Btw istilah UN diganti ya? Terlanjur nulis UN 😔
Pas ending aku akan revisi dikit bagian UN. (Btw bener-bener minta maaf kalau ada salah bagian proses Juan ujian, aku udah lulus bertahun-tahun lalu, nggak update soal pendidikan) 😿
Juan menangkupkan kedua tangannya dengan mata terpejam. Dalam hati, ia merayu Tuhan agar melancarkan ujiannya hari ini.
Ya Tuhan, lancarkanlah ujianku. Jangan biarkan sakit itu datang menganggu.
Juan telah menyelesaikan doanya. Embusan napas pelan keluar demi memghalau rasa gugup yang datang. Hari ini ia akan mengerjakan ujian Bahasa Indonesia dan Geografi karena cowok itu memang mengambil jurusan IPS.
"Santai aja ya, Juan. Nggak perlu terburu-buru."
Di hadapannya sudah ada sebuah meja kecil dengan laptop di atasnya. Matanya dengan teliti melihat banyaknya soal yang harus ia kerjakan.
"Iya, Bu."
Dua orang guru ditugaskan untuk mengawasi Juan yang akan segera mengerjakan ujiannya. Mereka berdiri tak jauh dari ranjang Juan.
Dalam keheningan, Juan pun mulai fokus mengerjakan soal-soal yang tertera pada layar laptop. Tak sia-sia Juan ambis belajar. Soal-soal itu bisa cowok itu kerjakan tanpa kesulitan. Hingga waktu telah berjalan hampir satu setengah jam ia mampu mengerjakan 30 soal. Hanya tinggal 10 soal lagi. Namun sepertinya Juan memang harus lebih banyak berjuang lagi ketika rasa pusing itu datang.
"Sa-kit." Juan berbisik lirih.
Tangannya memijat sumber rasa sakitnya. Kepalanya seakan ingin pecah. Hal itu membuat dua guru yang mengawasinya menatap panik.
"Juan? Kalau memang udah nggak sanggup, kita bisa lanjut di ujian susulan."
Mendengar kata ujian susulan sontak Juan menggeleng tegas. Mana mungkin ia menyerah begitu saja. Cowok itu takut pulang sebelum sempat menjalani ujian susulan.
"M-Masih sanggup, Bu. Bentar. Tanggung."
Juan memejamkan mata sejenak, lalu membukanya perlahan. Cowok itu kembali berusaha mengerjakan ujiannya meski sesekali tulisan berparagraf di hadapannya tampak berbayang. Tekad Juan yang kuat ini tanpa sadar membuat sang guru tertegun. Anak didik mereka yang dulu dikenal badung, kini berjuang mati-matian untuk lulus di saat sakit yang harus dipikul.
"Bu, udah selesai."
Juan berhasil mengerjakan soal-soal di hadapannya meski harus melewati batas waktu yang ditentukan. Kepalanya masih sakit. Namun cowok itu bersyukur ia tak berakhir pingsan.
"Hebat! You did well, Juan!"
"Satu jam lagi ujian Geografi. Apa kamu masih sanggup?"
Satu jam cukup baginya untuk istirahat. Cowok itu lantas mengangguk mantap. Senyum lega terlukis di bibir pucatnya. Setidaknya ia telah menyelesaikan satu mata pelajaran.
Seenggaknya gue bisa bikin mereka bangga walau sekali, sebelum gue pulang.
***
"Juan memang hebat. Kami bahkan beberapa kali menawari untuk ikut ujian susulan aja. Tapi tekad dia buat ujian kuat."
Liana menyeka air matanya. Sang putra telah menyelesaikan ujian hari ini meski beberapa kali harus terhenti sejenak saat rasa sakit menghujam.
"Maaf kalau Juan ujiannya lama, Bu."
"Nggak apa-apa, Bu Liana. Kami memahami keadaan Juan. Kami berdoa, semoga Juan cepat sembuh."
Liana dalam hati mengamini. Harapan terbesarnya adalah melihat Juan kembali sehat.
"Kalau gitu, kami pamit dulu, Bu Liana."
Liana mempersilakan dua pengawas itu pergi. Matanya memandang haru pada Juan yang kini telah kembali tidur setelah berjuang beberapa jam mengerjakan ujian. Liana memahami sang putra kelelahan.
"Mama."
Liana menatap Xabiru. Putra tertuanya yang juga ada di sana pun dalam hati terpukau. Adik yang selalu ia remehkan nyatanya mampu mengerjakan ujian di kala tubuh itu kian rapuh. Perasaan cowok itu semakin rumit. Ada sesak yang mengendap di hati, ada lara yang mengungkung hati.
"Apa ... apa Juan bakal maafin aku? Aku pengin perbaiki hubungan aku sama ... adek aku."
Mendengar ucapan Xabiru, mata Liana berbinar. Senyum teduh terlukis di bibir ranum itu. Penantian Juan akan segera terbayarkan.
"Pasti. Juan itu pemaaf, Bang. Inget? Dia maafin Jevan. Jadi dia juga pasti akan maafin kamu."
Air mata Xabiru meluruh. Rangkaian ingatan masa lalunya bersama Juan perlahan kembali mengungkung otaknya.
"Abang, Abang! Ayo main sama Juan. Juan punya mainan robot baru. Mama tadi beliin."
Juan menatap harap pada bocah bertabur freckles di wajahnya. Namun yang Juan dapatkan hanyalah keterdiaman Xabiru. Bocah yang kini duduk di bangku kelas 6 SD itu memandang malas adiknya. Kegiatannya membaca buku pelajaran jadi terganggu.
"Abang, ayo. Sebentar aja."
Rengekan Juan tak lantas membuat Xabiru merasa iba. Justru bocah itu semakin muak. Dengan kasar Xabiru mendorong tubuh kecil Juan hingga jatuh tersungkur.
"Aku lagi belajar. Bentar lagi ujian. Biar lulus dan makin pinter. Nggak kayak kamu yang bodoh."
Juan tak sebodoh itu untuk tak memahami perkataan kasar Xabiru. Bocah kelas 3 SD itu merasa hatinya sakit. Namun tak mampu membalas ucapan Xabiru. Bocah sekecil itu hanya menangis dalam diam. Sejujurnya ini bukan kali pertama ia mendapat perlakuan kasar dari Xabiru.
"Mending kamu belajar. Biar pinter. Biar papa nggak marah terus. Kamu nggak malu udah nggak naik kelas?"
Xabiru bersungut. Bocah itu memang selalu mempunyai stok kata-kata tajam jika berhadapan dengan adiknya yang satu ini. Semua ucapan Arlan ketika tengah memarahi Juan memang sering didengar Xabiru. Bocah sekecil itu telah terpengaruh dengan sikap Arlan.
Xabiru memejamkan mata erat. Rasa sesak yang mendominasi semakin membuat Xabiru tersiksa. Kini rasa takut kehilangan itu mengungkung hati Xabiru. Dan saat melihat si sulung yang mulai tak mampu menguasai perasaannya pun tak tega. Wanita paruh baya itu merengkuh tubuh bongsor Xabiru.
"Aku jahat banget, Ma."
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)