Kabar tentang keberhasilan operasi yang dijalani Jazel telah sampai di telinga Juan. Cowok itu turut merasakan kebahagiaan. Tak disangka kemenangan itu diraih oleh sahabatnya. Dan mungkin dia-lah yang akan dijemput kekalahan. Terbukti dari raut kelam yang terlihat di wajah keluarganya. Padahal hari ini dokter telah mengizinkannya untuk pulang.
Juan berusaha menghirup udara segar di halaman belakang rumahnya. Dokter telah mengizinkannya pulang meskipun keadaannya masih jauh dari kata baik. Bahkan ia seharusnya memakai tabung oksigen portable karena pernapasannya yang tak akan pernah membaik. Ia ingin menjadi orang normal sejenak, walau hanya beberapa menit saja.
"Kak, pakai masker oksigennya sekarang aja, ya?"
Jevan duduk di samping kakaknya dengan pandangan yang menyiratkan kekhawatiran. Bagaimana tidak jika yang ia lihat si tengah yang berusaha baik-baik saja. Padahal Jevan dapat dengan jelas melihat Juan berusaha meraup oksigen yang tak mungkin lagi ia dapatkan dengan mudah.
"B-Bentar."
Si keras kepala Juan mau tak mau membuatnya menghela napas kasar. Jevan bergeser, lantas memeluk kakaknya dari samping. Hatinya mencelos saat tubuh dalam pelukannya jauh lebih kurus dari sebelumnya. Bahkan tangan itu lebih kecil dari tangannya.
"Jev ...,"
Suara lirih Juan membuat fokus sang adik kembali padanya.
"Ya, Kak? Kakak sakit?"
Juan menggeleng lemah. Jika ditanya sakit, ia akan menjawab iya. Bukan hanya dadanya yang terasa sangat sesak. Tapi seluruh tubuhnya benar-benar luar biasa sakit.
"M-Mama cantik banget."
Mata Juan menatap kosong ke depan. Ada senyum tipis terlukis di bibir cowok itu. Berbanding terbalik dengan perasaan Jevan yang semakin diselimuti oleh ketakutan. Bungsu tampan itu semakin mengeratkan pelukannya, seolah jika sampai terlepas, ia akan kehilangan sosok Juan.
"Iya ... Mama emang cantik, tapi Kakak jangan ikut Mama, ya?"
Juan tak menjawab. Cowok itu memejamkan matanya. Menikmati rasa sakit yang semakin kuat mengungkungnya.
"Jev, s-sakit."
Jantung Jevan kembali berdetak dua kali lebih cepat. Ditatapnya sang kakak yang menggeliat dalam pelukannya dengan mata yang terpejam erar. Jevan membiarkan saja tangan kurus itu mengecengkeram punggungnya.
"Kak, bentar, kita ke kamar aja ya."
Tak mau menunggu persetujuan, Jevan menggendong tubuh si tengah dengan mudah. Dalam hatinya, Jevan terus berdoa agar kakaknya tak pergi dari sisinya.
"Den Jevan, kenapa??"
Jevan tak menjawab. Cowok itu tetap fokus pada langkahnya. Hingga kini tiba di kamar, Jevan membaringkan tubuh ringkih itu dengan hati-hati. Dengan telaten, ia memasang masker oksigen sesuai intruksi dokter yang merawat sang kakak.
"Jev ...," dalam lara yang mendekap Juan, cowok itu mencoba untuk membuka suara, "Papa ... dan Kak Biru mana?"
***
"Maafkan saya. Kanker yang menyerang Mas Juan sudah sampai menyerang beberapa organ pentingnya. Termasuk paru-paru. Hanya keajaiban yang mampu membuat Mas Juan sembuh."
Tiga pria berbeda usia itu seolah baru saja kehilangan pijakannya. Bahkan Xabiru hampir limbung jika saja tak ada Jevan yang menahan tubuhnya.
Dua minggu berlalu sejak Juan masuk rumah sakit. Tak ada perkembangan apa pun. Keadaan sang terkasih justru semakin menurun. Meski Juan telah sadar, namun cowok itu selalu mengeluhkan sakit di seluruh bagian tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)