CHAPTER NINETEEN

98 7 0
                                        

RUNNING TIME

Kedua matanya sedikit demi sedikit terbuka, menelisik dimana ia sekarang berada. Lagi lagi, ia berada disana. Tempat serba putih yang selalu ia benci seumur hidupnya.

Di samping kirinya, terdapat Amy, dan di bagian Sofa, ia bisa melihat Raihan serta Lyona yang sudah tertidur pulas.

Saat Zeyva belum sadar, pasti Raihan menghubungi mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul Satu malam. Hari spesialnya telah usai, orang tuanya tidak merayakan, tidak pula mengucapkan.

Padahal, itu bukanlah yang ia inginkan.

Air matanya mengalir dari mata kanan dan kirinya. Sakit, tentu saja. Zeyva rasa, kini, hubungannya dengan kedua orangtuanya mulai merenggang.

Tak ada senyum hangat Ayah dan Ibu yang tercipta di hidupnya. Mereka telah asing. Mereka seperti tidak ada hubungan keluarga yang erat.

Zeyva menepis air mata yang terus membasahi pipi dengan tangan Kanannya, yang tidak di Infus.

"Kenapa Zeyva?" Amy mengucek matanya sembari bertanya.

Mendengar itu, Zeyva tersentak. Ternyata, sahabatnya sudah bangun.

Zeyva menggeleng. "Nggak papa, kok." Jawab nya menyakinkan.

Namun, bukan Amy jika langsung percaya dengan jawabannya. "Nggak mungkin Lo nggak papa, Zey," Amy tersenyum dengan tangan yang terus mengusap ngusap tangan Zeyva.

"Capek, ya? Lo bisa cerita sama, gue, Zey." Sambung nya.

Zeyva mencoba untuk duduk, walau kepalanya masih terasa sangat berat. Baru beberapa detik, semuanya kembali terasa berputar putar. Namun, ia tetap kukuh untuk duduk.

"Tiduran aja, Zey." Ujar Amy menyeringai.

Zeyva menggeleng pelan.

"G--gue, kangen Mamah sama Papah yang dulu, My." Ungkap nya dengan nada yang bergetar.

Amy tersenyum. Ia selalu merasakan sakit ketika mendengar sahabatnya berbicara dengan nada seperti itu.

Tangis Zeyva kembali pecah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sementara Amy, ia hanya bisa mengusapnya dari belakang.

"Gue ngg--nggak bisa t--tanpa, mereka, My."

Hati Zeyva terasa seperti sedang disobek sobek. Begitupula dengan Amy, hatinya terasa tergores atas ucapan itu.

"Gue, yakin, Lo, bisa. Percaya sama gue, gue selalu ada dibelakang Lo."

Ucapan Amy memang baik, tapi, Zeyva memanglah Zeyva, sekali ia Rindu, ia pasti akan terus rindu.

Seketika bayang bayang wajah kedua orang tuanya teringat di kepala. Terselip sebuah kejadian dimana mereka bertengkar didepannya.

Saat itu, dirinya tengah bermain didalam kamar. Usianya masih terbilang sangat kecil, Zeyva yang berusia enam tahun, dan adiknya yang masih berusia tiga tahun.

Pertengkaran hebat terdengar oleh Zeyva. Hal itu, menjadikan ia sedikit trauma akan Keluarga.

"Ini semua salah kamu! Kamu berani berselingkuh dengan pria itu! Kamu lebih menginginkan harta nya, Hah?!" Bentak Mahen pada Istrinya, yang telah berselingkuh dibelakangnya.

Asya sendiri tak mau kalah, ia menatap Tajam Mahen. "Introspeksi diri lebih dulu Mahen! Kalau kamu bertanggungjawab atas keluarga kamu, aku nggak bakal kayak gini. Kamu selalu mementingkan diri kamu sendiri!"

Pandangan Asya pada Mahen benar benar Tajam, sampai tak bisa diartikan kemarahan nya. Hatinya sangat berkecamuk, antara Marah bercampur sedih yang saat ini ia rasakan.

RUNNING TIME (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang