Amora melangkahkan kaki memasuki kawasan Biantara High School dengan perasaan dan pikiran yang kacau. Dirinya tidak bersemangat meski hari ini tampak sangat cerah dengan matahari yang terbit dari timur tanpa tertutupi awan. Bahkan dirinya sengaja berangkat lebih siang dan membiarkan Sira untuk berangkat lebih dahulu.
Memasuki ruang kelas tempat dia menempuh pendidikan di kelas 12 ini, moodnya kembali memburuk. Amora buru-buru mengalihkan pandangannya saat tanpa sengaja bertemu dengan mata Anizhar. Gadis itu membisu, melewati meja Anizhar dengan begitu saja. Bahkan selama pelajaran dan saat setiap kelompok maju kedepan untuk presentasi, Amora selalu menghindari Anizhar. Dia akan melihat ke arah lain, enggan untuk melihat raja iblis Biantara itu.
Selama pelajaran berlangsung pun pikirannya berkelana ke tempat lain. Gadis itu kembali teringat akan kejadian kemarin malam. Dimana dirinya yang sedang mengandung telah diketahui oleh sosok Anizhar-raja iblis Biantara.
Orang yang paling haram untuk mengatahui keadaannya itu justru menjadi orang kedua yang tahu akan rahasianya. Entah bagaimana semuanya terjadi.
Setelah berhasil keluar dari kolam renang, Anizhar membawanya menuju kendaraan pribadi pria itu. Bahkan lelaki itu dengan sigap menyuruh supir pribadinya untuk menuju rumah sakit. Selama perjalanan ke rumah sakit itulah Anizhar melontarkan pertanyaan yang sangat dirinya hindari. Dia bertanya akan ayah dari bayi di kandungannya.
Amora tidak tahu ayah dari bayinya dan dia tidak terlalu ingin mencari tahu. Dia bahkan meminta Anizhar untuk tetap diam dan Anizhar menurutinya, dengan syarat mereka harus pergi ke rumah sakit. Untuk apa? Lelaki itu benar-benar memastikan bahwa dirinya sedang hamil.
Amora masih ingat jelas situasi dimana perutnya yang membuncit akhirnya terlihat oleh Anizhar. Bahkan pria itu mendengarkan penjelasan dokter.
"Jangan stress dan lebih banyak istirahat." Itulah wejangan yang diberikan dokter. Sama dengan nasihat biasa yang dia dengar.
Setelah selesai menuntaskan keinginan lelaki itu, dirinya diantar kembali ke kost. Selama perjalanan Amora membisu dan dia keluar mobil itu tanpa berbicara apapun bahkan sekadar untuk mengucapkan terima kasih.
"Mora!"
Amora terlonjak dari temlat duduknya, gadis itu menatap sosok Sira yang entah sejak kapan gekah berada di sampingnya.
"Kita pulang yuk, gue udah izinin lo."
Beberapa lipatan muncul di dahi Amora. "Kenapa?"
"Ga usah banyak tanya, pokoknya yuk balik!" Sira bahkan dengan sedikit terburu-buru memasukkan buku dan kotak pensil Amora ke dalam tas.
"Apan sih, Sir. Pak Yasir bisa marah kalau gue bolos."
Sira menatap Amora dengan ekspresi panik yang ketara. "Udah Aman." Tanpa menunggu persetujuan Amora, gadis itu menarik tubuhnya dengan sekuat tenaga.
Amora mengikuti langkah sang sahabat dengan sedikit susah. Selama mereka melewati lorong, Amora merasakan keanehan. Entah mengapa, dia merasa semua mata mengarah pada dirinya.
"AMORA MAU KEMANA KAMU?!" Suara Pak Yasir menggelegar dari lorong di depan sana. Amora melotot, menghentikan gerakan tubuhnya membuat Sira juga ikut berhenti secara tiba-tiba.
"Pak Yasir nyariin gue! Ngapain sih lo ngajak gue bolos?"
"Abaikan aja Pak Yasir, yang penting kita balik duluan."
Amora lebih takut kepada pak Yasir, guru penanggung jawab murid beasiswa itu tampak sangat marah. Amora pun menjadi was-was.
"Iya pak, saya gak kemana-mana." Ujar Amora begitu Pak Yasir tiba di hadapan mereka. Sementara Sira memelototi dirinya dari samping.
KAMU SEDANG MEMBACA
APRICITY
Fiksi Remaja"Lo hamil tapi gak tahu siapa ayahnya. Bahkan lo ga mikir gimana lo bisa hamil. Kalau ga tolol apa namanya, bego?" ──── Amora Keylani, gadis beruntung yang memperoleh beasiswa prestasi di Biantara High School. Hidupnya yang biasa-biasa saja membuat...
