobil dengan terburu-buru untuk menghampiri Juan yang tampak kepayahan melangkah dengan Jazel yang berada dalam gendongannya.
"JAZEL!"
Juan pun berhenti. Matanya menyipit melihat Bian yang berlari ke arahnya. Dalam hati ia mengucapkan rasa terima kasih pada Tuhan karena akan ada yang menolong mereka. Kini rasa lega mendominasi hatinya.
"B-Bang Bian," Juan berusaha mempertahankan kesadarannya, "m-makasih."
Saat Bian telah berada tepat di hadapannya, Juan pun tumbang. Kesadarannya masih ia genggam. Namun rasa sakit di tubuhnya disertai lemas karena tak ada nutrisi apa pun yang masuk ke tubuhnya, membuat pemuda itu tak mampu berdiri. Rasanya seperti tulangnya remuk satu per satu. Ia melirik sekilas ke arah Jazel yang telah terpejam damai. Juan ingin mengucapkan satu patah kata, namun kesadaran itu telah sempurna terenggut. Juan menyerah dengan rasa sakit yang memborbardirnya tanpa ampun.
"Juan, Jazel, please bertahan. Abang mohon."
Tentu saja Bian semakin panik saat Juan pun tak mampu mempertahankan kesadarannya. Apalagi saat melihat bercak darah yang menghiasi area bawah hidung Juan. Pemuda itu pun segera menggendong mereka menuju mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.
***
Suasana hening terlihat di sebuah kamar rawat VVIP milik Juan. Sesaat setelah Juan berhasil ditemukan oleh Bian, pemuda itu langsung jatuh tak sadarkan diri. Beruntung Bian segera membawanya ke rumah sakit, sehingga kini keadaan Juan cukup stabil.
"Gue nggak akan maafin diri sendiri kalau Kak Juan nyusul Mama, Bang."
Jevan menutup kedua matanya yang mulai berkaca-kaca dengan lengannya. Melihat keadaan si tengah yang babak belur tadi membuat Jevan tak kuat. Apalagi saat menemukan noda darah di bawah hidung sang kakak. Si bungsu tak mampu membayangkan penderitaan apa yang kakaknya alami selama penculikan. Apalagi melihat Juan yang semakin kurus.
"Abang yakin Juan akan sembuh."
Tak jauh beda dengan Jevan, si sulung pun merasakan perasaan yang sama. Dadanya sangat sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang menekannya. Bibir pemuda itu bergetar menahan isakan yang bisa saja lolos. Mereka sudah berjanji untuk tak menangis di hadapan Juan.
"Tuhan, please, kasih Biru kesempatan buat jadi kakak yang baik buat Juan."
Kedua tangannya mengusap punggung Jevan untuk menguatkan sang adik. Meski ia sendiri pun perlu penopang, namun ia masih bisa menahannya. Xabiru adalah sulung yang seharusnya menjadi pilar untuk kedua adiknya.
"Jev ..."
Suara lirih dari sosok yang ditunggu kesadarannya membuat Jevan maupun Xabiru sontak mengulas senyum. Keduanya melangkah cepat ke arah Juan yang kini telah membuka mata. Xabiru mengusap kening Juan dengan lembut seraya melempar senyumnya.
"Adek, panggil dokter."
Jevan mengangguk semangat. Pemuda itu berlari keluar untuk memanggil dokter, melupakan nurse call yang bisa ia tekan.
"Ada yang sakit, Ju?"
Ada keheningan sejenak menemani sepasang kakak beradik itu. Wajar saja karena kata dokter, pasien yang baru saja terbangun akan lama mengembalikan konsentrasinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)