Nyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia.
Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
Satu bulan sudah waktu terlewati. Juan harus berjuang untuk lulus di kala ia harus terbiasa dengan rasa sakit yang datang tak kenal waktu. Tawa remeh Xabiru, tatapan kasihan dari teman sekelasnya, dan ucapan sarkas sang papa tentang kebodohannya semakin memicu semangatnya untuk berusaha lulus. Setidaknya ia bisa lulus SMA walau dengan nilai pas-pasan.
Apa bisa kamu lulus? Umur kamu udah 19 tahun. Kalau kuliah, belum tentu kamu lulus.
Juan mengabaikan ucapan sang papa dan tetap fokus mengerjakan tugas Bahasa Indonesianya. Sebenarnya ini adalah tugas kelompok. Namun tak ada satu pun teman sekelasnya yang mau menerimanya. Pak Agam -- guru Bahasa Indonesianya sempat ingin membantu Juan memilih kelompok, namun cowok itu menolak.
Gue nggak mau pas lagi ngerjain tugas, lo pingsan. Mending lo ngerjain sendiri di rumah. Biar kalau udah capek, lo bisa langsung istirahat tanpa ngerepotin temen-temen.
Juan tersenyum miris. Padahal meski dulu kecerdasannya di bawah rata-rata, banyak yang ingin mengajaknya satu kelompok.
"Sinopsis Petualangan Sherina."
Juan kembali melanjutkan tugasnya menganalisis film Indonesia. Seharusnya jika berkelompok, Juan pasti hanya akan mengerjakan beberapa bagian saja. Namun ia harus menelan rasa kecewa. Cowok itu masih tetap berusaha mengerjakan tugas Bahasa Indonesianya sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Padahal tugas itu dikumpulkan minggu depan, namun Juan tak mau menunda-nunda. Dua minggu lagi sudah memasuki masa ujian sekolah, ujian praktek, dan puncaknya Ujian Nasional.
"Kak, udahan ya. Ini udah jam 11 malam."
Jevan berdiri di belakang Juan yang masih sibuk menggoreskan penanya di atas kertas. Cowok itu tahu sang kakak sudah sangat mengantuk.
"Bentar lagi, nanggung."
Jevan berdecak. "Ya udah, 10 menit lagi harus tidur. Gue balik kamar lo, lo udah harus tidur. Kalau enggak, lo gue aduin ke mama."
Juan memutar bola matanya malas. Namun tak ayal ia tetap mengangguk. Lagipula tubuhnya telah meronta untuk diistirahatkan. Bahkan beberapa kali ia menguap.
Melangkah keluar dari kamar sang kakak, nyatanya Jevan tak benar-benar pergi. Bibirnya terkekeh pelan saat belum ada 10 menit, sang kakak sudah terlelap di depan meja belajarnya. Dalam diam ia memotret kakaknya yang tengah belajar, lantas mengirimkannya pada Xabiru.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pesan yang ia kirim berakhir hanya dibaca. Mungkin di kamarnya, pikiran sang kakak tengah mengalami pergolakan batin. Memilih abai, ia memasukkan ponsel di saku celananya. Kakinya dibawa melangkah masuk ke kamar Juan.
"Kak Juan ...,"
Matanya berkaca-kaca saat melihat tugas sekolah yang sejak tadi membuat Juan tak mau beristirahat. Jevan tahu tugas ini seharusnya dikerjakan secara berkelompok.