Seorang ibu adalah cinta pertama bagi anak laki-lakinya. Kasih sayangnya tulus dan murni. Begitupun cinta Liana pada ketiga putranya. Sejak mereka masih kecil, Liana selalu berusaha membagi kasih sayangnya dengan adil. Namun sejak sang suami mulai membedakan kasih sayang untuk ketiga anaknya, Liana mulai dikungkung rasa sakit. Arlan selalu memperlakukan Juan berbeda. Buah hatinya itu selalu mendapat perlakuan buruk. Bahkan ketika beranjak dunia malam mulai dikenalnya, Juan beberapa kali mendapat tamparan maupun tinjuan.
"Tuhan, cukup Juan aja yang sakit. Jangan Mama."
Juan menatap kosong plafon kamar rawatnya. Setengah jam yang lalu ia terbangun setelah pingsan di kafe. Foto-foto sang mama yang terbaring tak berdaya di rumah sakit membuat Juan seolah kehilangan semangat hidupnya.
Biar bagaimana pun, selama ini hanya Liana saja yang bersedia memberikan bahu untuknya kala lelah datang. Memang kini Jevan dan Xabiru telah kembali padanya. Namun mamanya adalah sumber kekuatan utamanya.
"Ju, gimana keadaan lo?"
Pandangan Juan beralih pada Xabiru yang baru saja masuk ke kamar rawatnya. Seketika ia teringat dengan tingkah aneh kakaknya sejak kemarin. Ada pedih yang mengendap di hati saat tahu alasan keadaan mama mereka sembunyikan darinya.
"Bang, gue juga anak Mama Liana."
Pandangan Juan mengabur. Bibirnya yang bergetar ia paksa untuk meluapkan perasaan yang sejak tadi mendekam dalam hati.
"B-Bukan gitu, Ju--"
"Emang bener sih. Gue ini penyakitan yang lemah."
Mendengar ucapan bernada frustrasi dari Juan, Xabiru langsung menggenggam tangan sang adik. Mengusapnya lembut sembari mengucapkan kata maaf.
"Bukan, Ju. Maksud kita nggak gitu."
Mau beralasan apa pun juga, ia memang merasa tubuhnya sangat manja. Bahkan baru mendapat kabar mamanya kecelakaan saja membuat ia harus mendekam di ruangan berbau obat ini.
"Gue mau nemenin mama, Bang."
"Tunggu sampai keadaan lo membaik dulu, ya?"
Juan menggeleng. "Gue mau sekarang, Bang. Atau mending gue jalan sendiri?"
Meski Juan tahu tindakan melepas infus secara paksa akan membuat punggung tangannya terluka, namun cowok itu tetap berusaha melepas. Beruntung sang dokter datang, dan segera memberi izin.
"Mas Juan, jangan dilepas. Oke, saya izinkan. Asal tetap pakai kursi roda."
Dokter Aldo datang di saat yang tepat bersama Jevan di belakangnya. Rungunya sempat mendengar keinginan kuat Juan.
Dan beruntung Juan mau menurut. Dokter Aldo pun meraih kursi roda yang berada tak jauh dari ranjang Juan, lantas membantu cowok itu untuk duduk di kursi roda.
"Asal jangan lama-lama ya. Mama kamu pasti akan sedih kalau kamu juga ikut kolaps."
Juan mengangguk seraya memberikan senyum tipis. Lantas setelah itu, kedua saudaranya mendorong kursi roda Juan. Memang Liana dirawat di rumah sakit yang sama. Letaknya tak jauh dari kamar rawatnya.
Hingga ketika ketiga cowok itu masuk ke kamar rawat Liana, suasana mendadak sesak. Juan menatap pilu sosok wanita tercintanya.
"Kita tunggu di luar ya. Setengah jam lagi lo harus balik."
Juan mengangguk tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya pada sang mama. Mata cowok itu mengabur karena air mata yang telah siap meluruh. Satu tangannya mengusap jemari Liana dengan hati-hati karena jarum infus yang menempel di sana. Rasa ngilu ia rasakan saat melihat tubuh Liana yang tertempel banyak alat medis.
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)