Tangan kekarnya bergerak mengetuk pintu. Tidak lama kemudian terlihat bocah lelaki berusia 6 tahun berdiri di hadapannya. Tatapan bocah lelaki itu sangat tajam menghunus. Tatapan yang mengingatkannya pada sosok wanita yang memiliki peran penting dalam hidupnya.
"Onty mu mana?" Tanya Dicky pada bocah lelakli itu.
"Mau apa? Kenapa nyariin Onty?" Sengit bocah itu.
"Dicky?" Sambar Sisca yang baru saja tiba dan menyaksikan kedua insan beda generasi itu saling bertukar kata.
"Violan mana?" Tanya Dicky.
"Masih di atas, tungguin di dalam aja" ucap Sisca mempersilahkan Dicky masuk.
Ketika mereka sudah duduk di ruang tamu, Sisca langsung menyuruh buah hatinya untuk memanggil Violan. Bocah lelaki itu terlihat berlari penuh semangat menuju ke kamar onty-nya.
Sementara itu, Sisca dan Dicky kini tengah mengobrol santai selagi menunggu Violan. Tidak lama, Varrel terlihat menuruni tangga dengan wajah setengah terlelap. Jelas sekali suami Sisca itu baru bangun dari tidur nyenyaknya. Dia bisa memakhlumi, Varrel jelas sangat sibuk. Sehingga pria beranak satu itu akan memanfaatkan waktu weekend untuk istirahat penuh seperti saat ini.
Ketika netra Varrel tidak sengaja menemukan sosok dicky, dia segera berusaha menyadarkan diri. Berikutnya dia mengusap kasar wajahnya lalu menyapa Dicky dan ikut bergabung dengan kedua sosok tersebut.
Walau masih terlihat mengantuk, Varrel masih terkadang menanggapi ocehan kedua orang itu. Namun, kesadarannya seakan di paksa kembali ketika suara teriakan Violan menggema di penjuru kediamannya. Varrel lantas berbalik dan menemukan buah hatinya berlari menuruni tangga dengan wajah ceria. Dia tebak, anaknya itu berhasil mengusili Onty-nya.
Dengan sigap, Varrel mendekati putranya lalu menggendongnya guna ikut bergabung dengan Sisca dan Dicky. Terlihat varrel menasihati putranya untuk tidak menganggu Violan. Dia sadar adiknya itu berbeda.
Jikalau Violan yang dulu, Varrel tak akan menasihati putranya jika mengganggu Violan. Jelas Violan akan meladeni Arya dengan segala tingkah tak terduganya. Tetapi Violan yang sekarang memiliki tubuh yang lemah, karena itu dia takut putranya itu akan membuat Violan kesakitan.
Violan memang sering bermain dengan Arya. Sejak Arya masih kecil, Violan sudah dekat dengannya sehingga Arya pun sering mencari perhatian pada Violan. Arya menyayangi Violan. Namun bocah itu masih memiliki pemahaman kekanakan yang menolak peduli akan kondisi fisik Violan.
Andai saja Arya tau kalau Violan gampang kelelahan. Andai saja Arya bisa memahami kenapa Violan butuh lebih banyak waktu istirahat. Jika saja Arya sadar akan Violan yang sering Pingsan karena memaksakan diri. Pasti putranya akan sedih sekali. Sesayang itulah Arya pada Violan. Namun sekali lagi perlu ditekankan, Arya belum mengerti akan itu semua. Sehingga masih perlu mendapatkan pemahaman akan kondisi Violan dari orang tuanya.
Tidak lama sosok yang ditunggu pun muncul. Violan terlihat cantik dimata Dicky. Gadis cantik itu langsung mengecup pipi Arya dan berpamitan.
Setelah kedua insan itu keluar, Sisca beranjak menyingkap gorden. Mengintip kedua sejoli itu yang diikuti sang suami. Mereka berdua memperhatikan bagaimana kedua sejoli itu kembali berusaha mengakrabkan diri.
"Kenapa?" Tanya Varrel.
"Lucu aja, mereka berdua kayak abg padahal umurnya udah 30 tahun"
Varrel tertawa mendengar penuturan istrinya. "Biarin aja, mereka lagi tahap pdkt"
"Harusnya udah nikah, malah ngulang tahap awal" celetuk Sisca yang membuat Varrel tak hentinya tertawa.
Memang benar adanya, Violan dan Dicky tampak seperti remaja yang tengah dilanda asmara. Sikap malu-malu mereka membuat semuanya tampak menggemaskan. Padahal jika insiden 7 tahun lalu tidak terjadi, bisa saja mereka telah menikah dan memiliki anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Biarkan Waktu Bermain
Romance"Aku mencintaimu" Kalimat yang aku ucapkan dengan harapan membuahkan hasil yang aku mau. Namun, semua ternyata hanya tipuan, nyatanya kau tak mencintai diriku. Hingga semuanya berubah. Seakan waktu merestui, memutar balikkan keadaan. Kini kau mendam...
