Luka yang Abadi

4.1K 198 7
                                        

Pagi datang menjemput

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi datang menjemput. Netra itu terbuka walau hanya segaris. Tangannya memijat keningnya karena rasa pening itu masih samar ia rasakan. Juan melirik jam dinding di kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, seharusnya ia buru-buru untuk persiapan pergi ke sekolah.

"Sshh ... pusing banget," Juan memejamkan mata sesaat, "Ya Tuhan, ini badan kenapa?"

Meski tubuhnya terasa lemas, namun mengingat ia adalah siswa tingkat akhir, ia memaksakan diri untuk pergi ke sekolah. Apalagi mengingat hadirnya tak pernah disambut papa dan dua saudaranya.

Kedua tangannya berusaha meraih apa pun yang ada di hadapannya sebagai tumpuan karena demi apa pun tubuhnya masih lemas. Mungkin setelah sarapan nanti ia harus meminum obat untuk meredakan rasa tak nyaman di seluruh tubuhnya.

Beruntung ia tak tumbang begitu ia telah selesai menyiapkan keperluan pergi ke sekolah. Rasa pusing yang sejak tadi bersarang di kepalanya pun perlahan mulai sirna. Langkahnya memelan begitu sampai di meja makan. Seluruh keluarganya telah duduk dengan khidmat di sana.

"Kak, kamu harusnya nggak usah sekolah dulu."

Liana memandang khawatir Juan yang kini duduk di sampingnya. Wajar saja wanita itu digelayuti oleh rasa cemas. Semalaman Juan mengeluh seluruh tubuhnya sakit. Bahkan Liana harus bergadang sampai subuh demi menjaga Juan.

"Nggak usah dimanja. Dia udah kelas 12."

Sang kepala keluarga angkat bicara. Suara baritonnya terdengar tegas dan bernada dingin. Matanya memandang si tengah dengan tatapan tak bersahabat.

"Tenang, Pa. Aku tetep sekolah kok."

Bohong jika ucapan Arlan tak membuat Juan merasakan pedih. Setiap kata yang diucapkan papanya tak pernah gagal untuk menciptakan luka yang dalam dalam hati. Hanya saja Juan selalu menahannya demi Liana.

"Bagus. Jangan sampai nggak lulus dan malu-maluin keluarga. Kamu bisa contoh adik kamu. Prestasinya membanggakan, abang kamu juga jadi lulusan terbaik."

Juan mengepalkan tangan dari balik meja, dan Liana menyadari sang putra tengah dikuasai emosi. Pagi ini akan menjadi berantakan jika ada adu mulut di meja makan. Maka dari itu, wanita itu sigap menggenggam lembut tangan yang terkepal itu.

"Sabar ...," Liana berucap tanpa suara saat Juan menatapnya.

Juan hanya mengangguk meski emosinya seolah akan meluap. Apalagi begitu kakaknya membuka suara dan mulai berlomba menggores sembilu di hatinya.

"Mana bisa dia kayak kita, Pa. Juan tuh cuman bisa balapan sama mabuk-mabukkan."

Sepanjang hidup Juan, cowok itu tak pernah ingin dilahirkan jika pada akhirnya hanya akan diremehkan. Jika saja ia bisa mendapat satu kesempatan meminta pada Tuhan, ia ingin menyerah pada takdir.

"Bang, gue ini adek kandung lo apa bukan?"

Embusan napas kasar keluar dari bibir tanpa rona itu. Matanya memandang Xabiru dengan tatapan tajam. Netra itu terlihat jelas memancarkan luka, Xabiru tahu.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang