Liana kembali bersitegang dengan sang suami. Keduanya tengah berada di kamar. Mata wanita itu berkaca-kaca. Tak ada putra-putranya karena ini masih belum jam pulang sekolah, begitupun Xabiru yang masih berada di kampus.
"Ini demi kebaikan Juan, Na. Lihat sendiri kan? Tingkah dia makin ke sini makin nggak bisa diatur!"
Keputusan gila Arlan membuat hati Liana meradang. Seolah ia tak dianggap dalam keluarga ini. Matanya memicing ke arah sang suami. Seumur hidupnya, Liana tak pernah sekalipun melawan perintah Arlan. Namun perkataan Arlan beberapa saat lalu mau tak mau membuat Liana harus bertindak.
"Demi kebaikan sendiri atau demi menjaga nama baik kamu?"
"LIANA!"
Liana memejamkan matanya begitu sang suami menaikkan nada bicaranya. Namun ucapan Arlan memang keterlaluan menurutnya.
"Sejak kecil, bahkan sebelum Juan nakal kayak sekarang, kamu udah bertindak nggak adil. Lalu sekarang kamu mau buang anak kamu itu?"
Arlan meraup wajahnya frustrasi. Keputusan yang ia ambil ini bukan tanpa alasan. Hampir setiap hari ia mendapati laporan tentang semua kelakuan nakal Juan. Baginya, jika terus dibiarkan, si tengah akan semakin membuat reputasinya memburuk. Ia mengakui bahwa reputasi adalah segalanya. Namun Arlan juga seorang ayah. Pria itu juga tak mau Juan tak memiliki masa depan.
"Keputusanku udah bulat, Na. Setelah lulus, Juan akan aku kirim ke Aussie."
Liana adalah ibu dari 3 orang putra yang sejak dulu berusaha membagi kasih sayangnya dengan adil. Namun seiring dengan pertumbuhan buah hatinya, pasangan hidupnya sendiri justru menciptakan ketidakadilan. Hal itu memaksa Liana untuk menjadi tumpuan untuk sosok rapuh yang tak mendapat haknya sebagai seorang putra dari Arlan.
"Terserah. Tapi kalau sampai kamu paksa Juan buat ke Aussie, jangan larang aku buat ikut anak aku."
Liana melenggang pergi meninggalkan Arlan yang membelalakkan matanya kaget saat sang istri melontarkan ucapan itu. Batinnya dilanda oleh kebimbangan.
"Ya Tuhan, aku harus gimana?"
***
Juan lagi-lagi goyah. Cowok itu kemarin memang sempat membuat janji dengan sang mama untuk tak lagi menenggak minuman keras yang ada di tangannya. Namun bujukan Brian membuatnya ingkar akan janjinya. Cowok itu mengajak Juan ke kelab malam berdalih melepas penat setelah belajar hingga sore.
"Nak, alkohol tuh nggak baik buat tubuh. Jangan minum lagi ya?"
Juan yang tengah merebahkan kepalanya di bahu sang mama menoleh ke samping, di mana Liana menatapnya dengan pandangan teduh. Tak ada amarah atau tuntutan pada binar itu, membuat hati Juan selalu menghangat.
"Kamu sayang tubuh kamu kan? Sayang Mama, kan?"
Tentu saja Juan menyayangi Liana. Bahkan rasa sayangnya pada sang mama tak terbatas luasnya. Tanpa ragu cowok itu mengangguk. Membuat wanita paruh baya itu tersenyum puas.
"Kurangin alkohol ya, Nak? Mau kan?"
Dan demi kebahagiaan mamanya, Juan kembali menuruti permintaan itu.
"Janji?"
Liana menyodorkan jari kelingkingnya, yang tanpa ragu dibalas oleh sang putra.
"Janji!"
Mengingat obrolan hangat dengan sang mama membuat Juan tanpa sadar menaruh kembali gelas berisi vodka itu ke atas meja bar. Satu tangannya mengusap air mata yang meluruh tanpa mampu ia cegah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)