RUNNING TIME
"Ih, geli tauu,"
Raihan tertawa melihat Zeyva yang menggeliat akibat ia menggelitiki telapak kaki nya.
Ia senang bisa melihat Zeyva tertawa lepas begitu saja karena ulahnya, walau itu sebenarnya tidak boleh. Tapi setidaknya, ia bisa menghilangkan rasa sedih pada diri kekasihnya.
Tadi pagi, setelah Raihan bangun tidur, ia melihat Zeyva dengan Amy tengah berbincang-bincang, dengan kedua mata Zeyva yang memerah.
Ia sudah bisa menduga, pasti semalam gadis itu menangis.
"Udah udah, capek, perut aku sakit," ujar Zeyva memegangi perutnya.
"Iya iya, nanti kamu nggak doyan makan juga."
Raihan menatap sekeliling ruangan nya. Suhu disana terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Kini, di ruangan itu tersisa ia dan Zeyva.
Tadi pagi, Amy diperintah oleh Zeyva untuk sekolah, sedangkan Lyona, ia berpamitan pulang untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang Ibu dan tulang punggung keluarga.
Satu yang menjadi alasan mengapa Zeyva tidak ingin merepotkan keluarga Raihan, mereka bersusah payah mencari uang, dan kini, malah ia yang menghabiskan.
Kepalanya terasa pusing ketika memikirkan hal itu.
"Kamu belum minum obat, ya?" Raihan bertanya saat melihat sebuah kresek putih diatas nakas.
Zeyva menggeleng. "Belum."
"Kenapa belum, sih,"
"Lupa," balas Zeyva menampilkan senyum kecil.
Bohong, sebenarnya ia sengaja untuk tidak meminum obatnya. Sejak awal ia mengetahui penyakitnya, yang ia pikirkan hanya untuk pergi, pergi, dan pergi.
Sejak awal, dihatinya tidak pernah ada kata pengobatan. Jika bukan karena orang orang terdekatnya, Zeyva sudah pasti mengakhiri hidupnya sendiri.
Lalu, apa tujuan Zeyva berjualan jika tidak untuk melakukan pengobatan? Zeyva berjualan karena tidak mau merepotkan orang orang disekitarnya, ia selalu menyusahkan mereka.
Ia pun berjualan karena tidak mau merepotkan sahabatnya, Amy selalu menyuruh Zeyva untuk Kemoterapi, padahal Zeyva tidak mempunyai uang.
Dan Amy pun bermuatan untuk membayarkan, tapi Zeyva menolak. Dan lebih memilih untuk bekerja sebagai seorang pedagang cupcake.
Zeyva melihat Raihan yang telaten menyiapkan obat obatan yang akan ia minum. Dapat terlihat, bahwa Raihan benar benar ingin ia sembuh.
Bahkan saat mendengar Zeyva mau melakukan Kemoterapi, Raihan segera menemui Dokter Vanya untuk menyetujui pengobatan Zeyva.
"Nih, diminum. Jangan lupa lagi."
Zeyva mengangguk. Ia menerima beberapa obat yang Raihan beri.
Disisi Raihan, ia merasa sakit saat melihat Zeyva meminum satu persatu obat yang ia kasih. Pasti sakit menjadi gadis itu.
Walau bisa dibilang, kedua orang tua Zeyva masih lengkap, tapi mereka tidak bisa membahagiakan anak anaknya.
Raihan merasa sangat beruntung, walau Ayahnya sudah tiada, ia masih bisa merasakan kasih sayang orang tuanya.
Zeyva, gadis yang apa apa harus sendiri. Sedih sendiri, sakit sendiri, bangkit sendiri, berjuang sendiri. Tak ada rangkulan sama sekali dari kedua orangtuanya.
"Ngapain liatin nya kayak gitu?"
Raihan terkekeh pelan. "Kenapa emangnya? Nggak boleh? Soalnya pacar aku cantik banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
RUNNING TIME (SELESAI)
Fiksi RemajaSingkat saja, cerita ini hanya mengisahkan tentang seorang gadis perempuan yang selalu mengharapkan kebahagiaan itu datang. Segala cara pun sudah ia lakukan. Namun nyatanya, yang selalu mendatangi dirinya hanyalah masalah dan kesedihan. Ia selalu be...
