Jiwa Yang Hancur

2.6K 149 20
                                        

"Jangan ngomong gitu!"

Arlan melepaskan pelukan Juan pada tubuh tak bernyawa sang istri. Kedua tangannya membingkai wajah Juan yang tampak lebih tirus. Hati Arlan mencelos saat baru menyadarinya.

"Lihat adek kamu, lihat abang kamu, dan lihat Papa kamu ini."

Tangannya pun merengkuh tubuh Juan. Sang putra tak bereaksi apa pun, seolah suara Arlan tak terdengar. Cowok itu telah hancur. Bahkan kelulusannya tak lagi berarti bagi Juan saat wanita yang dicintainya itu tak akan lagi membuka mata.

"Kamu tega ninggalin kita?

Menjadi kepala keluarga mengharuskan Arlan untuk lebih kuat dibanding ketiga putranya. Mau seberapa pun Arlan hancur, dan bagaimana pun keadaannya, ia masih harus menjadi pondasi untuk mereka, butuh penopang hidup setelah satu tumpuannya sirna. Apalagi Juan yang sejak kecil menggantungkan hidupnya hidupnya pada Liana.

"Kakak, jangan ngomong gitu lagi ya."

Jevan berdiri di sisi kanan sang kakak. Menggenggam jemari kurus Juan yang terasa dingin. Cowok itu sadar, ada sosok rapuh di hadapannya yang lebih hancur darinya.

"Mama udah janji mau lihat aku lulus."

Padahal sebentar lagi Juan berencana menunjukkan lagu ciptaannya khusus untuk Liana setelah wanita itu sembuh dan sebagai pembuktian bahwa ia berbakat, sama seperti makna dari namanya. Namun nyatanya Tuhan lebih dulu berkehendak meminta Liana untuk pulang.

Arlan yang masih memeluk Juan merasakan tubuh sang putra kian memberat. Jantungnya pun sontak dipaksa berpacu lebih cepat. Apalagi saat Juan sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan hingga kini sepenuhnya bertopang padanya.

"Jevan Biru, bantu Papa. Juan pingsan."

***

Ditinggal oleh pasangan hidup untuk selama-lamanya bagai kehilangan separuh jiwa. Apalagi setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama bertahun-tahun. Arlan adalah satu di antara jutaan manusia di muka bumi ini yang kini merasakan. Matanya memandang sendu sosok terkasih yang tampak cantik dengan balutan gaun dan riasan yang indah di wajah. Namun kali ini ia tak merasakan bunga yang tumbuh di hati.

Arlan tak bisa menahan air matanya. Mulai saat ini, ia tak lagi mendapat sambutan manis dari belahan jiwanya, tak lagi ia lihat sosok cantik yang setiap pagi memasak di dapur, tak ada lagi yang menyiapkan kopi di pagi hari, tak ada lagi yang mengomelinya saat ia lupa menaruh barang apa pun. Kini tak ada lagi yang menciptakan warna di hidupnya.

"Kakak, abis lihat Mama, Kakak nggak perlu ikut ibadah penghiburan ya."

Arlan mengalihkan perhatiannya. Ada si tengah yang melangkah dengan hati-hati dibantu kedua putranya yang lain. Pria itu mengusap kasar air matanya, berusaha untuk lebih tegar untuk mereka.

"Nggak mau. Nanti mama sendirian."

Kata Juan seolah menjadi belati tak kasatmata. Cowok yang bulan depan genap berusia 20 tahun itu kini berdiri di samping papanya. Memandang Liana yang terpejam dengan perasaan yang semakin hancur.

Harusnya Mama nemenin aku sampai sembuh. Kalau Mama pergi, gimana bisa aku sembuh?

Juan mengusap kening Liana dengan tangan yang gemetaran. Dadanya sesak luar biasa. Sosok yang sejak ia bernapas di dunia ini selalu ada untuknya kini memilih pulang terlebih dahulu.

"M-Mama, harusnya Juan yang ada di situ."

"Juan, nggak boleh ngomong gini. Ikhlas ya. Pelan-pelan, relain mama."

Xabiru menggeser tubuhnya ke arah sang adik. Kedua tangannya merengkuh Juan ke dalam dekapannya. Berharap cowok itu bisa lebih tenang. Para pelayat yang hadir seolah ikut larut dalam duka. Selama beberapa waktu berjalan, akhirnya prosesi penutupan peti mati dan ibadah penghiburan telah selesai dilaksanakan.

SERPIHAN LUKA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang