Mama Liana Tersayang

2.1K 139 14
                                        

Suara gaduh terdengar di dalam sebuah kamar mandi disertai oleh gemericik air. Juan, cowok itu baru saja menjalani kemoterapi beberapa jam lalu. Dan kini ia telah pulang dari rumah sakit. Namun efek dari pengobatan itu masih ia rasakan hingga sekarang.

Cowok itu tak berhenti muntah, padahal yang keluar hanya air. Bahkan kini tenaga Juan semakin habis karena terus bolak-balik ke kamar mandi hingga tak mampu untuk melangkah kembali ke ranjang.

"Capek banget, capek."

Tangan Juan memukul kasar perutnya. Tangannya mengepal erat. Mualnya terus membuat Juan sulit untuk beristirahat. Setiap kali ia berbaring, hasrat ingin muntah datang. Belum lagi kepalanya yang seolah ingin pecah.

"Tuhan, capek."

Juan menjambak rambutnya sendiri. Namun yang ia dapati adalah rambutnya rontok. Pancaran matanya menyendu. Cowok itu semakin terisak. Juan benci ketika mahkotanya harus hilang.

"Kakak, sini gue bantu."

Jevan berusaha untuk tetap tegar. Saat mendapati kakaknya yang kesakitan dalam kamar mandi, cowok itu tak kuasa menahan rasa sesaknya. Tak ada seorang adik pun yang kuat nelihat kakaknya terluka.

"R-Rambut gue Jevan."

Juan menunjukkan helaian rambutnya yang ada di tangannya yang gemetaran. Jevan selalu paham dan ingat, sang kakak memang sangat menjaga mahkotanya itu. Namun kini semua harus direlakan karena penyakit yang lancang bersarang di tubuhnya.

"Nanti kalau udah sembuh, pasti tumbuh lagi, Kak."

Meski kesulitan mengingat Juan benar-benar lemas, namun akhirnya Jevan mampu untuk membawanya ke atas ranjang. Wajah kakaknya kini makin memucat seperti tubuh tanpa aliran darah.

"Pusing."

Jevan yang tak tega pun mencoba memijat kening Juan. Kata dokter, efek dari kemoterapi ini memang tak ada obatnya. Pasien hanya bisa menghadapi. Biasanya butuh satu hingga tiga hari untuk tubuh kembali fit.

"Mama mana?"

"Tadi sih katanya mau belanja dulu, Kak. Dianter Papa."

"Mau Mama. Mau dipeluk Mama. Suruh Mama cepetan pulang, Van."

Jevan bingung sendiri. Tak biasanya Juan merengek seperti ini. Biasanya sekalipun Juan sakit dan tak ada sang mama, cowok itu tak akan bersikap seperti ini.

Melihat sang kakak terus memohon padanya, mau tak mau ia mengangguk setuju. Cowok itu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kedua orang tuanya. Alisnya berkerut saat panggilannya hanya dibalas oleh operator seluler.

Nomor yang Anda tuju sedang tak bisa dihubungi ...

Entah kenapa perasaannya jadi tak enak. Apalagi mengingat kedua orang tuanya yang sudah cukup lama pergi berbelanja. Pandangannya tertuju pada sang kakak yang menatap kosong plafon kamarnya. Tatapan Juan seolah tanpa kehidupan.

"Bentar ya, Kak. Kayaknya lagi di jalan. Belum diangkat."

Jevan menaikkan selimut yang membungkus tubuh sang kakak. Menunggu selama beberapa saat hingga Juan telah kembali terlelap. Cukup lega karena Juan tak lagi merasakan sakit. Lantas cowok itu keluar dari kamar Juan saat sebuah nomor asing tertera pada layar ponselnya.

+62818493 --- calling ...

***

Kehidupan keluarganya layaknya ombak. Pasang dan surut. Penuh rintangan. Jevan selalu berdoa agar keluarganya bahagia. Namun cobaanlah yang justru datang. Memaksa keluarganya untuk menjadi lebih kuat. Tuhan begitu menyayangi keluarganya, makanya diberi cobaan agar lebih kokoh lagi pondasinya, begitulah isi hati Jevan.

SERPIHAN LUKA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang