Penyesalan Xabiru

3.5K 181 16
                                        

Juan mengembuskan napas dalam. Cowok itu tengah duduk di hadapan dokter bersama sang mama yang ada di sampingnya. Kegugupan tak kunjung lenyap dari pikirannya. Dan hal itu tertangkap di mata Dokter Aldo yang kini dipercaya menangani cowok itu.

"Berdasarkan pemeriksaan menyeluruh hari ini, Mas Juan sudah siap untuk melakukan kemoterapi, Bu. Namun perlu diketahui, Mas Juan akan mengalami beberapa efek samping seperti muntah, mual, rambut rontok, diare, napsu makan menurun, bahkan perdarahan."

Penjelasan singkat dari Dokter Aldo membuat Juan bergidik ngeri. Cowok itu refleks semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Liana.

"Lusa sudah bisa dimulai proses kemonya. Maka dari itu saya sarankan untuk Mas Juan izin sekolah dulu."

Liana melihat kegelisahan yang terlukis di wajah sang putra. Tak banyak yang mampu ia lakukan untuk menenangkan hati Juan. Hanya dengan genggaman tangan erat dan membisikkan berbagai kata yang menenangkan untuk cowok itu.

***

Liana merasa ada hantaman tak kasatmata saat baru saja mendapati si tengah jatuh tersungkur di hadapannya. Wanita itu meraung, menyerukan nama sang putra. Wajah Juan sangat pucat pasi, seolah tak ada aliran darah di sana. Mata itu kini terpejam damai. Bahkan mulut Juan pun telah mengeluarkan begitu banyak darah. Sebelum kegelapan merenggut kesadaran Juan, cowok itu memang sempat batuk darah.

"Jangan bercanda, Kak. Ini Mama."

Liana meraba hidung Juan. Masih ada tanda kehidupan di sana. Wanita itu yakin, Juan tak akan tega meninggalkannya. Mata Liana berpendar. Ia meletakkan dengan hati-hati kepala Juan di lantai sementara ia langsung pergi mencari bantuan.

Beruntung ada Xabiru yang akhirnya mau membantu Liana. Cowok itu dengan sigap menggendong tubuh kurus sang adik. Dalam diamnya, Xabiru seolah tengah menggenggam duri. Rasanya perih saat baru menyadari sang adik sangat ringan. Jika ingin dibandingkan, berat badan Juan hampir sama seperti anak SMP.

"Mama, tenang. Juan pasti baik-baik aja."

Xabiru merebahkan tubuh sang adik di kursi belakang ditemani sang mama. Lantas cowok itu segera melenggang ke kursi kemudi untuk segera melesat ke rumah sakit. Matanya tak henti melirik dari balik spion. Liana tak berhenti meluruhkan air matanya sembari berkali-kali mengecup kening Juan.

"Juan, maaf. Maaf. Tapi tolong bertahan. Lo boleh tonjok gue sampai puas, asal lo bertahan."

Xabiru bergumam lirih. Air mata Xabiru pun tak mampu ditahan. Cowok itu untuk pertama kalinya menangis untuk Juan. Sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, Xabiru tak berhenti melantunkan berbagai doa pada Tuhan.

"Tuhan, tolong selamatkan adekku. Maaf, maaf aku jarang ke gereja. Maaf aku cuman dateng ketika butuh. Maaf udah lalai jagain adekku. Maaf udah nyakitin Juan."

***

Ketakutan terbesar dalam diri manusia adalah kehilangan orang terkasih. Hadirnya dulu dinantikan, lalu sempat terlupakan. Dan kini rasa takut itu datang menyiksa batin setiap orang yang mengenalnya. Xabiru bahkan tak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Cowok itu larut dalam duka yang kini betah bersemayam dalam hatinya.

"Dokter jangan bercanda! Anak saya kuat!"

Liana menatap tajam sang dokter yang baru saja memberitahukan kondisi Juan. Sang dokter menaklumi sikap yang ditujukan oleh Liana mengingat ini bukan kali pertamanya ia melihat kesedihan keluarga pasien yang telah pergi. Liana tak mampu menyembunyikan kehancurannya.

"Maaf, Bu. Kami sudah berusaha sekuat tenaga kami untuk menyelamatkan Mas Juan. Tapi Tuhan lebih menyayangi Mas Juan. Kami--"

Liana melangkah masuk ke ruang IGD di mana Juan terbaring tanpa memedulikan sang dokter yang berbicara. Xabiru pun ikut menyusul masuk ke dalam. Dapat ia lihat sosok yang selama ini ia abaikan telah terpejam damai. Mengabaikan Liana yang meraung dalam kepedihan.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang