Kalah Dari Jevan

3.3K 190 8
                                        

Juan membuka mata. Cowok itu tak tahu sudah berapa lama terlelap. Sepertinya ini sudah pagi. Cowok itu perlahan mendudukkan tubuhnya. Matanya mengerjap berkali-kali. Ada yang salah dengan penglihatannya. Cowok itu masih bisa melihat. Hanya saja semua tampak buram.

"Ya Tuhan ...,"

Cowok itu melangkah dengan hati-hati karena pandangannya masih belum terlalu jelas. Kata dokter ini hanya sementara. Jadi Juan mencoba untuk bersikap tenang. Baru ketika beberapa menit berjalan, penglihatannya kembali normal. Juan melirik jam dinding yang terpajang. Masih jam 5.30 pagi sebelum ia berangkat sekolah. Meski tubuhnya masih lemas tapi ia tak punya banyak waktu untuk bersantai di rumah.

Minimal ia harus lulus sebelum mungkin waktunya telah berakhir.

Ujian kelulusan memang tinggal 4 bulan lagi. Meski nanti nilainya tak sebagus saudaranya, setidaknya ia harus lulus. Perkataan menusuh hati Arlan seolah menjadi cambuk untuknya.

Emang yakin kamu bisa lulus? Papa nggak yakin. Kamu kan bodoh, nggak kayak Xabiru dan Jevan. 

Cowok itu langsung bergegas ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Juan telah rapi dengan seragam yang membalut tubuhnya. Ia pun keluar dari kamar untuk menuju ruang makan. Liana menyambut kedatangannya dengan senyuman.

"Bareng gue, Kak. Sekalian gue mau ke sekolah lo."

Juan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jevan. Cowok beraut wajah datar itu berbicara tanpa memandangnya.

"Ke sekolah gue mau ngapain?"

Sang adik menoleh sejenak seraya menyunggingkan senyum miring. Cowok itu memang telah menunjukkan perubahan sikap yang besar pada Juan. Hal yang selama ini selalu menjadi harapan besar untuk Juan.

"Gue mau pindah sekolah ke SMA Bina Bhakti."

"Hah?"

***

Sebenarnya untuk pindah sekolah bukan hal mudah. Bahkan sebelum memutuskan hal ini, Jevan harus berdebat dengan sang papa. Biar bagaimanapun Jevan bersekolah di SMA Pelita yang terkenal berprestasi.

"Apa kamu udah gila, Van? Sekolah Juan tuh nggak ada apa-apanya dibanding sekolah kamu."

Jevan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Cukup menguras emosi ketika berdebat dengan sang papa. Keputusan ini sudah ia pikirkan berhari-hari. Baginya sekolah di mana pun sama saja. Dan berada lebih dekat dengan Juan adalah tujuannya saat ini. Jevan adalah cowok yang peka terhadap keadaan sekitar meski pada dasarnya ia terlihat cuek. Cowok itu menyadari sejak pertama kali mengantar Juan ke sekolah kala itu.

"Mau sekolah di mana aja tuh sama aja, Pa. Yang penting belajar."

"Bilang aja mau nemenin Juan, kan?"

Tepat sasaran. Xabiru yang kebetulan juga ada di sana pun angkat bicara. Mata Jevan menukik tajam ke arah si sulung. Namun sebisa mungkin ia menahan gejolak amarah yang meletup dalam hati.

"Papa nggak setuju kamu pindah."

Arlan tetap teguh pada pendiriannya. Pria itu sangat menyayangkan sang putra pindah sekolah, apalagi ke SMA tempat Juan menimba ilmu yang memang hanya kualitasnya standar.

"Yang sekolah kan aku. Aku bebas buat nentuin mau sekolah di mana."

"Tapi Papa yang biayain sekolah kamu."

Jevan menatap anggota keluarganya satu per satu. Beruntung si tengah tak ada di sana. Cowok itu hanya tak mau sang kakak merasa terbebani.

"Kak Juan sebenernya salah apa, Pa? Bang Biru, dia salah apa?"

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang