CHAPTER THIRTY EIGHT

219 5 0
                                        


"Teringat semua cerita orang, tentang riwayatku. Kata mereka diriku, selalu di manja. Kata mereka diriku, selalu di timang..."
-Melly Goeslaw-

*
*
*
Happy Reading....

Raihan menatap pakaiannya yang sudah terkotori oleh darah. Ia menghela napas, menunggu kabar dari Dokter yang sedang menangani mantan kekasihnya.

Andai saja tadi ia memaksa gadis itu untuk ikut dengannya, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Hatinya semakin berdenyut nyeri tatkala mengingat darah yang bercucuran di wajah Zeyva.

Luka luka yang begitu terlihat jelas di sekujur tubuh gadis itu.

Kini, di depan ruang Unit Gawat darurat hanya ada dirinya dan Kenzo. Sudah ada tiga puluh menit berlalu, namun Dokter yang menangani Zeyva masih belum keluar.

Tadi, sebetulnya Raihan sudah menyuruh Kenzo untuk pulang, namun cowok itu menolak.

Tak lama, seorang Dokter wanita keluar, sontak hal itu membuat Raihan dan Kenzo berdiri.

"Keluarga Zeyva?"

Tangan Raihan terangkat. Namun dokter itu menggeleng. "Saya membutuhkan keluarga kandung Zeyva."

Raihan menatap Kenzo dengan bingung. Bagaimana ini?

"Keluarga Zeyva belum datang, Dok. Untuk sementara saya dulu yang menjadi wakilnya," jelas Raihan.

Dokter Vanya menghembuskan napas. "Huftt..., jadi begini, keadaan Zeyva saat ini kritis. Zeyva mengalami pendarahan pada bagian kepalanya. Selain itu, ternyata Leukimia nya juga sudah memasuki stadium tiga, kemungkinan Zeyva untuk sadar sangat kecil. Keadaan Zeyva sangat lemah untuk saat ini, tadi juga saat saya menggantikan baju untuknya, banyak sekali luka luka memar di seluruh tubuh. Apa keluarga Zeyva tidak baik baik saja?"

Raihan menggigit bibir bagian dalamnya. Sementara Kenzo, dia mengernyitkan salah satu alis. Leukimia? Sejak kapan teman kekasihnya itu mengidap penyakit separah itu? Mengapa ia baru mengetahuinya.

"Saya benar benar meminta tolong sama kamu, tolong jaga Zeyva dengan sangat benar. Kalau keluarganya datang segera hubungi saya." pinta Dokter Vanya yang diangguki oleh Raihan.

Usai punggung Dokter wanita itu benar benar menghilang dari penglihatannya, Kenzo menatap Raihan dengan sorot mata yang penuh pertanyaan.

Sebenarnya apa yang terjadi pada kehidupan Zeyva, ada apa dengan keadaan keluarga gadis itu, dan sejak kapan Zeyva mengidap Leukimia.

"Lo tau semuanya, Rai? Sejak kapan Zeyva punya leukimia? Udah stadium tiga, loh, itu udah parah banget. Pantesan tadi gue liat dia kesakitan banget pegangin kepalanya."

Raihan tertegun mendengar ucapan yang keluar dari mulut temannya. Ia menjadi merasa bersalah atas semua ini, Raihan rasa, akibat ia tidak menjaga gadis itu, sekarang gadis itu menjadi seperti ini.

Apalagi, saat ia mendengar bahwa tubuh Zeyva di penuhi oleh luka luka memar, apa itu luka dari Mahen? Siapa lagi jika bukan perbuatan pria itu.

"Iya, Zo. Sakit banget kalo, Lo, tahu kehidupan Zeyva. Gue jadi ngerasa bersalah sama dia, gue harusnya jaga dia, bukannya malah kayak gini."

Kenzo tersenyum tipis. Ia menepuk pundak temannya. "Ini bukan salah Lo. Emang udah takdir dari Tuhan. Kan elo yang ngajarin gue buat ikhlas,"

Raihan mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil. Lalu kemudian ia menatap Kenzo yang menundukkan kepalanya.

Jika dilihat Raihan, Kenzo pun sepertinya masih sedang bersedih. Kepergian kekasihnya yang begitu tiba tiba, mampu membuat hati Kenzo porak poranda. "Mending lo balik ke Pantai, Zo, buat ngurus jenazah Amy sama keluarganya. Sekarang, kan, yang jadi wakilnya cuma lo. Atau enggak, mending lo pulang buat istirahat, jangan terlalu kepikiran. Optimalkan kinerja pikiran lo."

RUNNING TIME (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang