Disclaimer: Aku tulis bagian kelulusan berdasarkan apa yang aku browsing tentang salah satu sistematika ngumumin kelulusan.
♡❀★
Juan Nathanael.
Nama indah yang Liana berikan saat putranya lahir. Nama yang bermakna hadiah Tuhan yang sangat berbakat dan selalu berpikir optimis. Namun Juan merasa sang mama memang salah memberinya nama. Setidaknya itu yang sempat ia pikirkan. Ia tak punya prestasi, pernah tinggal kelas 2 kali, tak punya bakat apa pun selain balapan.
"Mama, buat apa Mama pertahanin aku? Aku nggak seperti arti dari nama yang Mama kasih. Udah bego, penyakitan pula. Harusnya Mama gugurin aja aku waktu itu."
"Kamu itu berharga, Nak."
Liana mengulurkan kedua tangannya untuk mendekap sosok rapuh kesayangannya yang kini sedang ada di titik terendahnnya. Putranya baru saja menjalani kemoterapi pertamanya. Dan segala rasa sakit kompak menyerang seluruh tubuhnya. Nyeri, mual, pusing telah Juan rasakan.
"Setiap anak lahir untuk menjadi penglipur lara buat orang tua. Termasuk lahirnya kamu buat Mama."
Tak ada balasan dari sang putra. Dapat ia rasakan Juan masih terisak dalam rengkuhannya. Efek kemoterapi itu memang masih ada sampai detik ini. Sangat wajar Juan merasa muak.
"Mama selalu suka kamu main musik. Apalagi pas kamu main gitar. Itu kamu punya bakat. Prestasi nggak harus di bidang akademik kayak kedua saudara kamu."
Juan memang bisa memainkan beberapa alat musik, bahkan cowok itu mempunyai vocal yang khas. Ia sempat menjadi penyanyi gereja saat ada pelayanan ketika masih duduk di bangku SMP.
Cowok itu hanya diam saja saat sang mama terus menasehatinya. Nadanya sangat lembut hingga Juan kembali merasa lebih tenang.
"Balapan juga itu juga bakat loh. Kalau nanti kamu udah sembuh, kamu bisa tekuni. Asal balapan legal di sirkuit, bukan di jalanan."
Juan tersenyum pedih dalam pejamnya. Bahkan rasa optimis belum juga tumbuh dalam dirinya. Namun cowok itu mengangguk saja demi menjaga perasaan Liana.
Dan kini, di sinilah Juan berada. Duduk di samping teman-temannya seraya menunggu pengumuman serempak lewat online. Sebenarnya siswa tak diharuskan datang ke sekolah, hanya saja setelah ini kelas Juan akan mengadakan makan bersama. Juan tadinya ingin menolak, karena rasa pesimis akan tak lulus itu ada. Namun teman-teman yang kini mulai bersikap baik memaksanya ikut dan memberikan dorongan semangat.
Juan diam. Kedua tangannya saling bertaut dengan mata terpejam. Batinnya tak berhenti merayu Tuhan untuk kelulusannya.
Ya Tuhan, Juan mohon, untuk kali ini, semoga Juan lulus. Nggak apa-apa nilai pas-pasan, asal lulus. Juan nggak mau malu-maluin mama dan papa. Umur Juan udah mau 20 tahun, Juan takut enggak lulus.
Doanya yang tulus tanpa sadar berhasil meluruhkan air matanya. Sudah satu jam ia duduk di sana. Wali kelas akan meminta para siswanya untuk mengirim chat pribadi dengan menyebutkan nama lengkap dan nomor ujian sebentar lagi. Begitu arahan yang Juan baca.
"Guys, udah boleh chat Pak Agus!"
Jantung Juan seolah ingin merosot ke perut saat waktunya mengetahui tentang hasil ujiannya. Sekali lagi ia merayu Tuhan untuk mengabulkan doa-doanya.
Pesan telah ia kirim pada Pak Agus. Matanya kembali terpejam. Kedua tangannya yang saling bertaut bahkan gemetaran. Hingga saat ponselnya bergetar, Juan sekali lagi mengembuskan napas pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SERPIHAN LUKA [END]
Teen FictionNyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia. Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
![SERPIHAN LUKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/360518907-64-k747535.jpg)