Nyatanya kebahagiaan yang Juan genggam hanyalah semu. Topeng yang mereka pakai akhirnya terlepas hingga membuat Juan merasa dikhianati oleh dunia.
Spin Off dari cerita MENDEKAP LARA [Bisa dibaca terpisah]
"Juan, lo bikin adek gue kehilangan masa depan, gue bikin lo kehilangan orang tua lo."
Dendam memang bisa membutakan mata hati manusia. Bahkan apa pun sanggup mereka lakukan demi menuntaskan rasa sakit hatinya. Tak terkecuali Bara. Saudara kandung Brian yang kini harus mendekam di balik jeruji besi akibat perbuatannya.
Cowok itulah yang merencanakan pembunuhan ini. Dengan lihai, Bara telah berhasil memutus rem mobil Arlan saat keadaan tempat parkir sepi. Dan berakhirlah sepasang suami istri itu harus dirawat di rumah sakit.
"Tapi kayaknya lo belum tahu kalau ortu lo masuk rumah sakit?"
Bara melihat dari kejauhan hanya ada Jevan dan Arlan yang menunggu Liana di depan ruang ICU. Tak ia dapati presensi Xabiru dan Juan. Balas dendamnya tetap belum tuntas jika belum melihat kehancuran Juan.
"Kira-kira, gimana reaksi Juan ya, pas tahu kalau ortunya kecelakaan? Dia kan penyakitan. Pasti langsung kumat."
Bara mendengar banyak cerita tentang Juan. Tentang Juan si the most wanted sekolah, tentang Juan si ketua geng, tentang Juan yang selalu menang ketika balap liar, dan tentang kejatuhan terdalam Juan.
"Biarin dulu lo santai, Juan. Tapi secepatnya gue bakal kasih kejutan."
Bara menyeringai. Ada rencana licik lain yang telah ia persiapkan sebagai akhir dari balas dendamnya. Dan Bara yakin aksinya sejauh ini tak mampu tercium oleh pihak berwajib.
***
Xabiru duduk dengan gelisah di depan televisi yang menyala. Raganya memang di rumah, namun pikirannya terus tertuju ke rumah sakit di mana kedua orang tuanya dirawat. Satu jam lalu Jevan mengabarinya bahwa sang papa tak mengalami luka serius. Berbanding terbalik dengan mamanya yang sampai saat ini masih dalam keadaan koma.
"Bang, kenapa mama sama papa belum pulang? Jevan juga ke mana?"
Xabiru terkesiap. Pandangannya mengarah pada sang adik yang baru saja mendaratkan diri di sampingnya. Jantungnya seolah dipaksa turun sampai ke perut saat kini Juan menatapnya dengan pancaran penuh tanya.
"T-Tadi mama dan papa telepon, Ju. Katanya mereka harus pergi lagi ke luar kota. Nggak sempet pulang."
Alis Juan terangkat sebelah. "Urusan apa?"
Xabiru merutuk dalam hati saat ia makin kesulitan menjawab pertanyaan Juan. Butuh beberapa detik hingga ia akhirnya mampu mendapat alasan yang cukup logis.
"Cabang resto mama ada problem. Jadi mereka harus ke sana."
Syukurlah sang adik percaya begitu saja. Mungkin karena efek lelah pasca kemoterapi, Juan menjadi agak susah untuk fokus hingga tak menyadari kegugupan yang Xabiru alami.
"Ju, lo istirahat di kamar aja. Di sini dingin."
Tentu Xabiru peka. Sejak tadi adiknya memang terus mengusap-usap tangannya demi meredam hawa dingin yang memeluk tubuh kurus itu.
"Nanti, Bang. Minimal sampai Jevan pulang."
Xabiru mengumpat dalam hati melihat kekeraskepalaan Juan. Ternyata baru cowok itu sadari, Juan memang mewarisi sifat keras kepala Arlan.
"Tapi Jevan belum tentu malam ini pulang deh. D-Dia kan nginep di rumah temennya. Mending lo langsung tidur di kamar."
Juan terpekur sejenak. Sebenarnya ia merasa aneh melihat sikap Xabiru sejak tadi. Sang kakak selalu terlihat melamun, bahkan tak fokus saat mengerjakan sesuatu. Contohnya saat Xabiru membuatkannya susu hangat. Bukan manis yang Juan rasakan, justru rasa asin yang menyapa indera pencecapnya. Rupanya Xabiru memasukkan garam ke dalam gelas. Xabiru seolah tengah memikul beban yang berat. Namun Juan selalu mencoba menepis perasaan negatifnya. Ia pikir mungkin Xabiru tengah pusing memikirkan tugas kuliahnya.
"Nanti dulu deh, Bang. Lagian ini masih jam 8 malam."
Juan melirik jam yang kini telah menunjukkan pukul 8 malam. Mungkin ia akan di sini dulu. Terlalu membosankan selalu ada di kamar.
"Terserah deh."
Menghadapi keras kepalanya Juan memang perlu kesabaran tinggi. Cowok itu lantas melepaskan jaket miliknya untuk menyelimuti sang adik.
"Pake, nggak boleh nolak."
Juan yang mendengar nada bicara tegas Xabiru pun akhirnya menurut. Cowok itu merebahkan diri di atas sofa dengan mata menatap televisi yang kini tengah menampilkan acara talkshow.
Entah kenapa perasaannya sejak tadi kalut. Namun ia tak menemukan jawaban atas hatinya yang terbelenggu kekalutan.
Perasaan dalam dirinya selalu merindukan mamanya. Juan ingin memeluk wanita tercintanya selama mungkin.
Lama terjebak dalam keheningan, mata itu akhirnya terpejam. Juan yang memang kini mudah lelah bisa terlelap dengan mudah. Dan Xabiru melihat bagaimana bola kembar itu menutup.
Maaf udah boongin lo, Juan. Xabiru membatin.
Cowok itu memilih memindahkan Juan ke kamar. Terlelap di sofa hanya akan membuat sang adik tak nyaman. Hingga saat Juan berhasil ia rebahkan di ranjang, atensinya beralih pada layar ponsel sang adik yang menyala.
Alisnya berkerut saat sebuah nomor asing mengirimi Juan pesan. Katakanlah Xabiru lancang. Hanya saja melihat ada nomor yang tak disimpan sang adik membuat Xabiru cukup waswas.
"Maaf, Ju. Gue terpaksa buka chat lo."
Beruntung ia tahu kata sandi ponsel Juan. Cukup mudah karena adiknya hanya memakai tanggal lahirnya sebagai kata sandi.
"What??"
Mata Xabiru membola saat berhasil melihat isi pesan dari nomor asing itu. Bahkan jantungnya seakan ingin copot.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Xabiru merasa lega dan takut muncul bersamaan di hatinya. Beruntung Juan tak sempat membacanya. Pesan itu baru saja masuk ke ponsel sang adik. Tangannya dengan gesit menghapus pesan misterius itu sebelum Juan membaca. Sebelumnya ia sudah memblokir nomor asing itu.
"Siapa pun lo, gue nggak akan tinggal diam kalau sampai lo macem-macem sama Juan."
Xabiru mengembuskan napas pelan, mencoba menghalau perasaan rumit yang membelenggu hatinya. Peneror itu bisa saja mengirimi Juan pesan lain.