"Seorang Ayah yang baik, tidak akan menggoreskan luka secuil pun pada anak perempuannya."
-Raihandra Yudistira -
*
*
*
*
*
RUNNING TIME
Ia mendudukkan dirinya di depan seorang Wanita berjas putih, yang tengah sibuk dengan beberapa jenis obat obatan.
Perasaan nya sedikit khawatir akan keadaannya yang sedikit memburuk. Tadi, usai pulang dari sebuah Toko Kue milik Lyona, Zeyva merasakan pusing yang cukup menyakitkan.
Dan kebetulan hari ini juga sudah menjadi jadwalnya untuk datang ke Rumah Sakit.
Walaupun ia merasa baik baik saja, dan kambuh beberapa saat, tapi ia juga khawatir jika penyakitnya semakin berlanjut.
"Zivanna Zeyva Elmina." Senyumnya terukir sedikit, ketika Dokter di depannya, menghentikan aktivitasnya.
"Iya, Dokter Vanya. Keadaan saya sekarang gimana?"
Dokter Vanya menatap Zeyva dengan penuh rasa kekecewaan. "Zeyva, maaf. Leukimia kamu berlanjut."
Mendengar itu, hati Zeyva langsung melengos. Sudah ia duga, penyakitnya ini tidak akan sembuh, dan tidak akan pernah sembuh.
Sekeras apapun ia melawannya, kalau ia sendirian, sama saja. Ia akan kalah. Zeyva rasa, lama kelamaan penyakitnya akan menguasai dirinya.
"Tapi tunggu dulu. Kalau kamu sering melakukan Kemoterapi, tidak banyak pikiran, banyakin istirahat, pasti penyakit kamu sembuh. Kita pun pihak Rumah Sakit pasti akan mengutamakan kesehatan pasien."
Zeyva hanya bisa mengangguk kecil, ia menerima uluran plastik berisi obat obatan dari Dokter perempuan di depannya. Sementara itu, Dokter Vanya tersenyum tipis. Sebelum sebelumnya, setiap ia menerima pasien, pasien itu pasti datang bersama orang tua atau keluarga nya saat melakukan kemoterapi.
Tapi tidak dengan gadis di depannya ini. Gadis itu akhir akhir ini selalu pergi ke Rumah Sakit sendirian. Sebenarnya ada apa dengan dia, gadis itu terlalu merahasiakan sesuatu padanya. Padahal, Dokter Vanya sudah resmi menjadi Dokter Spesialis nya.
"Zeyva, kalau saya boleh tahu, sebenarnya ada apa dengan keluarga kamu? Saya tidak pernah melihat kamu datang sama orang tua kamu. Dan satu lagi, dulu saya pernah melihat Ayah kamu nyakitin kamu pas sakit." Kata Dokter Vanya.
Pasalnya, saat itu ia pernah mengobati kepala Zeyva yang terluka akibat pecahan kaca gelas, yang dilempar oleh seorang pria tidak di kenalinya.
Dan ternyata, pria itu adalah Ayah dari gadis itu sendiri. Dokter Vanya mengetahui itu dari Raihan, yang saat itu menjadi saksi kekerasan seorang Ayah pada anak gadisnya.
"Orang tua kamu sudah berpisah?" Tanya Dokter Vanya.
Zeyva sontak terdiam seribu bahasa. Tidak mungkin ia menjawab dengan jujur bahwa itu memang kenyataannya. Ia tidak bisa mengumbar masalahnya begitu saja pada seorang yang baru saja ia kenal.
Walaupun Dokter Vanya sudah sedikit dekat dengannya, tetap saja ia masih mang mang untuk bercerita.
"Saya perihatin sama kamu, Va. Tetap semangat, ya. Masih ada saya, sama teman teman kamu yang bisa menjadi sumber semangat. Jangan pernah mencoba untuk menyerah."
Kepalanya terangkat, menampilkan wajah pucat nya yang tetap cantik. "Makasih, Dokter Vanya. Zeyva nggak akan nyerah, kalo begitu, Zeyva pulang dulu." Pamit Zeyva.
Dokter Vanya mengangguk seraya tersenyum. Ia menatap kepergian Zeyva dengan sendu. Ternyata, banyak orang kuat yang ternyata lemah di kehidupannya.
Zeyva menatap jalanan lurus di depannya. Langkahnya terasa lunglai untuk melanjutkan perjalanan, hari ini, ia tidak memesan taksi ataupun di antarkan oleh Raihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUNNING TIME (SELESAI)
Roman pour AdolescentsSingkat saja, cerita ini hanya mengisahkan tentang seorang gadis perempuan yang selalu mengharapkan kebahagiaan itu datang. Segala cara pun sudah ia lakukan. Namun nyatanya, yang selalu mendatangi dirinya hanyalah masalah dan kesedihan. Ia selalu be...
