Nyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia.
Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"You did well, Juan. Di saat keadaan kamu seperti ini, kamu bisa ngerjain ujian ini."
Selama 4 hari ini Juan berjuang mati-matian untuk menyelesaikan ujiannya. Bahkan di kala rasa sakit itu selalu datang di saat ia harus fokus mengerjakan soal. Ucapan sang pengawas membuat Juan sedikit tenang. Kini ia hanya perlu berdoa dan memasrahkan hasilnya pada Tuhan.
"Makasih, Pak, Bu. Maaf saya ngerjainnya lama."
Pengawas ber-nametag Jamal itu menggeleng. "Nggak perlu minta maaf. Kami memaklumi."
"Kalau gitu kami pamit dulu ya, Juan. Semoga kamu cepet sembuh."
Juan mengangguk seraya melukiskan senyum ramah. Cowok itu dalam hati menertawakan ucapan sang guru. Bahkan rasa pesimis itu sudah mengendap dalam hati sejak lama. Tak ada motivasi untuk berjuang.
Cowok itu kembali berbaring. Pandangannya beralih pada jendela kamar rawatnya yang terbuka. Cuaca siang ini cukup terik. Matahari seperti sedang di titik sejajar dengan kepalanya.
"Juan."
Suara itu terasa familier di otaknya. Cowok itu menolehkan kepalanya. Xabiru melangkah mendekat ke arahnya dengan pelan. Kedua matanya bergerak liar karena rasa gugup yang membelenggu.
"Kenapa?"
Embusan napas keluar dari bibir Xabiru. Cowok itu dilanda kegugupan luar biasa. Xabiru telah menunggu moment ini sejak ia berhasil mengalahkan egonya, setelah ia berhasil meluapkan perasaan bersalahnya pada Liana. Dan tentu ia menunggu ketika Juan telah menyelesaikan ujiannya.
"Lo kenapa deh, Bang? Kalau mau ngajak debat, tolong besok pas udah pulang ke rumah."
Ucapan Juan bagai ujung tombak tak kasatmata yang menghantam hatinya. Rasanya perih. Ternyata sebesar itu luka yang ia torehkan pada sang adik.
"Gue mau minta maaf, Juan."
Juan menaikkan sebelah alisnya. Merasa heran dengan ucapan sang kakak. Ini kali pertama Xabiru berbicara tanpa nada sinis. Bahkan cowok itu terus menunduk saat kata demi kata itu keluar dari bibirnya.
"Maksudnya?"
Juan bingung. Sang kakak memang banyak menoreh luka di hatinya, namun permintaan maaf ini tak membuatnya mengerti.
"Gue minta maaf karena sejak kecil selalu jahat sama lo."
Hingga saat Xabiru mengangkat wajahnya, Juan tertegun. Mata itu telah berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya ia melihat sang kakak menangis di depannya.
"Lo boleh lakuin apa pun. Boleh benci gue, pukul gue sampai lo puas, Juan. Tapi gue minta tolong, jangan nyerah. Lo harus sembuh!"
Xabiru ketakutan. Apalagi saat cowok itu kemarin iseng mencari tahu tentang sakit yang diderita adiknya di internet. Cowok itu diselimuti oleh penyesalan. Rasa bersalah itu semakin besar kala melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang adik yang kesakitan di saat ujian kemarin.